Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
BML - BAB 117


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Alice berjalan cepat menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya dengan kepala tertunduk, para maid yang melihatnya hanya mampu diam seribu bahasa.


Segera Alice membuka daan mnegunci pintu kamarnya dari dalam, air matanya berjatuhan dengan cepat setelah menahan sekuat tenaga. Tubuhnya merosot ke lantai dan manyandarkan tubuhnya di pintu kayu berwarna putih terang.


Mengurap map berisi surat percerainnya dengan kenan, Alice menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut yang dia tekuk. Dengan di temani hembusan angin nan lembut yang menerobos masuk melalui jendela kamar yang terbuka.


"Ini sangat sulit, hiks ... aku mendorong diriku setiap hari untuk sampai ke sini. Pada akhirnya, seperti ini lagi."


Nampak tubuh Alice bergetar dan di iringi suara isak tangisnya, ingin mencoba tegar dan kuat namuh hatinya hanya ciptaan Tuhan yang dapat merasakan sakit meski tidak berdarah. Sejenak Alice meluapkan perasaan sedihnya, ternyata semua hanya tinggal angan untuk mengarungi bahtera rumah tangga tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Ponsel Alice berdering namun tidak di hiraukan olehnya, hingga panggilan ke tiga membuat Alice menyudahi tangisannya dan beranjak menuju tempat tidurnya nampak nama Bara muncul di layar ponselnya.


Alice berdehem beberapa kali sebelum mengangkatnya, "Halo, ada apa Bar?" Tanya Alice pelan.


Bara sejenak diam di sebrang telfon, "Ayo pergi ke luar, aku sudah di perjalanan menuju mansionmu." Jawab Bara seakan tidak menerima penolakan.


"Ta-tapi, kenapa mendadak sekali." Kata Alice kelimpungan.


"Tidak, nyatanya aku sudah memberitahumu." Ucap Bara sekenanya.


"Makhsudku buka ... sudahlah, aku akan bersiap-siap."


Alice segera mematikan panggilan Bara begitu saja dan melangkah menuju kamar mandi, suara gemericik air terdengar. Nampak wanita dengan perut yang membuncit itu membasuk wajahnya agar terlihat segar.


Mengenal Bara beberapa bulan, membuat Alice sedikit paham jika pria itu tidak menerima penolakan bahkan terkesan seperti memerintah jika berbicara. Dengan cepat Alice memilih dress khusus ibu hamil yang di belikan oleh Elizabeth.


"Sepertinya, Mama semakin gemuk." Ucap Alice kepada bayinya.


Alice merasa semakin bertambah chubby saat ini, teringat Bara akan segera sampai membuat Alice cepat-cepat menyelesaikan make up nya. Tidak ada foundation dan kawan-kawannya hanya bedak dan liptint. Menyisir rambut panjangnya dengan di kuncir tinggi-tinggi sehingga memperlihatkan leher jenjangnya.


Sedangkan di luar mansion William, setelah Bara selesai menelfon Alice. Jundi hanya memutar bolanya malas, bagaimana tidak padahal mereka sudah berada di depan mansion William hampir satu jam lamanya dan sekarang menunggu wanita berdandan.


Bara seperti mencari penyakitnya sendiri, melihat sang asisten yang nampak malas membuat bibir pria tampan itu gatal untuk bertanya. "Kenapa kamu?" Tanya Bara kepada Jundi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa." Jawab Jundi malas tanpa melihat ke arah Bara.


Bara melihat jam rolex mewah yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, "Masuk ke dalam, Alice pasti sudah selesai." Perintah Bara yang di angguki oleh sopir perusahaan.


Setelah melewati bagian keamanan Mansion William, mobil yang membawa Bara masuk dan berhenti tepat di pintu utama. Alice yang tengah menuruni anak tangga terhenti sejenak langkah kakinya nampak Bara yang masuk ke dalam mansion.


Pandangan keduanya saling terkunci untuk beberapa saat, sampai Bara bersuara "Kamu di rumah sendiri?" Tanya Bara pada Alice yang kembali melanjutkan langkah kakinya.


"Tidak, Ayah dan Mama ada di taman belakang. Akan aku panggilkan." Ucap Alice yang kini sudah berdiri tidak jauh dari Bara.


