
"Sadarlah Anisah, sadarlah aku mohon "Ardiyan mulai takut, karena kalau tidak secepat Anisah sadar maka akan berdampak buruk bagi buah hatinya," Jangan membuat ku takut Nisah" ucapnya lagi dengan suara bergetar. Lalu ia pun berbaring di sebelah Anisah dan memeluknya dengan lumbut dan tanpa terasa air matanya mengalir.
"Sampai kapankah kau akan tertidur Nisah?, Tidakkah kau memikirkan aku dan anakmu? Bangunlah sayang" ucap Ardiyan sedikit terisak.
"Hubby?, Kau menangis?" Sebuah suara mengagetkan Ardiyan, dengan cepat Ardiyan mengangkat kepalanya, dan melihat Anisah yang ternyata masih memejamkan matanya.
"Anisah? Kau kah itu? Apakah kau sudah sadar? Bukalah mata mu sayang" ucap Ardiyan yang air mata masih menetes. "Hmmm" bales Anisah dan perlahan ia pun membuka matanya sambil tersenyum lemah.
"Hiiks.. sayang terimakasih" ucap Ardiyan sambil memeluk dan menciumi Anisah penuh kebahagiaan hingga mereka tak sadar kalau ada seseorang masuk.
"EHem, ehem, ingat belum saatnya untuk mesra-mesraan jaga jarak bro" ucap orang itu yang ternyata Dika dan seorang perawat yang masuk,
"Haiis, ganggu orang saja!" Gumam Ardiyan kesal, lalu ia pun bangkit dari tempat tidur Anisah.
__ADS_1
"Assalamualaikum ustadazah cantik? Gimana keadaan mu sekarang?" Tanya Dika sambil meriksa denyut nadi Anisah. Ardiyan yang mendengar perkataan "cantik" dari Dika membuat ia kesal "CK, jaga ucapan Lo,! Jangan sembarangan memuji binik gue" ucapnya kesal. "Iiis dasar tukang cemburu!" Gumam Dika males nanggapinya.
"Wa'alaikumus salam bang Dika, Alhamdulillah Nisah dah lumayan baik cuma sedikit lemas" bales Anisah dengan suara yang masih lemah.
"Syukurlah, kalau begitu, sebaiknya kamu minum obat setelah itu istirahat saja, agar besok pagi kamu tidak akan lemas lagi, oke" ucap Dika sambil menyerahkan resep pada Ardiyan, " Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu jangan lupa di minum obatnya ya, saya pamit, Assalamu'alaikum cantik" ucapnya agak tergesa meninggalkan ruangan tersebut, " Kau, mau cari mati ya!" Ancam Ardiyan, membuat Dika tertawa kekeh, "Hahaha Pria dingin berubah menjadi Tukang cemburu" Ucap Dika yang masih terdengar di depan pintu. Mendengar perkataan Dika membuat Ardiyan kesal.
"Hubby, bang Dika hanya bercanda, kenapa kamu marah sih?" Ujar Anisah lembut.
"Kenapa kamu jadi membela dia?" Ucap Ardiyan kesal melihat istrinya seakan membela Dika.
"Ada apa dengan bang Diyan, wajahnya kok jadi berubah?, hm benarkah dia sedang cemburu?... sudahlah tidur saja mata ku jadi ngantuk" bantin Anisah lalu ia pun memejamkan matanya.
Sementara Ardiyan yang menuju Apotik masih suasana kesal.
__ADS_1
"ck kenapa aku jadi kesal gini sih?, ini gara-gara Dika, setelah dia melihat wajah Anisah dia jadi memanggilnya cantik, seharusnya aku tidak membiarkan dia melihat wajahnya,!" gumam Ardiyan di sepanjang jalan menuju Apotik."Hah, sudahlah diakan lagi sakit, nggk mungkin juga dia memakai cadarnya karena bisa menghambat pernapasannya" bicara sendiri menjawab sendiri.
"Ardiyan? Lo kenapa? dari tadi gue lihat Lo bicara sendiri, apa Lo sudah menjadi gila kah" tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Ck Lo, kalau ngomong jangan sembarangan!" ucap Ardiyan masih kesal.
"Ada apa dengan Lo, kenapa wajah Lo jelek sekali" ucap orang tersebut yang ternyata Dimas.
"Diam Lo!!, gimana tugas Lo sudah beres?"
Bersambung
----------------
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak yaa 🙏