
Happy Reading 🌹🌹
Pintu kamar pribadi Bara terbuka dengan kasar sehingga menimbulkan suara cukup keras, terlihat wajah Bara yang tidak bersahabat tengah menatap tajam dan datar ke arah Jundi.
Gluk
Jundi menelan ludahnya susah payah, "Astaga, apa aku membangunkan singa tidur." Gumamnya dalam hati.
"Tu...."
Bara menaikkan tangan kanannya menandakan jika dirinya tidak ingin mendengar apapun dari Jundi.
Tanpa berkata apapun Bara melangkah keluar dari dalam kantornya. Jundi hanya dapat terpaku dan menyusul dengan cepat.
"Tu... Itu... Hais."
Jundi terbata ingin mengatakan sesuatu kepada Bara namun melihat reaksi Bara yang acuh membuat Jundi menyerah.
Pintu ruangan rapat terbuka hingga menimbulkan suara, membuat Alice dan Ferdy yang sejak tadi mengobrol ringan sembari menunggu Bara menolehkan kepala mereka.
"Tuan." Ucap Ferdy dam Alice bersamaan.
Bara kembali hanya menggerakkan tanganbya untuk keduanua tetap duduk, Alice dan Ferdy hanya diam seperti yang di inginkan Bara.
"Baiklah kita mulai saja." Kata Bara dengan suara deepnya.
Alice segera membuka berkas yang sudah dia siapkan dengan Ferdy dari perusahaan Jundi duduk di sebelah Bara dengan mencatat apa saja hasil rapat hati ini untuk di evaluasi setelah rapat selesai.
Alice terlihat sangat serius membuat Bara takjum karena Alice sungguh berbeda ketika tengah bekerja.
Semua gerak gerik Alice yidak luput dari oandangan Bara, bahkan hingga selesai Alice berbicara.
"Tuan, bagaimana?" Tanya Alice.
"Oh, bagus bagus." Jawab Bara tergagap.
Alice mengulas senyum yang membuat Bara semakin ingin merebut Alice dari sisi Kenan.
"Hari ini kita akan langsung ke lapangan, aku tidak ingin berlama-lama dalam menangani sebuah proyek." Kata Bara kemudian.
"Baik Tuan." Jawab Alice dan Ferdy.
Alice membereskan berkas-berkas kerjasama dibabtu Ferdy, sedangkan Jundi mengirimkan hasil rapat kepada Kenan dan juga Bara.
"Kita akan makan siang dulu sebelum ke lapangan." Kata Bara yang sudah berdiri dari duduknya.
Alice mendongak dan menganggukkan kepalanya saja, dirinya juga sudah lapar karena pagi hari sudah berkutat dengan dokumen yang membutuhkan pemikira ekstra.
Ke empat orang keluar dari ruang rapat, Bara berjalan beriringan dengan Alice sedangkan kedua asisten berjalan di belakang.
Kedua tangan Bara yang di sembunyikan dalam kantung celana sangat gatal ingin menggenggam tangan kecil milik Alice.
"Huh! Tahan Bara tahan!" Seru Bara dalam hati.
Alice yang melihat wajah Bara sedikit memerah berkata, "Apa Tuan gerah?" Tanya Alice.
__ADS_1
Membuat Bara menolehkan wajahnya ke arah Alice, "Tidak." Jawab Bara singkat dan cepat.
Alice melangkah masuk ke dalam lift di ikuti yabg lainnya, "Aku pikir Anda gerah, tapi juga tidak mungkin karena Anda pasti habis mandi." Ucap Alice santai.
Bara melebarkan kedua matanya dan menoleh ke arah Alice cepat, memandang kedua manik mata berwarna coklat dengan dalam.
"Bagaimana dia bisa tau, apa aku mudah di tebak." Gumam Bara resah.
"Kenapa?" Tanya Alice.
"Bagaimana kamu bisa tau?" Tanya Bara.
"Rambut Anda masih basah, jadi aku tahu. Mungkin Anda terburu-buru tidak mengeringkannya secara sempurna." Jelas Alice dengan menunjuk rambut bagian belakang Bara.
Tangan kanan Bara meraba rambut bagian belakangnya, malu tentu saja. Melihat kedua pundak Jundi bergetar belan membuat Bara mendelik kesal.
"Si*al kenapa Jundi tidak mengatakannya padaku." Umpat Bara dalam hati.
Ferdy hanya melirik Jundi yang tengah menahan tawanya, mendengarkan percakapan Alice dan Bara di belakang membuat Ferdy tau jawabannya.
"Oh, ini. Hairdriyerku rusak jadi hanya menggunakan handuk." Kata Bara dengan menahan malu.
Alice hanya ber oh ria saja dan menganggukkan kepalanya menerima jawaban logis dari Bara.
*
*
*
Di mansion Wijaya, Kenan tengah duduk di sofa kamarnya. Tubuhnya yang masih lemas membuat Ken enggak beranjak dari kamar pribadi miliknya.
