Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek

Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek
Bidadari Sholehah.


__ADS_3

"So pasti beres dong bos, gue yakin sebentar lagi mereka gulung tikar, dan asal Lo tahu aja ternyata kita kalah cepat kakek Lo sudah bertindak duluan bro" ujar Dimas.


"Hm nggak heran kalau dia berbuat begitu, ternyata dia masih belum percaya sama gue, ya sudah biarkan saja," bales Ardiyan datar lalu Ardiyan memberikan sebuah kertas pada Dimas, "Pergi tebus obat ini" ucapnya lagi lalu ia pun langsung kembali keruangan Anisah di rawat.


Sesampainya di sana Ardiyan melihat istrinya yang sedang tertidur, ia pun menghampirinya dan dia terus memandangi wajah pucat sang istrinya, ada penyesalan di dalam hatinya. Saat dia sedang hanyut dalam pemikirannya tiba-tiba seseorang masuk.


"Assalamualaikum, nih obat binik Lo, nih makanlah tadi gue juga mampir ke kantin gue yakin pasti Lo belum makan" ternyata Dimas yang datang menyerahkan bungkusan pada Ardiyan.


Wa'alaikum salam.. thanks Dim" Bales Ardiyan dan menerima bungkusan dari Dimas, " Oh ya dim gue minta tolong, Lo kerumah minta sama bi Asih pakaian Nisah lengkap sama hijab dan cadarnya ya, dan Bawak ke mari" tambahnya lagi.


"Oke, ya udah gue pergi Assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam" Dimas pun pergi meninggalkan ruangan tersebut. Setelah Dimas pergi Ardiyan pun meletakkan bungkusan keatas meja.

__ADS_1


"Hubby" suara Anisah membuat ia tersentak.


"Sayang, kamu sudah bangun? Bagaimana sekarang, apa masih ada yang sakit?" Tanya Ardiyan penuh perhatian.


"Alhamdulillah Nisah sudah baikan kok by" bales Anisah lembut.


"Alhamdulillah, sekarang kamu makan ya, biar kamu dan anak kita tambah sehat" ujar Ardiyan dan di anggukkan Anisah, Ardiyan pun mengambil semangkuk bubur di meja lalu menyuapi Anisah penuh hati-hati.


"Anisah?"


"Maafkan hubby yaa, karena ubby kau dan anak kita hampir celaka, mungkin bila waktu itu aku mengikuti saran Dimas untuk kerumah sakit, pasti kejadian ini tidak terjadi," ucap Ardiyan penuh penyesalan.


"Hubby?, Nisah sudah memaafi kok bahkan sebelum hubby memintanya, jangan sedih lagi ya, semua yang terjadi, sudah kehendak Allah hubby,, ini ujian buat kita, seberapa sabar kita menghadapi ujian ini, bila kita bisa melewatinya maka akan menjadi ladang pahala buat kita, jadi jangan pernah menyesali yang telah terjadi anggaplah ini jadi pembelajaran buat kita hubby." Jelas Anisah lembut, membuat hati Ardiyan sedikit tenang.

__ADS_1


"Tapi ubby hampir membunuh anak kita" bales Ardiyan lirih. Anisah pun menggenggam tangan Ardiyan seakan memberi kekuatan pada suaminya, lalu ia pun tersenyum lembut pada Ardiyan.


"Hubby?.. bila itu terjadi, berati Allah belum percaya menitipkan anak sama kita," tutur Anisah lembut, lalu ia menarik tangan Ardiyan dan meletakkannya di perut Anisah "Tapi kenyataannya dia baik-baik saja, berati Allah masih menginginkan kita menjadi Abi dan uminya, iyakan?" Tambahnya lagi membuat Ardiyan benar-benar kagum akan istri kecilnya, lalu ia pun mengelus perut Anisah dan menciumnya juga,


"maafkan Abi ya nak, dan terimakasih masih tetap ada di rahim umi, selalu jadi anak yang kuat ya, dan bantu Abi jaga umi ok " ucap Ardiyan pada perut Anisah dan mengecupnya lagi,


"In syaa Allah biyah adek akan menjadi anak yang Sholeh dan kuat " bales Anisah, dengan menirukan suara Anak kecil. membuat Ardiyan tersenyum, lalu ia pun mengecup kening Anisah.


"Terimakasih sayang, ini akan menjadi Pembelajaran yang paling berharga, Syukron Bidadari Sholehahku " Ucap Ardiyan lalu ia membaringkan tubuhnya di samping Anisah lalu memeluknya dengan lumbut.


Bersambung.


------------------

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak yaa 🙏😊


__ADS_2