Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek

Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek
ISTRI SHOLEHAHKU


__ADS_3

🌸Mutiara Hikmah🌸


Engkau takkan mampu menyenangkan semua orang, karena itu cukup bagimu memperbaiki hubungan mu dengan Allah dan jangan terlalu perduli dengan penilaian manusia"


🌸~>Imam Syafi'i<~🌸




Keesokan harinya..



8:30


Anisah dan Ardiyan masih tertidur pulas saat pintu ruang rawat Ardiyan di ketuk seseorang.


Sebenarnya mereka sudah bangun saat subuh untuk menunaikan kewajibannya Namun setelah selesai mereka tertidur kembali,



Tok, Tok Tok Tok..



Ardiyan yang mendengar ketukan itu pun langsung membuka matanya dan ia telah melihat Dimas dan Dika sudah duduk di sofa.



"Wajah, tuan dan nyonya Masih memamerkan kemesraan aja jam segini.." celetuk Dimas sambil menggelengkan kepalanya. Namun di bales dengan Ardiyan dengan menaruh jari telunjuknya di mulut, memberi isyarat jangan berisik,



setelah itu dengan perlahan Ardiyan bangkit dari tidurnya, dan kemudian menarik penyangga tempat botol infus tergantung dan berjalan perlahan menuju keluar ruangan sebelumnya memberikan isyarat agar mereka ikut keluar..



Sesampainya di luar ruangannya, Ardiyan duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangannya. Dan di ikuti oleh Dimas dan Dika.



"Haii.. baru kali ini dokter mengikuti perintah pasien, dimana-mana pasien yang ngikutin perintah dokter bro " protes Dika, yang sebenarnya dia hendak meriksa keadaan Ardiyan, tapi malah di suruh ngikutin dia.



"Sssth, berisik Lo, kalau mau periksa ya periksa aja, jangan banyak protes" ujar Ardiyan sambil menaruh jari telunjuknya kembali ke bibirnya.



"Hmm ya sudah sini gue periksa keadaan Lo sekarang"ujar Dika sambil menarik stetoskop nya dari kantungnya dan mulai meriksa keadaan Ardiyan. Setelah selesai..



"Gimana?, Biasakan gue pulang hari ini?, Dan harus bisa!" Tanya Ardiyan tidak sabaran dan sedikit memaksa.



"Iya iya bisa pulang..hais untung cuma Lo pasien gue yang suka memaksakan kehendaknya" bales Dika, sembari mengantongi kembali stetoskopnya.



"Baguslah, itu baru dokter yang baik menuruti keinginan pasiennya" ujar Ardiyan lagi.



"Iya Kalau ada apa-apa entar gue juga yang di tuntut kalau harus nurut pada pasiennya" protes Dika.



"Udah nikmati aja Napa bro, Nggk rugi ini " Timpal Dimas



"Pale Lo peyang!" celetuk Dika



"Sudah sudah, ngomong-ngomong, sudah sampai mana penyelidikan Lo berdua? Dan gimana kakek gue amankan Dik?" Tanya Ardiyan kepada kedua sahabatnya itu.



" Kakek Lo aman kok Ar, seperti dugaannya Lo, benar, " ujar Dika melaporkan penyelidikannya yang berhubungan dengan kakek Ardiyan.



"Sudah gue duga, tetap Lo awasi keadaan kakek gue, jangan sampai lengah, karena musuh terlalu licik" titah Ardiyan pada Dika yang menangani kakeknya, " dan Lo Dim, gimana ?" Tanyanya lagi pada Dimas.

__ADS_1



"Sama mereka juga orangnya, cuma yang harus kita waspadai adalah si wanitanya, karena ia mulai berani dengan melibatkan geng Bagong bro.." Bales Dimas



"Hmm sepertinya kita harus melibatkan Wira Dim, karena setau gue, Wira punya teman di geng itu juga, jadi kita bisa membalikan apa yang wanita itu inginkan maka dialah yang akan kenak batunya" tutur ardiyan lagi.



"Sepertinya keinginan Lo sudah terkabul bro, kemarin Wira juga sudah menghubungi temannya itu sesuai rencana Wanita jahat akan di lakukan oleh teman Wira" bales Dimas



"Baguslah, sekarang kalian tinggal kumpulkan semua bukti kejahatan mereka, biar sesegera mungkin kita akhiri permainan mereka, oke." ujar Ardiyan lagi



"Oke!" jawab mereka berbarengan.



"ya sudah kalau gitu, oh ya jam berapa gue bisa pulang Dik?" tanya Ardiyan pada Dika,



"Sehabis Air di botol infus itu, Lo bisa pulang kok" jawab Dika



"Baguslah, kalau begitu kalian bisa pergi, gue mau istirahat lagi sambil menghabiskan Air infus ini" ujar Ardiyan lagi sambil ia bangkit dari duduknya dan melakah perlahan menuju ruangannya lagi, sementara Dimas dan Dika masih duduk disana dan sepertinya masih mengobrol.



