
Happy Reading 🌹🌹
Matahari nampak membumbung tinggi di langit, sinarnya yang terik sampai ke dasar bumi. Orang-orang terlihat mengusap dahi masing-masing karena hawa panas menyerang.
Jalanan nampak berdebit akibat kendaraan berlalu lalang di tengah tandusnya tanah ibu kota.
Di sebuah sudut cafe yang tidak jauh dari seretan butik-butik ternama, sepasang suami dan istri nampak duduk diam beberapa saat.
Hanya kepulan kopi dan juga suara es batu yang saling bergesek satu sama lain dengan gelas kaca.
Udara pendingin dari AC nampak tidak membuat wanita yang tengah memegang map perceraian kedinginan, hatinya panas sepanas teriknya matahari siang ini.
Kenan duduk menyandarkan punggungnya dan menatap wanita yang sudah memporak porandakan hatinya beberapa hari setelah kepergiannya dari mansion Kenan.
Hembusan nafas terdengar berat dan panjang, kedua tangan Alice bergerak dan meletakkan map perceraian di meja cafe.
"Aku sudah mengurus perceraian kita, aku sudah menandatanganinya. Silahkan bubuhkan tanda tangan di surat perceraian ini."
Alice berkata dengan menahan gejolak dalam hatinya, sekuat tenaga Alice menahan agar dirinya tidak menangis.
Kenan menatap kedua mata Alice yang nampak berkaca-kaca namun tipis jika tidak mengamatinya secara intens.
"Apakah sudah benar keputusanmu, Alice. Apa kita tidak dapat memperbaikinya lagi?" Tanya Kenan dengan suara tenang dan sorot mata tajam.
“Cintaku padamu lebih kuat dibanding cintamu padaku, aku tidak keberatan. Aku pikir kita bisa cari jalan keluar bersama, tapi aku sadari yang penting bukan kadar cinta melainkan arahya.” Ucap Alice pelan kepada Kenan dengan tenang namun kedua tangan Alice bergetar hebat di bawah meja.
"Ini keputusan yang terbaik untuk kita Kenan." Lanjut Alice.
"Yang terbaik untukku atau untukmu Alice, apakah kamu begitu tidak sabar agar dapat bersama Bara." Kata Kenan tersenyum miring.
"Baguslah jika kamu sudah tahu Ken, Bara juga bukan pria yang buruk. Dia masih single, tampan, kaya, dan yang terpenting lebih mencintaiku." Ucap Alice berbohong dengan mimik wajah di buat segembira mungkin.
Kenan hanya tersenyum hambar, dirinya tahu jika Alice berbohong. Kenan segera menegakkan tubuhnya dan menarik map perceraian itu ke arahnya, di bukanya map tersebut.
Alice terus menerus melihat semua gerak gerik Kenan, bagi Alice ini semua untuk anaknya. Alice begitu merindukan Kenan bahkan setiap malam memeluk kemeja Kenan sampai tidak terbentuk lagi.
"Aku akan menikah dengan Selena lusa." Ucap Kenan tanpa menatap Alice.
Kedua mata Alice penuh dengan cairan bening dan meluncur tanpa aba-aba, gemuruh dalam hatinya semakin hebat, kedua tangan Alice menjadi dingin dan saling mencengkram agar tidak gemetar.
Alice tersenyum miring dan tertawa sumbang, "Baguslah, kalian memang pasangan yang serasi. Aku akan datang untuk melihat kebahagiaan kalian. Coba undanglah aku." Ucap Alice dengan menatap tajam ke arah Kenan.
Ken membalas tatapan tajam Alice dengan tatapan tak kalah tajam, seakan Alice menantangnya.
__ADS_1
Kenan mengambil pena yang dia pinjam dari pelayan cafe, dengan wajah datar tangan kanan Kenan bergerak membubuhkan tanda tangan di tempat yang sudah di sediakan. Setelah selesai, Ken menutup map dari pengadilan dan menyodorkannya ke arah Alice.
