
"Jagalah dirimu dari sifat marah. Karena kemarahan itu dimulai dari kegilaan dan berakhir dengan penyesalan."
✳✳•Ali bin Abi Thalib•✳✳
🌻♻♻♻♻♻♻♻♻♻♻♻♻♻♻♻♻🌻
Kebahagiaan terpancar dari wajah kakek Rusdi, apalagi di saat keponakan kesayangan serta cucu kesayangannya, saling berpelukan.
"Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah memberikan aku kesempatan untuk menyaksikan anak dan cucuku saling akur satu sama lainnya terimakasih ya Allah" Ujar kakek sembari ia berdiri dan melangkah perlahan mendekati Ardiyan dan Radit, lalu ia pun ikut serta dalam pelukan mereka.
"Kakek?, terimakasih kek, terimakasih untuk segalanya, " ucap Ardiyan mempererat pelukannya,
"Terimakasih juga Om, sejak papa nggak ada omlah yang selalu jaga Radit dan mama, dan maaf Radit bukannya bales Budi malah mengacaukan keluarga om, maaf ya om" ujar Radit penuh penyesalan, dan air matanya tanpa terasa pun mengalir., kakek pun mempererat pelukannya juga terhadap Radit
"Om sudah memaafkan mu nak, dan om berharap hal ini tidak terjadi lagi" ucap sang Kakek Rusdi lagi.
"Maa syaa Allah indahnya pemandangan ini" ujar seseorang yang tiba-tiba masuk
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" lanjutnya lagi mengucapkan salam.
"Abi, Umi?, " Lirih Ardiyan, ya ternyata yang datang adalah kedua mertuanya.
"Wa'alaikumus Salam" jawab mereka serentak"
"Maa syaa Allah, hari ini memang hari yang indah, setelah keluarga ana saling memaafkan langsung di hadiahkan kedatangan keluarga besan" ujar kakek Rusdi langsung menyambut ustadz Khairul dengan pelukan
"Alhamdulillah, kami jadi hadiah bagi keluarga bapak, memang besar dampak bila kita saling memaafkan selain mendapatkan keberkahan juga akan mendapat Ampunan dari Allah, seperti yang di katakan dalam Al-Qur'an
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(QS. An-Nur :22)"
Ujar Ustadz Khairul menambah sedikit pencerahannya.
"Alhamdulillah, tambah lagi ilmunya, Syukron ustadz" ujar sang kakek Ardiyan.
"Na'am pak, Afwan, bentar ya pak ana mau lihat keadaan anak mantu " bales Ustadz Khairul.
"silakan Ustadz kalau begitu ana balik keruang ana dulu maklum orang sepuh penyakitnya sudah banyak" ujar kakek lagi Hendak pamit
"Astaghfirullah ada-ada saja pak, ya sudah nanti ana keruang bapak deh" bales Ustadz Khairul
"ana tunggu Ustadz, ya sudah pamit semuanya Assalamu'alaikum" ujar kakek dan di akhiri salam.
"Wa'alaikumus salam" Jawab mereka, dan akhirnya kakek Rusdi, Ayah Dimas, serta Radit keluar dari ruangan Ardiyan, sedangkan Wira dan Dimas, keluar dan duduk di ruang tunggu sepertinya mereka sedang berbicara.
Tinggallah mereka bertiga, umi syadiah Ustadz Khairul, serta Ardiyan.
Ustadz Khairul pun menghampiri Ardiyan..
"Bagaimana keadaan mu nak?"
__ADS_1
"Alhamdulillah Diyan sudah baikan Abi'
"Alhamdulillah, maaf nak Abi dan umi baru bisa datang sekarang" ujar Ustadz Khairul lagi.
"Nggak papa kok bi, Diyan paham dengan situasi Abi"
"Alhamdulillah, kalau kamu paham"
"Iya bi'
"Loh Anisah mana nak?" tanya umi yang baru buka suara
"Hehehe, maaf mi Anisah lagi Diyan sembunyikan" Jawab Ardiyan sambil cengengesan.
"Sembunyikan? piye toh umi kok nggak mudeng?" ujar Umi syadiah dengan logat aslinya nongol
"Ituloh umi, tadikan..." Ardiyan pun menceritakan semuanya yang terjadi pada umi dan Abinya makanya Anisah ia titipkan pada dokter Dika.
"ada-ada saja kamu nak, tapi Alhamdulillah semuanya lancarkan?" Tanya Abi yang juga ikut mendengarkan cerita Ardiyan.
