Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek

Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek
Ngidam


__ADS_3

22:30 Ardiyan dan Dimas sudah sampai di kota Bt, dengan menempuh perjalanan 5 jam di karena kota itu kota kecil maka mereka kesana dengan mengendarai mobil membuat Ardiyan dan Dimas begitu lelah. Dan kini mereka berada di sebuah hotel.


"Alhamdulillah, akhirnya bisa meluruskan badan juga, sungguh melelahkan" ucap Ardiyan yang langsung membayangkan tubuhnya.


"Melelahkan? Perasaan dari tadi molor Mulu dah, sekalinya melek nyusahin Mulu" bales Dimas.


"Ah, nggk ikhlas banget sih Lo, jadi orang, gue juga nggak mau kayak gini"


"Udah akh, gue mau mandi aja, ngeladeni Lo nggak bakal menang, sebaiknya Lo telpon binik Lo deh, mungkin dia nunggu kabar dari Lo" tutur Dimas ia pun langsung melangkah menuju kamar mandi.


"Oh iya gue video call dia deh kangen lihat wajah cantik nya, soal udah empet lihat wajah somp**k dari tadi" ucap Ardiyan rada mengejek.


"Cih, gue juga empet lihat wajah sok ganteng" bales Dimas langsung nutup pintu kamar mandi. Sementara Ardiyan mengambil ponselnya dan mulai melakukan panggilan video. Dan tak lama panggilan di jawab Anisah.


Anisah πŸ“±"Assalamualaikum hubby "


Ardiyan πŸ“±" wa'alaikum salam sayang"


Anisah πŸ“±" Hubby sudah sampai?"


Ardiyan πŸ“±" Alhamdulillah sudah sayang"


Anisah πŸ“±" Alhamdulillah.. gimana keadaan hubby sekarang? Masih mual dan muntah?

__ADS_1


Ardiyan πŸ“± " hmm masih sayang, tapi yang penting kamu tidakkan?


Anisah πŸ“±" Alhamdulillah Nisah baik-baik saja. hmm maaf ya hubby, seharusnya Nisah yang mengalaminya, tapi Nisah nggak tahu kenapa jadi terbalik" ucapnya dengan wajah sendu, membuat Ardiyan merasa kasian.


Ardiyan πŸ“± " sayang, jangan sedih ya, uby malah bersyukur, karena uby bisa mengalami proses ini, jadi uby bisa tahu betapa sulitnya bagi calon ibu yang menjalani kehamilannya, bagi uby ini adalah satu anugerah juga, karena uby bisa merasakan gimana sulit umi kitakan"


Anisah" Maa syaa Allah, Nisah juga sangat bersyukur, hubby selalu mengambil hikmah dari semuanya"


ArdiyanπŸ“± "Alhamdulillah sayang,.. ya sudah ini sudah larut, sekarang kamu istirahat ya, nggak baik ibu hamil tidur terlalu larut"


Anisah πŸ“±" Iya hubby kalau gitu, Nisah tidur ya, hubby juga harus istirahat, Assalamualaikum hubby"


Ardiyan πŸ“±" Iya sayang, wa'alaikum salam" panggilan pun di akhiri. Dan bertepatan juga Dimas keluar dari kamar mandi.


Baru saja Dimas terlelap tiba-tiba tubuhnya di guncang-guncang, saat membuka matanya ternyata Ardiyan.


"Apaan sih Lo, ganggu aja" ucap Dimas dengan mata yang kembali di pejamkan.


"Gue kepingin nasi uduk pakai ayam goreng yang sambalnya harus pedas, cepat carikan dim" tuturnya.


"Gila apa Lo ini udah jam berapa, lihat noh jam berapa,"


"Jam satu, pasti masih ada, ayolah gue pingin yang di pinggir jalan gitu"

__ADS_1


"Haa tumben-tumbennya, biasanya juga Lo jijik makan di pinggir jalan"


"Haiis banyak protes Lo, gue potong gaji Lo ya!"


"Alamak nih orang kayak perempuan nyidam aja"


"Lahkan emang iya bang, adek lagi ngidam anak mu sayang" ucap Ardiyan dengan gaya ngondeknya,


"cih najis, banci murahan"


"Hahaha sialan Lo, udah ayo ntar anak gue ngeces lagi" ucap Ardiyan sambil menggandeng tangan Dimas bak wanita mengandek suaminya.


"Hadeeh, mimpi apa gue, yang hamil siapa yang ngidam siapa? kenapa gue yang jadi susah" gerutu Dimas, sambil berusaha melepaskan diri dari tangan Ardiyan,


"Idih abang, jangan lepas, adekan lagi Ngidam" ucap Ardiyan masih ngondeknya.


"Cih!, bikin mual lepas banci kaleng!" Ucap Dimas kesal " Ommaak tolong Dimas!" teriaknya sambil lari ninggalin Ardiyan dan akhirnya mereka kejar-kejaran hingga parkiran.


Bersambung


-----------------


sepertinya novelnya tidak berkesan πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”

__ADS_1


__ADS_2