"Tidak usah, ayo pergi." Bara mencekal pergelangan Alice dan membawanya berjalan keluar mansion.


"Tapi, aku belum perpamitan kepada mereka." Ucap Alice dengan mengikuti langkah Bara.


"Nanti aku akan menelfon Ayahmu." Jawab Bara.


Melihat junjungannya mendekat, Jundi segera membukakan pintu mobil bagian belakang. Alice segera masuk ke dalam mobil di susul dengan Bara, tanpa menunggu lama mobil tersebut berjalan meninggalkan mansion William.


"Kita mau ke mana?" Tanya Alice yang memutar kepalany ke arah Bara.


"Emm, aku ingin makan ice cream di taman bermain." Jawab Alice dengan penuh harap.


"Baiklah, kita ke dunia fantasi."


Alice tersenyum senang mendengarnya, mobil yang di tumpangi Bara melesat cepat menembus jalan raya yang mulai di padati mobil pribadi.


*


*


*


Dunia fantasi sering di sebut Dufan adalah sebuah theme park yang terletak di kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara yang resmi di buka 29 Agustus 1985 dengan luas area 21 hektar dan 34 wahana yang berada di dalamnya.


Alice berbinar menatap taaman bermain yang berada di depannya, sudah lama rasanya Alice berkunjung di tempat itu karena dirinya lebih banyak menghabiskan banyak waktu di rumah dan belajar.

__ADS_1


Alice berjalan dengan hati gembira bahkan meninggalkan dua pria yang berjalan cukup jauh darinya, Bara yang melihat wajah wanita tersebut tersenyum tipis. Tidak jauh dari Bara, Jundi juga merasa senang melihat Alice kembali tersenyum.


Alice yang merasa kehilangan Bara dan Jundi memutar tubuhnya, sejenak Bara dan Jundi terpaku karena rambut Alice tertiup angin dengan dress yang melambai-lambai.


"Apa ibu hamil memang secantik ini." Ucap Jundi tanpa sadar.


"Benar, bukankah dia semakin cantik." Bara menimpali ucapan Jundi.


"Aku jadi ingin menikah." Kata Jundi.


Bara tersikap dan segera menoleh ke arah Jundi dengan kesal, "Kau mengatakan apa tadi, huh!" Sungut Bara.


Jundi yang memang tidak sadar mengatakan jika Alice canti menjadi bingung, "Apa? Aku tidak mengatakan apapun. Kenapa kamu marah-marah." Jawab Jundi berdecak kesal.


"Hey! Cepat ke mari." Alice berteriak dengan melambaikan tangan kirinya.


"Aku datang, Alice! Yuhuuu ...."


Jundi menjawab tidak kalah riang, dirinya berlari menuju Alice dan meninggalkan Bara begitu saja. Bara terperangah karena Jundi bisa cepat akrab dengan Alice.


Bara merengkut kesal ke arah dua orang yang tengah mengantri membeli tiket, nampak seperti kakak dan adik tersebut.


"Cih, bisa-bisanya aku kalah dengan Jundi. Apa kurangnya aku, padahal aku good loking, good rekening, good brain." Bara berbicara pada dirinya sendiri dengan mengatakan semua keunggulannya.


"Tapi anda terlalu lama untuk sekedar mengantri tiket." Ucap seorang wanita di belakang Bara.


Bara terperanjat kaget karena wajah wanita itu sudah miring di sisi kiri Bara, "Hey! Jaga sopan santunmu." Sentak Bara yang masih kaget.


Wanita itu tidak mengatakan apapun melewati tubuh Bara dengan menyenggol pundak kirinya, Bara merasa sangat kesal karena wanita itu tersenyum mengejek ke arahnya. Hingga akhirnya Alice menarik Bara dari barisan antrian tiket dan meminta maaf kepada pengunjung lain.


"Are you oke, Bara?" Tanya Alice yang melihat wajah kesal Bara.


"Oke, ayo masuk." Jawab Bara yang mengambil satu tiket dari tangan Alice, Alice sejenak memandang Jundi dan keduanya saling menaikkan bahunya karena tidak tahu penyebab mood Bara rusak.


...🐾🐾...

__ADS_1



__ADS_2