
•••••••••❖✯ ﷽ ✯❖••••••••••
°°°°°°✨ KALAM AL'QURAN ✨°°°°°°°°°
* Saat kita mengeluh → Allah Menjawab:
✨aku capek→ "Dan kami jadikan tidurmu untuk istirahat."
(An-Naba: 9)
✨ sedih banget→ "Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita."
(At-Taubah: 40)
✨ mana mungkin bisa→ "Jika AKU menghendaki, cukup Ku berkata 'jadi maka jadilah."
(Yasin: 82)
✨stress banget→ "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(Ar-Ra'ad: 28)
✨ semuanya sia-sia → "Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya."
(Al-Zalzalah: 7)
✨berat banget aku ga sanggup→ "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
(Al-Baqarah: 286)
jadi jangan suka mengeluh yaa..😉😊
Tersenyumlah dan tetap semangat 💪
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Keesokan paginya mereka pun bersiap untuk kembali ke kota M dan Seperti ketika pergi, Ardiyan, Dimas, Anisah, dan Lisa berada di satu mobil dengan Dimas yang mengemudikan, sedangkan Wira dan Asyifa, satu mobil, dengan di kemudikan oleh Rendi.
Setelah semuanya telah siap Akhirnya mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, dan saat perjalanan sudah mencapai setengahnya tiba-tiba hp Dimas berbunyi ia pun langsung memasang earphonenya ke kupingnya lalu ia pun menerima panggilan tersebut..
📱"Halo Assalamu'alaikum?" salam Dimas membuka suara.
📲" wa'alaikumus salam," jawab seseorang dari sebrang.
__ADS_1
📱" Ada apa mang Udin?" tanya Dimas pada orang yang bernama Udin yang sebenarnya Supir ayahnya.
📲" Den, Mamang mau menyampaikan kalau Ayah den Dimas, kecelakaan, dan sekarang lagi koma di rumah sakit den" ujar mang Udin, membuat Dimas tersentak dan seketika tubuhnya tiba-tiba bergetar.
📱" Apa?!!, Di rumah sakit mana dia di Bawak?!"
📲"Rumah sakit tempat dokter Dika bertugas den, "
📱" baiklah aku tahu, jaga Ayah, sebentar lagi aku kesana, sekarang ku tutup Assalamu'alaikum"
📲"Iya den, wa'alaikumus salam" Bib, panggilan pun terputus, lalu Dimas Seperti memegang earphonenya dan.."Mendekatlah" ucapnya sekali lalu ia memberhentikan mobilnya..
"Ar gue.."
"Gue tahu Dim, pergilah " kata Ardiyan memotong perkataan Dimas
"Thank's, gue titip Lisa juga ya.." ujar Dimas sebelum turun, dan ia juga sempat melihat Lisa yang sedang tertidur pulas di samping Anisah yang nampaknya juga sudah tertidur.
Dimas pun turun, dan ternyata sudah ada seseorang yang berdiri di samping mobil mereka.
"Bawak mereka pulang, dan berhati-hatilah,!" titah Dimas pada orang itu
"Baik pak!" bales orang itu tegas.
"Baik pak" lalu orang itu pun masuk ke mobil Ardiyan tadi, dan tak berapa lama, mobil Ardiyan, pun mulai melaju dengan perlahan, dan kemudian melaju normal.
Setelah mobil Ardiyan pergi Dimas pun menghampiri mobil sedan hitam yang sedang terparkir yang disampingnya sudah ada seseorang yang sedang memegang pintu mobil yang sedang terbuka, lalu Dimas pun langsung memasuki mobil tersebut, setelah Dimas sudah di dalam, orang tersebut pun menutup pintu mobilnya lalu ia pun berlari dan kemudian ikut masuk dan duduk di belakang kemudinya, seperti sudah tahu, orang itupun langsung melajukan mobil yang di tempati Dimas tadi.
Karena kecepatan mobil yang lumayan cepat, hingga tak membutuhkan waktu lama, mobil pun akhirnya berhenti di depan rumah sakit tempat Dika bertugas, Dimas pun segera keluar dari mobilnya, dan ia pun mempercepat langkahnya menuju tempat ayahnya di rawat, sesampainya di sana ternyata sudah ada kakek Rusdi yang sedang duduk di samping pembaringan sang ayah. di pun langsung masuk.
"Assalamu'alaikum kek" salamnya.
"Wa'alaikumus salam nak" jawab kakek Rusdi, kemudian Dimas pun meraih tangan sang kakek kemudian mengecupnya.
"Gimana keadaan ayah kek?" tanya Dimas dengan tatapannya mengarah pada sang ayah yang sedang berbaring lemah dengan selang yang menempel di hidungnya.