"Terima kasih." Ucap Alice yang mengambil map.
Alice membalikkan tubuhnya untuk memasukkan map pada tas jinjing yang dia bawa, setitik air mata kembali menetes namun dengan cepat Alice mengusapnya dan mengontrol detak jantungnya yang tidak karuan. Sama halnya dengan Alice, Kenan membuang arah pandangannya dengan menyeka air mata.
Ingin mempertahankan pernikahannya, namun Ferdy tidak mendapatkan bukti apapun dari kejadian lalu. Namun, dalam diri Kenan sangat yakin jika dirinya tidak melakukan hal serendah itu bersama wanita lain yang bukan istrinya.
Terdengar langkah kaki mendekat ke arah meja keduanya dan menarik kursi duduk begitu saja tanpa permisi, "Sayang, kenapa lama sekalu. Kita sudah di tunggu Mama." Selena bergelayut manja di lengan Kenan tanpa menghiraukan Alice yang duduk di depannya.
"Oh, ada Alice. Maaf ya karena membuatmu menjadi jan*da di usia muda, mau bagaimana lagi karena aku sedang mengandung anak dari Kenan dan aku juga tidak mau di madu." Lanjut Selena dengan nada mengejek namun wajah sedih.
Alice hanya tersenyum tipis, "Tidak apa-apa, aku juga tidak menginginkan pria kelas rendah seperti Kenan. Kamu taulah, kelas tinggi tidak akan pernah menurunkan kelasnya karena itu sangat mencoreng harga diriku." Alice menjawab dengan sarkas.
"Apa makhsudmu! Kamu mengatakan aku kelas rendah, huh!" Seru Selena yang membuat beberapa pengunjung menjadi memperhatikannya.
Sedangkan Kenan hanya diam saja tanpa berkata apapu, meskipun belum genap satu tahun lamanya mereka mengarungi bahtera rumah tangga. Namun, Kenan tahu bagaimana tabiat Alice istrinya.
"Aku tidak pernah mengatakan kamu rendah, tapi jika kamu menyadarinya sendiri justru bagus. Karena memang kamu renda*han, bersedia mengangkang di bawah pria yang berstatus suami orang. Lalu mana ucapanku yang salah?" Kata Alice yang tak kalah keras suaranya dari Selena membuat suasana di sana menjadi memanas.
"Itu bukan salahku, semua salahmu karena tidak mengurus Kenan dengan baik bahkan tidak segera mengandung. Lihat, perutku membesar karena aku dapat mengandung keturunan Wijaya." Kata Selena yang mengelus perutnya dan tersenyum penuh kemenangan.
Banyak gunjingan yang ketiganya dengar, banyak yang mencibir Kenan, Alice, dan Selena. Ada yang mendukung Alice tidak jarang pula yang mendukung Selena.
Selena yang akan menyiram Alice di hentikan oleh Kenan karena ucapan Alice yang membuat Ken melebarkan kedua matanya, benar ada yang berbeda dari Alice istrinya. Kenapa Alice sekarang lebih suka mengenakan pakaia longgar dan juga pipi Alice lebih berisi.
"Lepaskan, Ken! Dia sudah menghina kita!" Seru Selena menggebu.
"Apa! Kau mau menyiramku? Sebelum kamu melakukan itu, aku akan membuatmu segar di siang hari."
Alice beranjak dan berjalan ke arah pegawai yang tengah mengepel lantai di tengah cafe, dengan susah payah Alice mengangkatnya bahkan mengenai pakaian Alice.
Byur!
Alice melemparkan isi air pel ke arah Kenan dan Selena sehingga keduanya basah kuyup, Kenan hanya diam berbeda dengan Selena yang menganga tidak percaya. Dirinya menjadi bau pewangi lantai dan juga kotor karena air bekas pel tersebut.
"Apa kau gila!" Teriak Selena menatap tajam Alice.
"Bahkan aku dapat berbuat jauh lebih gila dari ini." Jawab Alice dengan mendorong pundak Selena.
