
***🌸 MUTIARA HIKMAH 🌸***
Hidup ini seperti buku... 📚
Cover depan adalah tanggal kelahiran..
Cover belakang adalah tanggal kematian.
Dan tiap-tiap lembar halaman adalah hari-hari di dalam hidup kita..!
So
Bagaimanapun gambaran cover depan nya.
Pastikan setiap lembar halamannya bertuliskan kisah-kisah kehidupan kita Yg banyak bermanfaat bagi banyak Orang...!
**[Quote of the day]**
πππππππππππππππππππππππππππππππ
DOOR..DOOR!!
Dua peluru melesat masuk menembus tepat Di Bawah bahu Dimas dan seketika ia langsung Ambruk namun langsung di tangkap oleh Roy.
"Pak Dimas?!" seru Roy dan ia meletakkan kepala Dimas di pangkuannya..
"Hahaha, mampus Lo Dimas! Lo pantas mati! hahaha!" ujar Indra Puas hingga tertawa Terbahak-bahak karena merasa menang namun..
DOOR..DOOR!..Dua peluru melesat kembali dan kali ini menembus ke dada Indra, dan seketika ia pun ambruk juga, karena di tembak oleh salah satu polisi yang ada di sana, polisi itu menembak Indra karena di tangannya masih memegang pistol yang ia rebut dari salah satu polisi, jadi untuk menghindari adanya korban lagi, ia pun terpaksa harus di tembak..
Roy, tidak memperdulikan lagi tentang apa yang terjadi di ruangan rapat itu, ia hanya memperdulikan bosnya saja dan dengan cepat ia menelpon Ambulance agar mereka segera datang, tapi karena takut terjadi hal yang tidak di inginkan, Akhirnya Roy langsung membopong tubuh Dimas yang sudah tidak sadarkan diri itu menuju ke mobilnya setelah sampai ia pun memasuki di ke mobil dan dengan cepat ia juga masuk. dan tak lama mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi.
Roy, Begitu cemas dengan keadaan Bosnya jadi ia melajukan mobilnya dengan cepat, ia sudah tak perduli dengan keselamatan mereka. dan tak berapa lama mobil pun memasuki Area rumah sakit dan dengan cepat ia kembali membopong bos..
Dan di saat bersamaan Roy berpapasan dengan Ardiyan yang kebetulan habis menjenguk Ayah Dimas di rumah sakit itu Ardiyan sangat terkejut dengan apa yang ia lihat..
"Astaghfirullah, Dimas?!, apa yang terjadi Roy?" tanya Ardiyan panik..
__ADS_1
" Pak Dimas di tembak oleh pak Indra, pak, saat Rapat!" Jawab Roy dengan wajah di penuhi dengan keringat akibat ia menggendong Dimas seorang diri.
"Cepat bawak dia dan panggil dokter cepat!" Seru Ardiyan pada para perawat yang sedang mendorong brankar yang di atasnya sudah ada Dimas. Ardiyan begitu cemas dan setelah Dimas masuk ke Ruang operasi, Ardiyan langsung mengambil benda pipihnya dan kemudian ia pun melakukan panggilan.. dan tak berapa lama..
📲" Halo Assalamu'alaikum" salam seseorang dari sebrang..
📱"Wa'alaikumus salam, Dik, gue minta Lo cepat balik sekarang! Dimas tertembak!" ujar Ardiyan yang ternyata ia melakukan panggilan pada Dika dan ia langsung mengatakan sebenarnya tanpa harus berbasa-basi dulu..
📲"Apa!!, Nggak mungkin, secara Dimas singa yang tak mengenal ampun pada lawannya, jadi Lo jangan mengada-ada deh Ar, nggak lucu!" ujar Dika tidak percaya. karena dia tahu sahabatnya itu memang gila bila bercanda namun gila juga bila memburu musuhnya jadi ia tak percaya saat mendengar kena'asan Dimas yang tertembak.
📱" Gue nggak mengada-ada ini fakta kalau Dimas sedang na'as, dan lo jangan banyak omong lagi! Cepat Lo balik!!" Kali ini suara Ardiyan sedikit keras dan tegas.
📲"Oke, oke gue segera balik, ya sudah gue tutup ya, Assalamu'alaikum"
📱"Wa'alaikumus salam" bib, panggilan langsung terputus, lalu Ardiyan memanggil Hans dan Roy.. setelah mereka sudah datang,
"Sekarang ceritakan apa yang terjadi Roy?" tanya Ardiyan begitu penasaran..
