Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek

Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek
KESEDIHAN LISA.


__ADS_3

""""πŸ’šMutiara HikmahπŸ’š""""


Bahagia itu sangatlah sederhana..


Sesederhana engkau tersenyum dan bersyukur atas apa yang Allah berikan kepada kita..


So.. jangan lupa Tersenyum ya guys.. πŸ˜‰.


Karena senyuman kalian akan menjadi Ibadah.


Happy reading..πŸ™πŸ˜Š


********************πŸ’š******************


Keesokan harinya..


Sesuai dengan yang telah di rencanakan, hari ini mereka akan pergi ke kampung Lisa yang berada di kota Si dan mereka semua sudah berkumpul ada Ardiyan, Anisah, Dimas, Lisa, Wira, Asyifa, Dika, dan Nina serta Ustadz Khairul dan umi juga ikut karena mereka juga ingin menghadiri acara bahagia untuk Dika, Andi saja yang tak datang.


"Dik?, Andi mana?, kenapa ia tak datang?" tanya Ardiyan pada Dika.


"Dia nggak bisa ikut hari ini Ar, katanya ia masih berjuang untuk mendapatkan restu dari pak Rozak" jawab Dika apa adanya seperti yang di katakan Andi.


"Ah, gue lupa, padahal Andi pernah minta tolong gue untuk membantunya melamar minul" ujar Ardiyan sembari menepuk pelan dahinya.


"Terus gimana dong?" tanya Dika


"Coba Lo telpon Andi, dia sekarang sedang di mana.?" ujar Ardiyan lagi. Dika pun mengambil benda pipihnya lalu ia mencari kontak Andi, dan kemudian ia pun mencoba menghubunginya.


"Nggak aktif Ar.." kata Dika.


"Ah, ya sudahlah, kita selesaikan dulu Niat Lo, baru setelah itu baru kita akan membantu Andi" ujar Ardiyan.


"Baiklah Ar."Bales Dika singkat.


"Ya sudah, sebaiknya kita berangkat sekarang nak, biar kita bisa istirahat sebelum malamnya bersilaturahmi dengan keluarga Nina" Sambug Ustadz Khairul yang sejak tadi hanya mendengar pembicaraan Ardiyan dan Dika.


"Baiklah bi, " bales mereka, lalu mereka pun menaiki mobil masing-masing Ardiyan Anisah Dimas dan Lisa berada satu mobil dengan di kemudikan oleh Dimas.


Sedangkan Dika Ustadz Khairul, Umi dan Nina berada di mobil Dika tentu saja Dika yang menyetir sendiri.


Sedangkan Wira dan Asyifa berada di mobil Wira, dengan di kemudikan oleh Rendi anak buah Wira dan Meraka pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. dan butuh waktu dua jam setengah untuk mencapai kampung Lisa jadi perjalanan masih lama..


Di dalam mobil Ardiyan dan Dimas..


"Sudah berapa lama Anti tidak pulang ty?" tanya Anisah pada Lisa yang duduk di sebelahnya. ya Anisah dan Lisa duduk berdampingan di kursi penumpang, sementara Ardiyan dan Dimas duduk di kursi depan.

__ADS_1


"Mungkin sudah sepuluh tahun ty, sejak peristiwa kecelakaan itu, ana di Bawak om tinggal di rumahnya, dan kemudian om langsung memasuki ana di pondok An-Nur" jawab Lisa ada kesedihan saat bercerita.


"Ma syaa Allah, lama sekali ya ty, lalu siapa yang merawat rumah Anti?" tanya Anisah lagi.


"Ana tidak tahu ty, kalau kata om ana masih pembantu kami" jawab Lisa seadanya.


"Oh Alhamdulillah, yang penting rumah Anti masih terjaga ty " ujar Anisa


' na'am ty, in syaa Allah"


"Yang?, kenapa kampung mu jauh sekali sih yang, ini seperti tempat jin buang Anak yang " Ujar Dimas saat mobil mereka memasuki kawasan perkebunan kelapa sawit dan perkebunan karet.


"Hust, bang Dimas ngomongnya Asal deh!" tegur Anisah


"Ya habis dari tadi aku tidak melihat rumah satu pun Nis dan hanya hutan begini" keluh Dimas.


"Ya sabar dong bang, namanya kita memang di kawasan perkebunan jadi tidak ada rumah di daerah perkebunan bang" bales Anisah


"Iya bie, sabar dong sebentar lagi juga kita akan memasuki kawasan pedesaan kok" timpal Lisa juga.


"Oke deh yang, tapi kampung mu tidak seseram beginikan yang?" tanya Dimas penasaran


"Nggak bie, cuma memang agak sepi sih" jawab Lisa seadanya.


"Wah, kalau malam seram dong yang?" tanya Dimas lagi sambil bergidik. dan saat bersamaan Ardiyan melihatnya, lalu ia tersenyum nakal, yaa Dimas selalu nampak gagah dan pemberani bila menghadapi musuh sebanyak apapun, tapi ia kucur bila bersangkutan dengan hal yang tahayul. itu karena ia pernah melihat hal yang gaib, waktu mereka kemping di pegunungan saat mereka masih bersekolah dan sejak itu ia menjadi penakut bila harus pergi kehutan atau pegunungan.


