Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
Kegalauan Kenan


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Jundi yang ingin kembali masuk ke dalam ruangan Bara mengurungkan niatannya, keningnya berkerut dalam saat melihat bosnya seperti orang gila. Dengan kekuatan kuping gajar, Jundi mengupping pembicaraan yang Bara lakukan melalui sambungan telfon.


Awalnya Jundi tidak tahu siapa gerangan yang sedang bertelfon ria dengan Bara, namun telinganya menangkap nama Alice yang keluar dari bibir bosnya. Jundi hanya mengulum senyumnya bahkan memutar bolanya malas saat Bara berdrama dan berbohong jika dirinya tengah sakit.


Saking asyiknya menguping membuat Jundi tidak sadar jika Bara sudah berdiri di depan pintu yang sedikit terbuka tersebut, di bukanya dengan cepat pintu masuk ruangan CEO dengan lebar sehingga membuat Jundi terjungkal kedepan.


Ya, posisi Jundi seperti bayi belajar merangkak dan sedikit menyenderkan tubuhnya di pintu masuk, terdengar suara rintihan Jundi. Dengan posisi tertelungkup membuat Jundi melihat sepatu pantofel mengkilap yang dia kenal betul siapa pemiliknya.


"Hehehe, Tuan." Jundi tertawa kaku dan malu karena tertangkap basah oleh Bara.


"Apa sekarang hobimu menjadi penguping." Ucap Bara dengan datar.


Jundi segera berdiri dengan menepuk beberapa kali celananya agar debunya hilang.


"Kau berdiri di sana." Bara menunjuk ke sudut tembok dekat vas bunga.


"Berdiri? Di sana?" Tanya Jundi memastikan.


"Apa telingamu menjadi tuli karena kebanyakan menguping." Ucap Bara dingin.


Jundi segera berjalan cepat ke arah tempat yang di tunjukkan oleh Bara, Bara berjalan mendekat dengan bersedekap dada.


"Sekarang tekuk kaki kananmu, kedua tanganmu menyilang di depan dan jewer telingamu." Ucap Bara dengan tenang namun tegas.


Jundi melakukan apa yang di perintahakan Bara, dengan takut-takut dirinya melirik ke arah Bara yang masih setia berdiri di depan.


"Sekarang jawab pertanyaanku dengan jujur." Ucap Bara yang mulai membuka kembali suaranya.


"Ya, Tuan." Jawab Jundi cepat.


"Di mana kalian akan makan malam?" Tanya Bara to the point namun ambigu bagi Jundi.


"Kalian? Siapa yang Tuan maksud?" Tanya Jundi balik bertanya.


Bara mendesis kesal, "Kau dan Alice." Ucap Bara cepat.


Jundi sontak teringat dirinya tadi sengaja berdrama seakan menelfon Alice, susah payah Jundi menelan ludahnya karena bingung harus mengatakan apa. Bara yang tidak sabar menghela nafasnya kasar.


"Kapan kalian akan makan malam." Ucap Bara.


"Besok." Jundi berbohong dan berkata sangat lirih bahkan hanya butiran debu yang mendengarnya.

__ADS_1


"Cepat katakan!" Seru Bara.


"Besok Tuan, Besok!" Jundi tidak sengaja berteriak karena kaget.


Menyadari kesalahannya, Jundi langsung membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Kedua matanya melirik melihat wajah Bara yang mengeras, "Tuhan, tolong hilangkan aku dari ruangan ini." Jerit Jundi.


"Kau tetap seperti itu sampai aku pulang." Ucap Bara dingin dan berjalan menuju kursi kebesarannya.


Jundi terperangah mendengar perintah Bara, bagaimana bisa dia menghukum dirinya seperti anak sekolahan. Ingin protes namun Bara sudah menatap tajam ke arah Jundi dengan tajam, hanya pasrah saja dirinya yang terpenting dia tidak di pecat.


*


*


*


Alice dan Ken telah sampai di mansion utama, mereka memesan taxi online sebagai transportasi. Ken tidak ingin pekerja di mansion utama mengetahui keberadaan tempat tinggalnya yang baru.


Segera Ken berjalan masuk bersama dengan membawa dua koper besar di tangannya, Kakek Wijaya yang tengah duduk bersantai di ruangan televisi memiringkan kepalanya untuk dapat melihat siapa yang datang. Alice yang melihat Kakek segera menghampirinya.


"Selamat sore Kek." Ucap Alice dengan menyalami dan memeluk tubuh tua Kakek Wijaya.


"Aaa, cucu menantuku. Bagaiamana bulan madumu?" Tanya Kakek Wijaya dengan antusias.


"Sehat...sehat, kenapa kalian cepat sekali pulang?" Tanya Kakek Wijaya yang seakan memprotes.


Ken dan Alice saling pandang, karena menurut mereka wajtu satu minggu adalah waktu yang lama untuk sekedar bulan madu, "Ken juga harus kembali bekerja Kek, jika Ken menganggur terlalu lama. Siapa yang akan memberi nafkah Alice." Ucap Ken dengan tertawa pelan.


