Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
Tawaran Bara


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Alice terlihat tengah bersiap untuk memulai pekerjaannya, sembari menunggu komputernya menyala dengan sempurna. Alice membaca berkas-berkas yang sekiranya penting terlebih dahulu agar dia selesaikan hari ini.


Bunyi pintu lift berbunyi, terlihat Ken berjalan keluar yang kemudian di susul Bara baru kedua asistennya, Alice yang mendengar langkah kaki mendongakkan kepalanya. Terlihat tamu yang sama saat makan siang kemarin segera Alice berdiri dan memberi salam dengan sopan.


"Selamat pagi, Tuan." Sapa Alice dengan suara lembutnya.


Ken hanya acuh saja namun berbeda dengan Bara maupun Jundi, "Pagi Nona Alice." Jawab Jundi cepat.


Bara yang baru akan menjawab melirik kesal ke arah Jundi, Alice tersenyum melihat Jundi membuat kedua mata Alice terpejam.


"Pagi Alice." Jawab Bara kemudian.


"Pagi Tuan Bara." Kata Alice.


"Panggil Bara saja." Larang Bara kepada Alice.


Ferdy yang mendengarnya tersedak ludah sendiri sehingga membuat dirinya terbatuk-batuk, sedangkan Kenan menolehkan kepalanya ke arah Bara dengan menyipitkan kedua matanya.


"Maaf Tuan, tidak bisa." Tolak Alice.


Alice baru dua kali bertemu Bara tidak mungkin langsung akrab begitu saja, terlebih Bara adalah orang asing yang belum pernah Alice temui sebelum menikah dengan Kenan.


Entah kenapa mendengar penolakan Alice terhadap permintaan Bara membuat Ken menahan senyum yang berusaha terukir di bibirnya.


"Ah, maaf lancang. Baiklah jika begitu Nona Alice." Jawab Bara kikuk.


"Terima kasih, tuan." Kata Alice yang tersenyum lembut ke arah Bara.


"Aish! Kamu terlalu gegabah Bara! Jika begini Alice akan ilfil denganmu dan menjauhimu bahkan kamu bukan typenya...ohh! Tidak tidak, jangan membuat Alice ilfil dengan sikap murahanmu ini." Bara memaki dirinya sendiri di dalam hati.


Jundi yang melihat bosnya mati kutu menahan tawanya bahkan mencubit pantatnya sendiri agar tidak tertawa, Jundi paham betul bagaimana perangai Bara jika sudah jatuh hati kepada wanita maka sikapnya akan bucin se bucin-bucinnya.


"Buatkan kami kopi." Ucap Ken yang langsung berjalan masuk ke dalam ruangannya.


"Baik Tuan Kenan." Jawab Alice sopan.


Bara dan yang lainnya mengikuti Kenan ke dalam ruangannya, padahal pekerjaan Bara sudah menumpuk banyak tetapi malah di perparah dengan bermain ke perusahaan Kenan.

__ADS_1


Alice segera meninggalkan meja kerjanya dan berjalan menuju pantry, mengambil lima cangkir untuk membuat kopi termasuk dirinya. Dengan sabar menunggu satu persatu kopi di seduh menggunakan sebuah alat.


Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar, Alice membuka perlahan. Telihat Ken dan juga Bara tengah berdiskusi dengan kedua asistennya yang duduk tidak jauh dari bos mereka.


Alice berjalan mendekat dan duduk berjongkok karena akan menyajikan kopi, Bara dan Ken duduk tegap agar Alice mudah menyajikan kopinya. Terlihat kedua pria tersebut memandang Alice yang tengah menyajikan kopi di atas meja kaca transparant tersebut.


"Apa di lemarimu tidak ada rok panjang?" Tanya Ken dengan dingin dan wajah datar.


Alice menolehkan kepalanya ke arah Kenan begitu juga lainnya mengalihkan atensi mereka kepada Kenan, "Apa ada yang salah dengan pakaian saya?" Tanya Alice pelan.


"Kamu ingin menggodaku dengan rok satu jengkalmu itu." Jawab Kenan tajam.


Alice langsung berdiri dengan meletakkan nampan yang masih tersisa satu kopi miliknya, "Lihat, ini tidak sejengkal, ini tiga jengkal bahkan di bawah lutut Tuan Kenan." Jelas Alice dengan penekanan kata Tuan.


"Tiga jengkal jika berdiri bagaimana saat duduk, bahkan sejengkalpun tidak ada." Kata Ken yang tidak menerima bantahan Alice.


"Mungkin besok Nona Alice bisa menggunakan celana panjang saja Tuan." Sela Ferdy dengan perdebatan itu.


"Benar, dan Nona Alice mulai besok akan saya jemput." Jawab Bara menyetujui.


Alice terbatuk mendengar ucapan Bara, apa menjemput?


"Maaf Tuan, rumah saya jauh." Jawab Alice lembut.