"Ternyata desa ini masih sepi ya, tapi sangat indah dan nampak Asri sekali" Ujar Ardiyan saat melihat suasana desa.


"Iya bang Diyan, di sini orang-orangnya selalu menjaga ke indahan desa ini " sambung Lisa..


"Rumah kamu mana yang?" tanya Dimas yang sepertinya tidak sabar ingin melihat rumah Lisa.


"Di sana bie, di perbukitan itu " ujar Lisa sembari jari jempolnya menunjukkan sebuah bukit, dan iya, nampaklah dari jauh ada sebuah rumah di sana. dan di sekitarnya ada perkebunan teh.


"Ma syaa Allah, indah sekali rumah Anti, nampak sejuk, ana seperti melihat sebuah lukisan " kata Anisha dengan mata berbinar takjub.


"Iya ty, memang indah" bales Lisa membenarkan perkataan Anisah.


"Perkebunan teh yang di sekitar rumah itu milik siapa Lis?" tanya Ardiyan.


"Dulu itu milik Abi ana, tapi nggak tahu sekarang bang" jawab Lisa dan saat bersamaan mobil mereka pun berhenti tepat di depan rumah besar yang nampaknya kurang terurus.


"Ay, dari jauh nampak indah, tapi begitu dekat kayak rumah hantu!" Ceplos Dimas saat ia telah turun dari mobilnya.


"Astaghfirullah, bang Dimas!, ngomongnya kok Asal sih" tegur Anisah.

__ADS_1


"Tau nih bibie, sembarangan banget ngomongnya!" timpal Lisa yang sedikit kesal juga dengan perkataan suaminya.


"Eh maaf yang..aku nggak bermaksud.."


"Sudahlah bie, ayo kita masuk Nis ?" ujar Lisa memotong perkataan Dimas dan juga mengajak Anisah masuk ke rumah besar itu.


"Waduh, sepertinya Ayang mbeb gue marah tuh" keluh Dimas saat Lisa masuk tanpa mengajak dirinya..


"Ya elo, ngomong kok, asal jeplak aja," kata Ardiyan.


"Ya maaf, bro" ucap Dimas merasa bersalah.


dan saat bersamaan mobil yang di tumpangi Dika dan mobil yang di tumpangi Wira baru memasuki gerbang rumah Lisa juga. saat mereka turun..


"kok lama nyampenya bi ?" tanya Ardiyan saat melihat Ustadz Khairul turun dari mobil.


"Tadi kami mengantar nak Nina dulu nak ke rumahnya, diakan calon pengantinnya jadi harus di pingit satu hari nak" jawab Ustadz Khairul.


"Oh gitu, ya sudah Ayo bi, mi kita masuk " Ajak Ardiyan pada mertuanya.. dan akhirnya mereka pun masuk ke rumah besar berlantaikan dua itu. dan di ikuti oleh sahabat Ardiyan yang lainnya.


Dan sampainya di dalam Dimas hanya melihat Anisah duduk seorang diri dan ia tak melihat istrinya.


"Loh Nis, ke mana Lisa?" tanya Dimas penasaran.


"Lisa di lantai dua bang, di kamar paling ujung" jawab Anisah.


"Oh, ya sudah aku kesana ya"


"Iya bang" Dimas pun menaiki tangga lalu ia pun menghampiri kamar yang di tunjuk Anisah saat di depan pintu, ia mendengar suara isakan dan dengan cepat ia pun membuka kamar itu.


dan terlihatlah istrinya yang sedang menangis di depan sebuah pigura besar berfotokan sepasang suami istri dan seorang gadis kecil yang sedang tersenyum.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Dimas dan langsung memeluk istrinya


"hiks, Lisa rindu.. hiks.. mereka bie..hiks..hiks.." tangis Lisa pecah tatkala suaminya bertanya dan Dimas yang sepertinya paham akan kesedihan Lisa membiarkan Lisa menangis di dadanya dan ia pun mengusap-usap punggung Lisa..


" Sssth, jangan menangis lagi sayang, bibie yakin orang tua kamu pasti sudah bahagia di sana, lihatlah, mereka sedang tersenyum bahagia sayang " Ujar Dimas lembut dengan pandangannya ke arah pigura besar yang terpajang di atas kepala tempat tidur.


"Kalau kamu merindukan mereka, maka hadiahkanlah Al-fatihah pada mereka, maka kerinduanmu akan sampai pada mereka ya, yang.." tambah Dimas lagi,


"In syaa Allah bie hiks" bales Lisa yang masih terisak.


"Ya sudah kamu istirahat ya, kamu pasti lelah dengan perjalanan kita " ujar Dimas lagi sambil menggiring Lisa dan membawanya ke tempat tidur lalu menyuruh Lisa berbaring di ranjangnya dan tak lama Lisa pun terlelap dan Dimas pun menyelimuti istrinya lalu mengecup keningnya dengan lembut, setelah itu ia pun keluar dari kamar itu..


*****"******

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya..


LIKE, VOTE DAN KOMENTAR SELALU AUTHOR TUNGGU SYUKRON πŸ™πŸ˜Š


__ADS_2