"Dia masih koma nak, belum ada perkembangan baru" jawab sang kakek yang juga memandang ayah Dimas, ia juga nampak sedih, karena ayah Dimas selain orang yang terpercaya ia juga sahabat yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Dimas pun terdiam ia hanya memandangi wajah orang tua tunggalnya itu, dan tinggal dialah yang Dimas miliki, karena ibunya sudah lama meninggal saat ia masih berusia 12 tahun, jadi nampak jelas kalau saat ini ada rasa takut di hati Dimas ya takut kehilangan.
"Apa penyebab kecelakaannya kek?" tanya Dimas yang akhirnya buka suara lagi.
"Jawabannya ada di perusahaanmu nak, nampaknya perusahaan itu butuh campur tanganmu, karena kecelakaan ini di awali dari sana" ujar kakek Rusdi, membuat Dimas langsung menoleh ke arahnya.
"Maksudnya kakek?" tanya Dimas penasaran.
__ADS_1
"Ada yang sabotase perusahaan itu, dan Sepertinya ayahmu mengetahuinya, di situ pasti kamu pahamkan nak" jelas kakek lagi.
"Jadi sekarang pergilah, dan tuntaskan semuanya!" titah kakek, namun ada keraguan di hati Dimas.
"Tapi kek.. gimana..."
"Jangan khawatir nak, kakek akan menempatkan Hans di sisi Ardiyan jadi pergilah sekarang" kata kakek Rusdi yang sepertinya paham akan kekhawatiran Dimas makanya ia langsung memotong perkataan Dimas.
setelah mendapatkan penjelasan Dimas pun lega, dan akhirnya ia pun menuruti titah sang kakek."Baiklah kek, kalau begitu Dimas pergi Assalamu'alaikum " pamiit Dimas sembari meraih tangan kakek dan mengecupnya lagi.
"Iya nak, berhati-hatilah, wa'alaikumus salam" jawab kakek Rusdi.
"Iya kek" Dimas pun keluar dari ruangan sang ayah dan di ikuti oleh orang kepercayaannya di belakang, dengan langkah cepat Dimas kembali menghampiri mobilnya, setelah ia masuk mobil pun melaju menuju ke perusahaannya.
yaa memang sebenarnya Dimas memiliki perusahaan yang di bangun oleh ayahnya ketika ia masih kecil, namun perusahaan itu hampir bangkrut tatkala Ibu Dimas meninggal membuat sang ayah begitu terpuruk, hingga akhirnya kakek Rusdi datang menjadi penyemangat sekaligus pendorong agar ayah Dimas kembali bangkit.
Dan usahanya tak sia-sia kini perusahaan itu kembali berdiri dengan kokoh, Namun Dimas tak pernah mau menjalaninya walaupun Faktanya Dimas seorang CEO yang namanya sudah tertulis di perusahaannya, namun Ia masih setia mendampingi Ardiyan, karena memang mereka tumbuh bersama hingga mereka dewasa tak pernah terpisah, makanya saat kakek memberikan titahnya agar ia menjalani perusahaannya sendiri ia begitu berat untuk meninggalkan Ardiyan.
kini mobil Dimas sudah memasuki area sebuah gedung berlantai 5 yang bertuliskan Prakasa grup, lalu ia pun turun dari mobilnya dan sudah di sambut oleh beberapa orang yang ada di sana.
"Selamat siang pak,!" ucap salah satu dari mereka.
"Siang!" bales Dimas singkat sembari ia berlalu meninggalkan mereka menuju ke ruangannya.
Saat ia berada di depan pintu hendak membuka handel pintu ruangannya tiba-tiba seorang wanita mencegahnya.
"Maaf, anda siapa?, Anda tidak di perbolehkan masuk ke ruangan CEO kami sebaiknya Anda pergi sebelum saya memanggil scurity!" ujar wanita itu pada Dimas.
"Ana, apa yang kamu lakukan, kamu sudah tidak sopan dengan pak Dimas" ujar seorang pria yang tiba-tiba datang. membuat wanita itu terkejut mendengar nama yang di sebut Pria itu.
"p..pak Dimas?, B.bapak C.CEO kami?," tanya Wanita itu yang kini menjadi gugup.
"Iya saya Dimas Prakasa CEO perusahaan ini!" ujar Dimas Tegas, membuat wanita itu gemetar ketakutan karena ia sempat mengusir Dimas.
**********
Wah, nggak nyangka ya,🤔 ternya Dimas yang agak koplak seorang CEO..ukh keren Dimas sekarang..😁
Oke kita lanjutkan besok ya..
Sekarang jangan lupa tinggalkan jejaknya..
VOTE.. LIKE DAN KOMENTAR.. SELALU AUTHOR TUNGGU, SEBAGAI PENYEMANGAT AUTHOR MENCARI INSPIRASI SO JANGAN LUPA OK.. Syukron 🙏😊
__ADS_1