"Tidak apa-apa daripada kamu datang terlambat." Jelas Bara dengan memasang wajah datar namun sebenarnya wajah memohon.


Sekali llagi Alice melirik ke arah Kenan, sejenak Alice diam dengan otaknya yang bekerja. Dirinya bisa satu waktu di turunkan oleh Kenan seperti dua hari ini, selain itu juga bisa menghemat pengeluarannya naik tukang ijo.


"Bagaimana? Apa kamu takut pada Kenan." Ucap Bara lagi.


"Bagaimana Ken, kamu tidak apa-apakan jika sekertarismu berangkat bersamaku." Tanya Bara kepada Kenan yang seakan sudah tidak sabar mendengar jawaban Alice.


"Terserah dia saja, kenapa harus meminta ijin kepadaku. Memangnya aku peduli dia hanya sekertarisku." Jawab Ken sengit.


"Kamu dengar, Kenan tidak akan memarahimu." Kata Bara kepada Alice.


Ada perasaan sesak di dalam hatinya saat mendengar jawaban dari Kenan, "Baik tuan." Jawab Alice.


Bara mengigit bibirnya dalam karena dirinya merasa berada di tengah hamparan bungan dengan langit yang dihiasi oleh kembang api.

__ADS_1


Alice segera mengambil nampan dan berjalan keluar dari ruangan Kenan tanpa mengatakan apapun. Ferdy yang melihat sorot mata sedih Alice hanya mampu menghela nafasnya pelan.


Bara mengambil kopi miliknya yang masih mengepul, menghirup aromanya dalam-dalam. Menyesapnya secara perlahan seakan tidak rela jika kopi buatan Alice cepat habis.


Sedangkan Ken segera beranjak dari sofa dan duduk di kursi kebesarannya, "Habiskan kopimu dan pergilah." Ucap Ken kepada Bara.


"Hemm." Hanya deheman yang Ken dapatkan karena Bara sibuk menikmati kopi ter enak miliknya.


Alice duduk di kursi dengan kedua tangan yang masih memegang nampan, terlihat sedikit gemetar kedua tangannya. Si*al ini perasaan yang dulu pernah dia rasakan "Tidak Alice kamu tidak boleh jatuh cinta kepada Kenan." Gumam Alice pada dirinya.


...***...


Waktu menunjukkan makan siang, Alice masih larut dalam kesibukannya sedangkan Kenan nampak bersiap-siap untuk makan siang. Ken melangkan mendekat ke arah jendela membuka sedikit gorden yang sengaja dia tutup saat Bara pergi dari ruangannya.


Terlihat Alice sangat sangat sibuk lebih tepatnya menyibukkan dirinya, Ken menghela nafasnya pelan entah kenapa sejak menjawab pertanyaan Bara membuat perasaan Ken merasa sangat bersalah kepada Alice.


Berbeda dengan keadaan di lantai 30, di luar perusahaan Wijaya sebuah mobil mewah berhenti tepat di pintu utama perusahaan. Pintu mobil terbuka, terlihat kaki jenjang berbalut sepatu hak tinggi yang mewah keluar dari dalam mobil.


Rambut panjang yang hitam tertiup angin hingga membuat anak rambut terayun seiring angin yang menerpanya. Dengan rasa percaya diri tinggi, wanita itu berjalan memasuki lobby perusahaan Wijaya dengan anggun dan sexy.


Menggunakan dress yang sangat pas dan ketat pada tubuhnya sehingga membuat lekukan tubuh terlihat, pinggang ramping seperti jam pasir.


"Ada yang bisa kami bantu Nona?" Tanya bagian resepsionis.


Wanita itu membuka kacamata hitam miliknya, "Apakah Pak Kenannya ada?" Tanya Wanita itu dengan suara yang sangat lembut.


"Apakah anda sudah membuat janji?" Tanya resepsionis lagi.


"Belum, aku membawa bekal makan siang dari Tante Citra." Jawabnya


Resepsionis tentu kaget nama menantu dari presider perusahaan di sebutkan, "Ah, maaf Nona. Mari saya antar."


"Tidak perlu, saya bisa sendiri. Jangan hubungi Kenan jika aku datang." Tolak Mourin.


Ya, Mourin tidak menyerah begitu saja. Rencananya sudah tersusun dengan rapi sehingga Mourin tinggal menjalankannya saja terlebih dukungan dari Citra semakin membuat Mourin yakin jika wanita yang menjadi menantu keluarga Wijaya tidak selevel dengan Mourin dan keluarganya.


Mourin berjalan menuju lift yang biasanya di gunakan oleh para eksekutif perusahaan Wijaya dengan membawa rantang mewah di tangan kanannya. Bukan Citra yang membuatkan bekal makan siang, namun Mourin membelinya di restoran hotel bintang lima untuk acara makan siang bersama Kenan.


...🐾🐾...

__ADS_1


__ADS_2