\*\*\*\*\*\*\*



Di dalam ruangan..


ternyata Anisah sudah terbangun ia duduk di sisi ranjang dengan wajah yang belum mandi.



"Assalamu'alaikum sayang, sudah bangun?" tanya Ardiyan setelah salam.




"Hubby dari mana?" tanyanya lagi.



"Dari luar sayang, ngobrol sebentar tadi sama Dimas dan Dika"



"Oh, terus kapan hubby boleh pulang?"



"Hari inj juga kata Dika tapi tunggu air infus di botol itu habis sayang."



"Alhamdulillah kalau gitu hubby, ya udah Nisah mandi dulu ya"



"Iya sayang mandi yang wangi yaa biar betah melukmu nanti"



"Emang tadi nggak betah ya? karena Nisah belum mandi"



"Betah kok sayang, cuma kalau habis mandikan wanginya segar pasti nggak ingin lepas deh" ujar Ardiyan sambil mengedipkan matanya.



"Iis mulai genit deh, ingat masih sakit nggk boleh genit-genit, bahaya loh by" ujar Anisah mengingatkan suaminya.



"Bahaya kenapa?, lagian hubby genit cuma sama istri sendiri pun" protes Ardiyan

__ADS_1



"Iya dah, terserah hubby saja.. Nisah mau mandi dulu akh udah gerah" ujar Nisah sembari melangkah ke kamar mandi.



"Eh, kok gerah ruangan ini kan pakai AC sayang?" tanya Ardiyan heran.



"Iya Nisah gerah lihat hubby sekarang makin genit tahu huh" Pekik Anisah di dalam kamar mandi.



"Hahaha, jangan jeles-jeles sayang, nanti cantiknya hilang loh" ledek Ardiyan dengan suara di keraskan agar sang istri dengar.



"Biarin!" bales Anisah singkat.



"haii, Bumil mood selalu berubah-ubah ya, kadang manja, kadang tukang marah, tapi bikin gemas deh" gumam Ardiyan yang nggak ingin meladeni istrinya yang lagi badmood



tidak lama kemudian Anisah kembali keluar dan sepertinya ia telah selesai mandi.



"Sudah siap sayang mandinya?" tanya Ardiyan lembut.



"Na'am sudah by" Balesnya singkat.



"Alhamdulillah, coba sini hubby cium sudah wangi belum..? pinta Ardiyan yang melihatnya tampak segar dan nampaknya ia habis keramas karena membiarkan rambut basahnya yang panjang tergerai begitu saja, membuat Ardiyan nggak tahan ingin menciumnya,



Anisah selalu menuruti apapun keinginan suaminya, semarah apapun dia, tapi tetap ia taat terhadap Ardiyan, karena ia selau ingat akan sebuah hadits:



Ketaatan seorang istri pada suaminya disebut setara nilainya dengan jihad kaum lelaki. Hal ini diriwayatkan dari Asma' binti Yazid Ra. ketika ada seorang perempuan yang datang kehadapan Nabi dan berkata, :



"Wahai Rasulullah SAW, saya mewakili kaum wanita untuk menghadap tuan (untuk menanyakan tentang sesuatu). Berperang itu diwajibkan Allah hanya untuk kaum lakilaki, jika mereka terkena luka, mereka mendapat pahala dan kalau terbunuh maka mereka adalah tetap hidup di sisi Allah. lagi dicukupkan rezekinya (dengan buah-buahan Surga). Dan kami kaum perempuan selalu melakukan kewajiban terhadap mereka (yaitu melayani mereka dan membantu keperluan mereka) lalu apakah kami boleh ikut memperoleh pahala berperang itu?"



Mendengar itu, Rasul pun bersabda, "Sampaikanlah kepada perempuan-perempuan yang kamu jumpai bahwa taat kepada suami dengan penuh kesadaran maka pahalanya seimbang dengan pahala perang membela agama Allah. Tetapi sedikit sekali dari kamu sekalian yang menjalankannya."


(HR. Baihaqi)



Anisah pun menghampiri suaminya..



"Ini hubby.." ujarnya seraya mendekati wajahnya pada sang suami, Ardiyan pun menyambutnya dengan senang hati



"Muach..hmm wanginya Isteri Sholehahku, Syukron sayang" ucapnya dan kembali mengecup kening Anisah.



Bersambung


~~~~~~~~\`


Jangan lupa ya..


**VOTE~\>BONUS BUAT AUTHOR



LIKE~\>PEMICU SEMANGAT



KOMENTAR~\>PEMICU INSPIRASI

__ADS_1


SYUKRON 🙏😊


kalau lama update itu di karenakan diriviewnya yang lama, jadi sabar menanti ya guys 🙏**


__ADS_2