
Di mobil Ardiyan dan Dimas..
"Kita langsung ke pondok" ucap Ardiyan masih agak tegang.
"Oke" Dimas pun melajukan mobilnya menuju pondok.
"Dim apakah anak buah Lo masih ada yang mengawasi pondok?" Tanya Ardiyan dia mulai merasa khawatir
"Masih ada beberapa yang menjaga pondok juga ada beberapa yang setiap saat menjaga Anisah tanpa sepengetahuannya" bales Dimas
"Baguslah gue sedikit tenang sekarang.. tapi kita harus tetap waspada karena Wira nggak bisa kita anggap remeh" ucap Ardiyan
"Ya gue tahu.. semenjak dia di tolak oleh Giovanni saat itu sekarang dia menjadi gila" ucap Dimas yang mengingatkan awalnya persahabatan mereka pecah.
"Huuft.. kalau dari awal gue tahu sebelum gue sentuh Giovanni juga juga pasti akan mundur Dim.. tapi gue mengetahui Wira suka pada Vani di saat Vani hamil anak gue... Hah!!.. siapa sangka pada akhirnya Vani begitu kejam pada anak kami ia menggugurkannya tanpa sepengetahuan gue.." ucap Ardiyan yang mengingat akan masa lalunya yang kelam..
__ADS_1
"Astagfirullah.. begitu banyaknya dosa gue di masalalu apa Allah akan mengampuni gue yaa huuft.." tambahnya lagi sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"In syaa Allah Allah akan mengampuni seorang hamba-Nya yang benar-benar bertobat pada-Nya " bales Dimas membuat Ardiyan sedikit tenang..
"Aamiin semoga saja" ucap Ardiyan lirih.
"Kalau di pikir-pikir lucu juga ya kalian memperebutkan wanita gila sampai mempertaruhkan nyawa kalian.. sampai balapan liar dan membawa Malapetaka bagi Lo dan Wira untung Lo cuma cedera sedikit nah Wira harus di Bawak keluar negeri untuk mengobatinya untung dia bisa hidup.. kalau tidak apa nggak rugi tuh hanya karena wanita seperti itu kehilangan nyawa.. gue mah ogah" ucap Dimas yang masih mengingat masalalu antara Ardiyan dan wiraxsana..
"Ya gue juga nggak menyangka akan jadi seperti itu.. kita juga nggak bisa menebak skenario Allah.. kita sudah merencanakan hal yang Mantang dan menurut kita baik ternyata Allah berkata lain.. seberapa pun gue mempertahankan Giovani agar menjadi milik gue tapi bila Allah belum mengizinkan kita mau bilang apa iyakan?" ucap Ardiyan yang di penuhi rasa penyesalan.. " Benar kata kakek yang nampak indah belum tentu baik untuk kita dan yang tampak buruk sebenarnya itu yang terbaik untuk kita " uajarnya lagi..
"Ya benar.. dan sekarang Lo kuduk banyak-banyak bersyukur deh Karena sebenarnya Allah masih menginginkan Lo menjadi orang yang baik makanya Dia memberikan kakek dan binik Lo agar Lo menjadi seseorang yang Dia inginkan" ucap Dimas
" Terimakasih ya Allah karena engkau memberikan hamba kesempatan untuk memperbaiki segalanya " batin Ardiyan.
"Dan gue juga bersyukur karena perubahan Lo gue juga terkenak dampaknya dan bahkan mendapatkan hadiah terindah juga dari Allah.. terimakasih sobat " ucap Dimas
__ADS_1
"sama-sama kawan., dan berterima kasihlah pada Allah karena semua yang kita jalani sekarang adalah skenario-Nya" bales Ardiyan.
"Yap.. skenario yang indah untuk kita.. Terimakasih ya Allah.. Terimakasih untuk segalanya"
Ya begitulah sepanjang jalan mereka mengobrol dan tanpa terasa mereka pun sampai di depan gerbang pondok pesantren An-Nur penjaga gerbang pun membuka gerbangnya untuk mereka, mobil pun memasuki pondok dan berhenti tepat di rumah utama ustadz Khairul. dan mereka di sambut oleh ustadz Khairul dan umi syadiah.
"Assalamu'alaikum umi, Abi, " salam Ardiyan dan Dimas serentak.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh nak" bales Ustadz Khairul dan umi syadiah.
"Loh nak mana Anisah?.. bukankah tadi kamu menyuruh karyawan mu untuk menjemput Anisah?" tanya Ustadz Khairul membuat Ardiyan dan Dimas terkejut..
"APAA!!"
BERSAMBUNG
__ADS_1
-----------------------
Jangan lupa ya untuk mendukung Author biar selalu semangat dan jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 😉