
Happy Reading 🌹🌹
Alice memgeringkan keringatnya dengan sapj tangan berwarna biru muda tersebut, namun kedua matanya membola saat melihat waktu di jam tangan pria asing itu.
"Apa! Hais si*al." Umpat Alice.
Alice langsung berlari kecil menuju pinyu utama perusahaan, namun Alice menoleh ke belakang seraya mengucapkan terima kasih.
Bara yang masih berdiri mengulas senyum kecil dengan memandang tubuh Alice yang sudah hilang dari balik pintu kaca.
"Tuan."
Jundi menyusul Bara dengan nafas memburu karena berlari dari basement menuju depan perusahaan Wijaya.
Jundi memiringkan kepalanya melihat Bara yang masih menatap lekat perusahaan Wijaya, di lihatnya pandangan Bara ada anak kecil penjual bunga mawar.
"Apa Tuan Muda menginginkan bunga?" Gumam Jundi dalam hati.
Jundi melambaikan tangannya di depan wajah Bara namun tidak ada respon, "Tuan." Akhirnya Jundi sedikit berteriak dan menepuk pundak Bara.
"Apa." Ucap Bara dingin.
"Maaf, sejak tadi Saya sudah memanggil Anda namun tidak ada jawaban." Jelas Jundi kepada Bara.
"Di mana mobil kita?" Tanya Bara.
"Di parkiran." Jawab Jundi polos.
"Kita sudah terlambat untuk kekantor kenapa malah memarkirkannya! Cepat pergi." Sentak Bara pada Jundi dan langsung berjalan menuju basement.
"Lah, tadi minta di turunkan di depan perusahaan Wijaya." Ucap Jundi perlan dan langsung menyusul Bara.
Saat melihat Alice berjalan ke arah perusahaan Wijaya, Bara meminta Jundi untuk berhenti juga di depan perusahaan Wijaya.
"Jun, berhenti di depan perusahaan Wijaya." Perintah Bara.
"Apa kita ada keperluan di perusahaan Wijaya?" Tanya Jundi sopan.
"Sudah jangan banyak tanya, cepat." Ucap Bara.
Jundi menyalakan lampu sent mobil ke arah kiri tepat di depan perusahaan Wijaya, langsung saja Bara keluar tanpa berkata apapun kepada Jundi.
Melihat Tuan Mudanya berjalan ke arah pintu utama, Juni berfikir mungkin Bara ingin mengunjungi Kenan sebelum ke perusahaan.
Mobil di kendarai Jundi berjalan menuju basement perusahaan Wijaya, segera Judi menyusul Bara yang sudah lebih dulu turun.
Di sisi lain, Alice masuk ke perusahaan Wijaya dengan wajah lelahnya.
"Ada yang bisa kami bantu, Nona?" Tanya resepsionis sopan.
"Aku pegawai baru di sini, belum memiliki id card. Bisa tolong hubungkan dengan Kenan atau Ferdy?" Jawab Alice cepat.
Kening resepsionis berkerut karena Alice memanggil orang penting di perusahaan Wijaya tanpa embel-embel Tuan.
"Mbak." Panggil Alice yang melihat resepsionis tidak merespon.
"O-oh, Nona bisa ke bagian HRD terlebih dahulu agar mendapatkan id card." Jawab resepsionis.
"Bisa antarkan Saya ke ruangan HRD." Ucap Alice.
__ADS_1
"Bisa, mari Saya antarkan."
Alice dan satu resepsionis berjalan menuju lift karyawan untuk menuju ruang HRD yang berada di lantai dua.
Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya telah sampai segera berjalan menuju ruang HRD.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, kepala HRD membukakan pintu. Terlihat pegawai yang familiar dan wanita asing di depannya.
"Ada apa?" Tanya Niken.
"Bu Niken, ini pegawai baru." Jawab sang resepsionis.
"Oh, masuklah." Niken mempersilahkan Alice masuk.
Resepsionis langsung undur diri dan Alice masuk duduk di kursi.
"Nama?"
"Alice."
"Bagian?"
"Sekertaris Kenan."
Niken menghentikan jemarinya yang mengetik di keyboard dan menurunkan kaca mata putihnya.
"Oh, orang dalam. Simpanan Tuan Kenan ya." Ucap Niken pedas.
Alice hanya memutar bola matanya malas, "Bisa di bilang seperti itu." Jawab Alice jengah.