Alice segera mengambil tas jinjingnya dan berjalan keluar cafe, "Tagihan berikan semua kepada pria breng*sek itu." Ucap Alice kepada salah satu pelayan sebelum benar-benar meninggalkan cafe.
Alice berlari menuju mobil di mana sopir keluarga William telah menunggunya, melihat junjungannya segera sopir membuka pintu mobil belakang dan menutupnya dengan cepat. Mobil SUV berwarna putih segera meninggalkan area cafe, tangis Alice pecah saat itu juga dirinya memukul dadanya yang terasa sesak dan ingin meledak.
__ADS_1
Melihat anak majikannya menangis, sang sopir mengarahkan mobil ke tempat yang sepi agar majikannya dapat menangis sepuas hatinya. Dia adalah sopir yang menjemput Alice saat di bandara, sudah lima belas tahun lamanya ikut bersama keluarga William tentu tahu bagaimana keluarga tersebut.
*
*
*
Dengan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, Kenan ppulang ke mansion milknya dan Alice. Beberapa makian Kenan dapatkan namun tidak pria itu gubris bahkan hampir saja Kenan menabrak pengendara lainnya.
Bagaimana dengan Selena? Selena di tinggalkan begitu saja di cafe dengan penampilan yang menyedihkan. Dadalm pikiran Kenan hanya ada Alice dan ucapan Alice yang terus berdengung di telinganya.
"Aku mohon jangan membuatku menyesal, Alice." Ucap Ken saat berkendara.
Kenan mencengkram stir mobilnya kuat, takut jika benar Alice hamil akan membuat dirinya menjadi gila. Tidak membutuhkan waktu lama, Kenan telah sampai di mansionnya sendiri.
Dengan tergesa Kenan berlari masuk dan menaiki tangga menuju kamarnya, dengan deru nafas yang cepat Kenan menggeledah semua se isi kamar yang dia tempati bersama Alice berharap menemukan suatu petunjuk. Dari walk in closed, kamar mandi, meja rias, dan terakhir lemari kecil di samping kasurnya.
Hingga, pandangannya terkunci pada secarik kertas yang tertumpuk beberapa barang di dalam laci. Dengan tangan gemetar dan persaan kacau. Kenan mengambil kertas itu dan membaliknya, dengan teliti Kenan mengamati dengan kening berkerut dalam.
Namun, ada nama Alice istrinya dan Ken segera mengambil ponsel di saku celananya menghubungi Dokter Rasyah yang akan menjawab semua pertanyaannya.
"Ada apa?" Tanya Dokter Rasyah to the point.
Kenan langsung melakukan video call kepada Dokter Rasyah dan mengarahkan kamera ponselnya ke arah kertas berwarna hitam putih itu.
Terdengar tawa Dokter Rasyah di sebrang sana, "Haha, akhirnya ketahuan ya. Padahal aku berencana akan mengatakannya kepadamu saat sudah menikah dengan Selena." Ucap Dokter Rasyah tanpa rasa berdosa.
"Katakan! Apa ini. Ada nama Alice di sana." Seru Ken yang marah mendengar ucapan Rasyah.
"Itu hasil USG istrimu, oh bukan mantan istrimu. Alice sedang mengandung anakmu." Jawab Dokter Rasyah santai.
"Apa." Lirih Kenan.
"Se-sejak kapan?" Lanjut Ken dengan tenggorokan yang tercekat.
"Emm... kapan ya? Mungkin saat kamu muntah-muntah saat akan sarapan nasi uduk." Ucap Dokter Rasyah seraya mengingat dirinya memeriksa Kenan.
Ken menjatuhkan ponselnya begitu saja, dirinya begitu kaget mendapati kenyataan saat ini. Kedua tangan Kenan bergetar hebat bahkan air matanya sudah membawahi kedua pipi Kenan.
"Argh!! Tidak Alice! Tidak!" Teriak Kenan yang meluapkan perasaan kecewa, marah, sedih, perasaan yang bercampur aduk menjadi satu.
...🐾🐾...
__ADS_1