"Bagus." Ucap Ken pelan.
"Sedang apa ya Alice, aku akan menghubunginya untuk segera pulang." Ucap Kenan pelan.
Ken mengambil ponselnya dan berselancar mencari lontak sang istri di dalam ponsel, oh tidak! Dia belum meminta nomor pribadi Alice.
Ken mendengus kesal, merasa dirinya sangat bodoh. Bagaimana bisa memulai hubungan baru jika sampai tidak memiliki nomor pasangannya.
"Bagaimana aku menghubunginya, hemm... ah Ferdy. " Seru Ken yang teringat jika Alice tengah bersama Ferdy.
Ken langsung menghubungi nomor Ferdy segera. Ferdy yang berjalan menuju kantin kantor Santosa mengambil ponselnya merasa jika tengah bergetar.
Terlihat nama Kenan di layar ponsel miliknua, segera Ferdy mengangkat.
"Halo, dimana Alice?" Tanya Ken to the point.
"Sedang bersama Saya, Tuan." Jawab Ferdy sopan.
"Berikan ponselmu kepadanya." Kata Ken.
Ken mendengar suara Ferdy dan Alice hingga sura merdu Alice terdengar di sambungan telfonnya.
"Nona, Tuan Kenan ingin berbicara dengan Anda." Kata Ferdy dengan menyodorkan ponsel miliknya.
__ADS_1
"Aku? Ada apa?" Tanya Alice heran.
"Tidak tahu Nona, coba angkat saja mungkin Tuan Ken membutuhkan sesuatu." Jawab Ferdy sopan.
Alice menerima ponsel pribadi Ferdy dan sedikit menjauh dari Bara dan yang lainnya. Bara yang melihat Alice menerima telfon dari Ken hanya menatap darat.
Tatapan Bara yang tidak lepas dari Alice di perhatikan juga oleh Ferdy dan Jindi.
"Apa itu yang dianggap suami istri, nomor ponsel saja tidak punya. Bo*doh." Bara berucap tiba-tiba dan melangkah meninggalkan ketiganya.
Jundi dan Ferdy yang mendenfarnya hanya tercengang di tempat.
"Stt! Kenapa atasanmu yang marah." Ucap Ferdy pelan.
"Tidak tahu, orang jatuh cinta menjadi bodoh." Jawab Jundi.
"Begitukah? Berarti kamu setiap hari jatuh cinta?" Kata Ferdy.
"Tidak, kenapa?" Jawab Jundi cepat.
"Karena kamu bo*doh." Kata Ferdy yang langsung berjalan cepat meninggalkan Jundi.
"Apa! Hey!" Jundi berteriak tidak terima dengan ucapan Ferdy.
Sedangkan Alice yang berada di pojok ruangan tengah menerima telfon Kenan.
"Sayang." Seru Ken.
Alice menjauhkan sedikit ponsel Ferdy karena Ken berteriak.
"Ada apa, Mas? Tidak perlu berteriak seperti itu." Jawab Alice lembut.
"Maaf, kapan kamu pulang?" Tanya Ken lagi.
"Mungkin malam Mas, Tuan Bara mengajak kami untuk kelapangan hari ini juga." Jelas Alice kepada suaminya.
Ken di sebrang telfon merengut kesal "Kamu pulang saja, biarkan Ferdy yang berangkat." Kata Kenan enteng.
"Tidak bisa, karena kamu telah menyerahkan tanggung jawab kerjasama ini kepadaku Mas. Jika sejak awal kamu menyerahkan kepada Ferdy mungkin aku tidak akan perlu ke lapangan." Tolak Alice yang mengingatkan Kenan.
"Kenapa tidak besok saja, kamu ke lapangan dengan Bara saja?" Cecar Kenan.
"Tentu saja tidak, ada Ferdy dan Jundi." Kata Alice meluruskan pikiran Kenan.
"Jangan dekat-dekat dengan Bara sayang, dia memang temanku tapi aku tidak suka kamundekat dengannya." Ken mengultimatum Alice.
Alice tertawa pelan, "Tidak mungkin Tuan Bara menyukaiku Mas, dia tahu jika aku adalah istrimu." Terang Alice.
"Pokoknya aku tidak ingin kamu dekat-dekat Bara sayang. Kamu ingatkan kita akan memulai rumah tangga dari awal." Kata Ken mengingatkan Alice.
"Iya, aku ingat Mas. Mas juga jaga sikap dengan perempuan mulai sekarang." Jawab Alice.
"Tentu saja, baiklah aku akan menunggumu di rumah sayang." Ucap Ken.
Alice hanya mengangguk dan mematikan sambungan telfon Kenan secara sepihak, tanpa mengatakan apapun lagi.
__ADS_1
Ken yang tidak mendapatkan jawaban dari Alice hanya menatap nanar ponsel miliknya, "Kenapa wanita seperti ini." Gumamnya.
...🐾🐾...