Niken dengan wajah sinis dan sadinya mengetikkan id untuk Alice, Alice hanya menatap lucu ke arah Niken.
Bisa dilihat Niken wanita usia 40 tahun dengan bedak tebal berwarna putih dan lipstik merah darah, kaca mata tebal menggunakam rantai emas dan meja kerja yang cukup berantakan dengan gorengan juga secangkir kopi.
"Terima kasih." Jawab Alice sopan.
"Emmm." Niken hanya berdehem.
Alice pergi keluar dari ruangan HRD namun dirinya lupa bertanya kepada Niken dimana ruangan sekertaris.
"Biasanya ruangan CEO berada di lantai tertinggi." Ucap Alice yakin.
Alice menunggu lift yang akan naik ke atas, di belakangnya beberapa orang jg tengah menunggu.
"Apa kamu tahu, jika Tuan Kenan akan menikah?" Tanya pegawai A.
"Aku dengar dia sudah menikah." Jawab pegawai B.
"Tapi katanya ada perempuan datang ke kantor hari ini, coba lihat grup wa. Sangat ramai di bahas." Jelas pegawai A.
"Benarkah? Aku sangat sibuk belum sempat bermain ponsel." Keluh pegawai B.
"Kamu mau membawa banyak dokumen ini kemana sih?" Tanya pegawai A.
"Ke ruangan Pak Kenan." Jawab pegawai B.
Semua masuk ke dalam lift, Alice tidak menekang angka lantai yang akan di tuju, karena pegawai yang tengah membawa banyak dokumen satu tujuan dengannya.
Bunyi lift berdenting, pegawai B keluar dan di ikuti Alice di belakangnya.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
"Masuk!" Seru Ken dari dalam.
Pegawai B membuka pintu dan masuk di ikuti dengan Alice lagi, terlihat seorang wanita dengan gatal bergelayut manja di lengan Ken.
Ken yang melihat Alice datang terlambat mulai menjalankan rencananya yang lain.
"Pak Kenan, ini dokumen dan berkas-berkas yang Anda minta." Ucap pegawai B.
"Berikan kepadanya." Jawab Kenan menggerakkan dagunya ke arah Alice.
Pegawai B dan wanita yang di samping Kenan melihat ke arah Alice.
"Nona ini?" Tanya pegawai B memastikan.
"Apa kau buta." Jawab Ken dingin.
Pegawai B segera berbalik dan menyerahkan tumpukan pekerjaan kepada Alice, Alice kaget karena begitu berat terlebih dia mengenakan sepatu hak tinggi.
"Astaga!" Ucap Alice yang berhasil menahankan keseimbangannya.
"Kau pegilah." Ucap Ken.
Pegawai B undur diri Alice juga ikut berjalan keluar namun langkahnya terhenti saat dirinya akan keluar dari ruangan CEO.
"Berhenti." Ucap Ken.
Alice menghela nafasnya pelan dan berbalik ke arah Ken dengan wajah datarnya.
"Apalagi." Jawab Alice kesal.
"Heh! Sopan kau dengan calon suamiku, dasar pegawai rendahan." Sentak wanita dengan angkuh.
Ken hanya tersenyum miring ke arah Alice, "Buatkan aku kopi." Timpal Ken.
Sudut mata Alice berkedut karena sudah jelas jika ada cangkir kopi dua di meja, "Itu kopi." Jawab Alice.
"Habis." Kata Ken sekenanya.
Alice mendengus kesal dan segera berbalik badan lagi, baru satu langkah Ken kembali bersuara.
"Satu lagi."
"Apa lagi Tuan." Jawab Alice dengan menggeram kesal.
"Jangan lupa tutup pintunya." Kata Ken tanpa dosa.
Alice membuang nafasnya kasar dan berjalan keluar hingga terdengar suara pintu Kenan tertutup dengan keras.
Ken tergelak dapat mengerjai Alice, melihat wajah Alice kesal membuat dirinya terhibur.
"Ken." Panggil seorang wanita dengan suara mendayu manja.
Ken menghela nafas panjang dirinya lupa jika ada orang lain di sini.
__ADS_1
"Sudah aku katakan, pergi dari ruanganku." Sentak Ken dengan berdiri menatap tajam wanita yang ada di hadapannya.
...🐾🐾...