"Alhamdulillah bi, seperti yang Abi dan umi lihat tadi " bales Ardiyan dan di saat bersamaan muncullah seorang wanita bercadar dengan membawa sebuah kotak makanan.
"Assalamu'alaikum" salamnya
"Wa'alaikumus salam" jawab mereka berbarengan.
"Umi, Abi? sudah lama datangnya?" tanya Wanita itu, yang ternyata Anisah.
"Alhamdulillah belum begitu lama nak"
"Kok report sih, mana ada melihat anak sendiri jadi repot, justru kami senang nak" timpal Abinya Anisah
"Tapi kenapa sudah mau pulang saja nak emang kamu merasa sudah sebuh nak?" tanyanya lagi pada Ardiyan.
"mau gimana lagi bi, dari pada nanti ada orang yang jerit-jerit lagi bisa berabe kan bi" bales Ardiyan sambil matanya melirik Anisah.
"Isss, hubby, jangan bikin malu Nisah deh" protes Anisah dengan wajah memerahnya.
hahahaha mereka pun pada tertawa melihat Anisah menjadi malu-malu kucing.
"Sudah sudah, sebaiknya kalian siap-siap dulu Abi sama umi mau lihat kakek kamu dulu ya nak, tidak enak membiarkan beliau menunggu lama" ujar Ustadz Khairul lagi
"Iya bi, silahkan, salam sama mereka ' bales Ardiyan
"Ya sudah kami kesana ya, Assalamu'alaikum" pamit Abi dan umi Anisah.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh" bales Ardiyan dan Anisah, setelah mendapatkan Jawaban Ustadz Khairul dan istrinya pun pergi meninggalkan mereka. kini tinggallah mereka berdua.
"Mana omelette untuk ku sayang?" tanya Ardiyan yang ingat kalau istrinya tadi pergi untuk memasak omelette.
"Nih," bales Anisah singkat sambil menyerahkan kotak makanan.
"Eh.. ala maaak, sepertinya isteri sedang merujak, eh salah merajuk deng " candaan Ardiyan yang melihat istrinya sedang cemberut.
__ADS_1
"Nggak lucu !" bales Anisah ketus.
"Emang nggak lucu sayang, ubbykan bukan pelawak" candanya lagi.
"hmm"
"Sayangku, cintaku, my darlingku, maafkan daku sayang, jangan ngambek lagi ya, sini sayang.."' Rayu Ardiyan dan meminta istrinya untuk mendekat padanya, tetap Anisah akan menuruti sang suami, ia pun mendekati Ardiyan.
"Kesini lagi" titahnya lagi, dan Anisah ngikutin lagi.
"Dekatkan wajahnya" titahnya lagi Anisah pun mendekati wajahnya.
"Cup", satu kecupan mendarat ke dahi Anisah.
"Cup..Cup" Dua kecup mendarat ke kedua pipinya
"Cup" satu lagi mendarat ke hidung mancungnya
"Muach" dan terakhir ke bibir merah meronanya membuat Anisah tersenyum manis. melihat istrinya tersenyum Ardiyan menjadi lega.
"Alhamdulillah, Akhirnya isteri cantik ku tersenyum kembali" ujar Ardiyan lega.
"Hmm hubby.?."
"Iya sayang?"
"Maaf "
"Buat apa sayang"
" Maaf karena sikap Nisah yang suka berubah-rubah sekarang" ujar Anisah tulus.
"Tidak apa-apa sayang, ubby maklumi kok, karena kata orang wanita yang sedang hamil moodnya suka berubah-rubah sayang, Jadi kamu tidak perlu meminta maaf kok" bales Ardiyan lembut.
"Alhamdulillah ternyata suami Nisah penuh pengertian yaa, "
"Iya dong sayang, itu harus, biar isteri tercintaku akan selalu nyaman berada di sisiku" Ujar Ardiyan sembari menarik istrinya ke dalam pelukannya,
"Sayang?"
"Iyah by?
"Sekarang Tidak bisa Rapat lagi " ujarnya membuat Anisah bingung.
"Apanya Tidak bisa rapat by?" tanya Anisah penasaran.
"Pelukannya sayang, karena perut kamu sudah membesar jadi nggak bisa rapat hehehe" Bales Ardiyan melepaskan pelukannya lalu mengelus perut Anisah yang mulai membuncit.
Bersambung
maaf ya kalau hari ini kurang seru.
itu karena Author lagi sakit gigi 😭😭
__ADS_1
Jadi nggak konsen deh 😭😭