Kakek Wijaya menepuk pundak Ken dengan lembut, "Kakek yang akan memberikan istrimu uang." Kelakar Kakek Wijaya.


"Di mana Ayah dan Mama?" Tanya Alice yang terlihat mencari-cari dengan mengedarkan pandangan ke segala arah di mansion.


Kakek Wijaya terlihat menghela nafas pelan, " Mereka sedang berada di lar kota, sekarang Citra akan selalu ikut Kalevi ke manapun dia pergi." Jawab Kakek Wijaya pelan.


Baik Alice dan Ken terlihat saling menatap dengan wajah yang penasaran, "Memangnya kenapa Kek?" Tanya Ken penasaran.


"Sesuatu terjadi selama kalian pergi ke Bali, tapi tidak perlu kalian pikirkan. Karena itu adalah keputusan yang terbaik untuk kita semua." Jelas Kakek Wijaya yang tidak mungkin jujur karena ada Alice di sana.


Alice sedikit menerawang, apa mungkin Ayah Kalevi mengatuhi keributan saat di restoran atau Ayah Kalevi mengetahu jika Citra telah jahat kepadanya? Entahlah, Alice tidak paham mana yang benar.


"Sudah sana pergi istirahat, jika waktunya makan malam Kakek akan memanggil kalian." Ucap Kakek Wijaya kepada keduanya.


"Baiklah, kami pergi ke kamar dulu Kek." Pamit Ken dan Alice.

__ADS_1


Kakek Wijaya mengangguk sebagai jawaban, Alice dan Ken melangkah pergi menaiki tangga meninggalkan sang Kakek sendiri di ruangan televisi. Terdengar helaan nafas kasar dari hidung sang Kakek, "Aku hanya berharap cucuku memiliki keluarga yang bahagia." Ucap Kakek Wijaya pelan.


Sesampainya Ken dan Alice di kamar, Ken langsung menjatuhkan bobot tubuhnya di atas kasur. Sedangkan Alice pergi ke walk in closed untuk berganti pakain. Ken menatap langit-llangit kamar dengan pikiran yang berkecamuk apa yang terjadi selama dirinya pergi, lalu bagaimana mengutarakan niatan dirinya pindah dari mansion utama.


"Hahhhh..."


Ken memiringkan tubuhnya dengan bertumpu satu lengan sabagai bantal, Alice yang melihat suaminya sedikit gusar berjalan mendekat dengan membawa baju ganti.


"Mas, ada apa?" Tanya Alice yang duduk di pinggi tempat tidur.


Ken memutar kepalanya ke belakang hingga terlihat wajah sang istri yang tengah menatapnya lembut, Ken menggeser tubuhnya dan meletakkan kepalanya di kedua paha sang istri. Alice mengusap lembut surai hitam milik suaminya setelah meletakkan pakaian santai untuknya.


"Kenapa?" Tanya Alice lagi.


"Mas rasa, Ayah dan Mama bertengkar setelah mengetahui kejadian di retoran tempo hari." Ken mulai mengungkapkan kegundahan hatinya.


Alice masih setia mengelus surai hitam suaminya, "Alice rasa, iya." Ucapnya setuju.


Tedengar helaan nafas Ken yang berat, "Bagaimana kita akan mengatakan jika ingin pindah rumah, Mas rasa Mama akan semakin membencimu sayang." Ucapnya lagi.


"Jika memang begitu, kita tinggal di sini saja dulu hingga suasana kondusif." Kata Alice pelan.


Ken menggeleng, "Mas tidak mau, lebih baik kita pergi dari sini meskipun Mama menolaknya." Ucap Ken dengan pendiriannya.


"Alice akan tetap mengikuti Mas ke manapun." Kata Alice pelan.


Ken tersenyum dengan memandang wajah istrinya dengan lembut, tangan kanannya mengelus pipi Alice penuh kasih sayang.


"Terima kasih sayang, Mas sangat beruntung memiliki istri sepertimu." Ucap Ken tulus.


"Tentu saja, Mas harus bangga menjadi suamiku." Kata Alice yang semakin menyombongkan dirinya di depan sang suami.


Ken tergelak dan bangkih hingga dirinya duduk menghadap sang istri, "Ya...ya terserahmu Nyonya Kenan. Mas akan ganti baju dulu, mana pakaiannya?" Pinta Ken kepada sang istri.


Alice hanya tertawa dengan jawabannya yang sangat PeDe, mengambil pakaian Ken dan menyerahkannya kepada sang suami.


"Kamu beristirahatlah, Mas akan ganti baju sebentar."


Ken melangkah pergi setelah mengacak rambut Alice pelan, Alice hanya tersenyum dengan merapikan kembali rambutnya. Memandang Ken yang hilang di balik pintu kamar mandi.


...🐾🐾...


...Autor membawa rekomendasi novel yang bagus untuk kalian 🌹🌹...

__ADS_1



__ADS_2