"Tadi pak Dimas, mendapatkan ke janggal pada rekening pak Indra, makanya ia meminta saya untuk membuka cctv rahasia di setiap ruangan kepala bagian, dan ternyata mereka bersekongkol untuk menyabotase perusahaan pak!, makanya pak Dimas Meminta saya memanggil polisi karena ia mau menuntaskan hari itu juga, tapi siapa sangka, pak Indra memiliki keberanian untuk merampas pistol dari salah satu polisi yang ada di sana, karena pak Dimas sedang Fokus pada laptopnya, makanya ia tak sempat menghindar lagi saat pak Indra mengarahkan pistolnya pak" Ujar Roy panjang lebar menceritakan apa yang sudah terjadi
"Hm, sepertinya indra mendapatkan dukungan juga dari luar, apa sudah kau selidiki Roy?" tanya Ardiyan.
"Luar negeri?, XL?, bukankah itu perusahaan Axsal, tapi bukankah Axsal masih di penjara? " ujar Ardiyan heran " Hans coba kamu selidiki, siapa di balik Axsal?" Ujar Ardiyan yang nampak geram.
"Baik pak!" jawab Hans tegas., dan saat bersamaan seorang suster menghampiri mereka..
"Permisi pak, apakah kalian salah satu keluarga pasien?" tanya suster tersebut..
"Ya kami keluarganya ada apa sus?" tanya Ardiyan balik.
"Pasien saat ini banyak mengeluarkan darah, hingga ia memerlukan transfusi darah, dan golongan darah pasien O Negatif, jadi adakah di antara bapak yang bergolongan tersebut? karena stok golongan itu telah habis di rumah sakit ini" Ujar Suster itu..
"Saya bergolongan darah O Positif apakah tidak bisa?" Tanya Ardiyan..
"Tidak bisa pak!" bales sang Suster..
"Tapi pasien pernah mendonorkan darahnya pada saya, kenapa saya tidak bisa?" protes Ardiyan bingung..
__ADS_1
"Iya pak, kalau golongan darah O Negatif bisa masuk ke golongan darah O positif, tetapi Golongan darah O positif tidak bisa masuk ke Negatif "Jelas sang Suster..
"Lalu harus bagaimana, di antara kami tidak ada yang bergolongan darah O Negatif sus.." ujar Ardiyan semakin cemas.
"Pakai darah gue, gue juga bergolongan darah O Negatif " kata seseorang yang tiba-tiba muncul.
"Dokter Dika?" Gumam Suster itu..
"Dika?, syukurlah Lo sudah datang, cepat bantu Dimas!" ujar Ardiyan sedikit lega karena memang selain Darah Dimas dan Dika sama, Ardiyan juga tidak bisa percaya pada dokter selain Dika, jadi saat Dika muncul Ardiyan merasa lega.
"Tenanglah Ar, gue akan menangani Dimas," Ujar Dika menenangkan Ardiyan, karena dia tahu kalau saat ini Ardiyan pasti sangat khawatir, karena bagi Ardiyan, Dimas bukan hanya sekedar seorang sahabat baginya, tapi sudah melebihi dari kata saudara.
"Ayo sus kita lakukan transfusi darah dahulu" Ajak Dika pada Suster wanita itu.
"Baik Dok!" dan mereka pun memasuki ruang operasi lagi, setelah melakukan transfusi darah, Dika langsung menangani Dimas hingga wajahnya di penuhi dengan keringat namun ia tidak peduli, ia pun seperti Ardiyan, yang menganggap Dimas Bukan hanya sekedar seorang sahabat, tapi ia sudah menganggap sebagai saudaranya sendiri..
Saat ia telah menyelesaikan jahitan dan sudah membalutnya luka tembak tersebut, tiba-tiba alat detak jantung Dimas berhenti dan hanya
Tiiiiiiiiiiit,
"DIMAAS!!"
**********
Aduh Dimas Apa yang terjadi?...
Ikuti Author terus ya guys..🙏😉
Dan jangan lupa tinggalkan jejaknya..
**VOTE.. LIKE..DAN KOMENTAR..
Selalu Author tunggu sebagai penyemangat buat Author kembali Update..
Dan Author Meminta bantuannya pada para Readers untuk mendoakan Novel terbaru Author agar lolos ke event karya Wanita Anak Genius**..
__ADS_1
jadi Author mohon bantuannya ya guys dan dukung juga ya novel terbaru Author yang berjudul * TWINS PEMBAWA KEBAHAGIAAN* ini 🙏😊 SYUKRON 🙏😊