Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek

Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek
TERJAWAB SUDAH KEGELISAHAN ANISAH


__ADS_3

📱"Halo Assalamualaikum" Anisah menerima panggilan


📲"Wa'alaikumus salam, Nis ini Dimas" balesan dari seberang..


DEG..dada Anisah seketika berdesir..


📱"Ada apa bang Dimas?"


📲"Nis, kamu datang ke rumah sakit tempat Dika bertugas ya"..bales Dimas, di sebrang


SEERR..dada Anisah kembali berdesir.


📱"Ada apa bang?, siapa yang sakit?" tanyanya penasaran.


📲" Udah pokoknya kamu datang saja, aku tunggu, ya udah aku tutup ya, Assalamu'alaikum" ujar Dimas dan menutup panggilannya.


📱"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh" setelah panggilan berakhir perasaan Anisah semakin nggak menentu. dan terlihat jelas oleh sahabatnya.


"Siapa ty?.. kenapa setelah menerima telepon Anti terlihat gusar? " Tanya Nina yang juga ikut penasaran.


"Dari bang Dimas ty, ana di minta ke rumah sakit" Bales Anisah dengan wajah cemasnya.


"Innalilahi.. siapa yang sakit ty?" tanya Nina lagi.


"Ana juga nggak tahu,.. bang Dimas tidak mengatakannya, cuma kenapa dada ana selalu berdesir, ada apa ya ty?" bales Anisah cemas dan kembali bertanya pada Nina..


"Laa hawla wa laa quwwata illa bil-laah, ty..


Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, serahkanlah semuanya pada Allah ty" Ujar Nina lagi


"لَا حَوْلَ وَلَّا قُوْةَ اِلَّا بِاللٌَهِ اَلٌِيِ الْعَجْمِ


"Na'am ty, in syaa Allah, Syukron" Bales Anisah mulai tenang.


"Afwan.. sebaiknya sekarang kita makan dulu ty, setelah baru ke rumah sakit, nanti ana temani" Ajak Nina agar Anisah mau makan.


"Alhamdulillah.. Syukron ty, sudah mau Nemani ana ke rumah sakit, ya sudah kalau kita makan yuk" bales Anisah senang karena Nina bersedia menemani ke rumah sakit.


Dan akhirnya mereka pun makan, tapi Anisah tidak begitu berselera, karena kegusaran di hatinya belum terjawab..


"Kok sudah nak,? sedikit sekali kamu makan nak?" tanya Umi syadiah yang melihat Anisah mengakhiri makannya.


"Alhamdulillah, Nisah sudah kenyang mi" bales Anisah beralasan kenyang, padahal ia tak berselera.


" Ya sudah kalau begitu, tapi nanti kalau lapar makan lagi ya nak,.. ingat loh kamu nggak sendirian, ada seorang anak di rahim kamu nak" Ujar umi syadiah, mengingatkan Anisah.


"Na'am mi, in syaa Allah," Balesnya lembut " Umi?.. Nisah dan Nina mau izin kerumah sakit yaa" lanjut Nisah lagi Meminta izin pada sang umi.

__ADS_1


"Siapa yang sakit nak?" tanya umi penasaran.


"Nisah juga belum tahu mi, cuma bang Dimas tadi yang meminta Nisah kesana" Bales Anisah, yang memang ia tak tahu, dan ia juga begitu penasaran,


"Ya sudah kalau begitu, pergilah nak..dan ingat selalu berhati-hati ya nak.."


"Iya umi in syaa Allah, ya sudah kami pamit ya mi" pamiit Anisah sembari salam tangan uminya serta mengecupnya dan di susul oleh Nina juga.


"Assalamu'alaikum umi" Salam mereka berbarengan.


"Iya nak, wa'alaikumus salam" setelah mendapatkan balesan salamnya mereka pun keluar menuju mobil Anisah yang di supiri oleh mang Aji.


Setelah mereka masuk mobil, mang Aji pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, di dalam mobil Anisah tak banyak bicara, karena di saat ia memasuki mobil dada kembali bergemuruh semakin cepat, jadi di sepanjang jalan ia hanya beristighfar saja, Nina yang paham akan kegundahan sahabatnya ia pun memakluminya..


lima puluh menit perjalanan dan Akhirnya mereka pun sampai, dan dengan cepat Anisah mencari-cari Dimas, namun saat ia mau menelusuri lorong rumah sakit tiba-tiba ada yang memanggil namanya..


"ANISAH?!!" teriak seseorang memanggilnya, Anisah yang namanya di panggil pun mencari sumber suara tersebut. dan ternyata Dimas yang memanggilnya..


"Bang Dimas?.. Assalamu'alaikum " salamnya ketika mereka sudah berdekatan.


"Wa'alaikumus salam, kamu datang dengan siapa?" tanya Dimas, saat melihat seorang gadis bercadar juga yang menemani Anisah.


"Ini Nina bang, teman Nisah mengajar" bales Anisah memperkenalkan Nina.


"Assalamu'alaikum bang" salam Nina sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Wa'alaikumus salam, terimakasih sudah menemani Nisah" Bales Dimas sambil mengatupkan juga kedua tangannya, Dimas bersyukur Nina mau menemani Anisah karena dia sempat berpikir akan sulit bila Anisah datang sendirian karena yang dia tahu Anisah takut ke rumah sakit, bila tak di paksa atau tak ada teman ia tak mungkin mau datang.


"ya sudah ayoo ikuti aku" Ajak Dimas sambil berjalan menelusuri lorong kamar-kamar.


"Sebenarnya, siapa yang sakit bang?" tanya Anisah penasaran.


"Suamimu lah, siapa lagi" bales Dimas enteng.


"innalilahi.. sakit apa bang?" tanyanya lagi semakin penasaran.


"Ardiyan Kecelakaan Nis..?!"


"innalilahi wa innailaihi roji'un.. terus gimana keadaannya sekarang bang?" Tanya Anisah lagi, dan kini suaranya bergetar antara mau nangis atau karena terlalu takut, untuk mendengar kenyataan yang buruk..


Terjawab sudah, kegelisahan yang selalu mengganggu hati dan pikirannya..


"Tenanglah Nisah, suami mu akan baik-baik saja kok, hanya luka di bagian wajahnya, tapi tadi Dika juga sudah menanganinya, dia juga sudah melewati juga masa kritisnya dan tinggal menunggu dia sadar saja kok" Jelas Dimas pada Anisah, yang setelah ia berkata-kata mereka pun sampai di depan ruangan tempat Ardiyan di rawat.


Dengan cepat Anisah pun menghampiri suaminya yang sedang terbaring tak sadarkan diri, hingga ia lupa dengan Nina, namun Nina memaklumi Sahabatnya itu.


"Assalamu'alaikum Hubby?" Salam Anisah saat sudah mendekati sang suami, namun tak ada jawaban, karena Ardiyan, sedang tidak sadarkan diri..

__ADS_1


"Astaghfirullah, hubby, kenapa jadi begini sih.. bangunlah hubby, Nisah sudah datang " Seru Anisah sambil memegang tangan suaminya, dan tanpa terasa air matanya mengalir, karena tak tega melihat keadaan suaminya yang banyak perban di bagian Dahi, pipi kanannya di lengan kanannya juga ada


karena tidak ada respon dari Ardiyan, Anisah pun kembali bertanya pada Dimas:


"Sebenarnya apa yang terjadi kak Dimas?" tanyanya penasaran.


"Tadi di saat meeting Ardiyan menerima telepon..bla bla.. Dimas mulai menceritakan pada Anisah tentang kejadian yang Ardiyan dan dia alami dan dia juga menjadi saksi kecelakaan itu. sedangkan Anisah hanya diam mendengarkan cerita Dimas.


"Ya Allah, terimakasih kau sudah memberikan kami ujian lagi, dan semoga kami bisa melewatinya dengan penuh kesabaran, maka berikan kami kesabaran yang lebih ya Rabb" Gumam doa Anisah, lirih, setelah selesai mendengar cerita Dimas. dan tiba-tiba pintu kamar berbunyi ketukan. dan muncullah Dika bersama susternya.


"Eh ada ustadazah.. Assalamualaikum ustadazah?" ujar Dika saat melihat Anisah duduk di sebelah pembaringan Ardiyan.


"wa'alaikumus salam dokter Dika." bales Anisah lirih, karena ia sedang nangis.


"Eh ini siapa?" tanya Dika ketika melihat Nina sahabat Anisah..


"Dia Nina teman ana mengajar di pondok juga bang" Bales Anisah memperkenalkan Nina pada Dika..


"wah, Ustadazah juga dong, Assalamu'alaikum Ustadazah Nina..?" Salam Dika pada Nina..


**Bersambung Akh..



Ayoo siapa yang setuju kalau dokter Dika sama Ustadzah Nina?


Author tunggu jawabannya..



Jangan lupa..


VOTE~\> Bonus buat Author.


LIKE~\> Pemicu semangat


KOMENTAR~ Pemicu inspirasi


Jadi jangan di lupakan ya 😉 Syukron 🙏😊\*\*



**OH IYA JANGAN LUPA JUGA SINGGAH DI NOVEL AUTHOR YANG BARU YA**



![](contribute/fiction/1931215/markdown/14639688/1625641106090.jpg)

__ADS_1



**Author selalu menunggu kehadiran kalian guys LOVE YOU ALL 💗**


__ADS_2