Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek

Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek
Trauma


__ADS_3

"Kenapa harus ke dokter umi, Nisah nggak mau akh" ucap Anisah kepada uminya,


"Emang kenapa sayang? Bukankah kamu ingin tahu arti perkataan umi?" Tanya Ardiyan


"Pokoknya Nisah nggak mau ke dokter hubby!" jawab Anisah lalu ia pergi meninggalkan suami Dimas dan uminya. Ardiyan hanya tertegun bingung karena ia tak pernah melihat istrinya marah sedikitpun.


"Maaf ya nak umi lupa, kalau Anisah sedari kecil sangat takut yang namanya rumah sakit" jelas umi syadiah agak sedikit sendu


"Sebenarnya ada apa umi,? Kenapa Nisah begitu ketakutan?" Tanya Ardiyan penasaran.


"Sebenarnya dulu Nisah pernah di rawat di rumah sakit karena kecelakaan, dia sempat koma 2 hari, saat dia sadar masih biasa saja, tapi saat ia di pindahkan keruang inap biasa yang sekamar berisi dua pasien, wajahnya berubah ketakutan, dia menangis histeris tanpa mau mengatakan apa yang dia lihat, dia bertambah histeris saat orang yang di rawat di sebelahnya meninggal. Kejadian itu membuatnya Trauma nak" ucap umi menceritakan Trauma Anisah pada rumah sakit.


"Apakah Anisah tidak pernah cerita apa yang sebenarnya ia lihat umi? Tanya Ardiyan lagi.


"Tidak, karena setiap umi dan Abi bertanya Ia menjadi ketakutan, sejak itu dia nggak pernah mau kerumah sakit lagi, kalau dia sakit kami hanya memberi obat herbal saja" jawab umi


"Oh, ya sudah kalau begitu tidak usah kerumah sakit umi, tapi gimana caranya biar tahu yang umi katakan tadi?" Tanya Ardiyan lagi.


" Begini saja nak, pergilah ke Apotik dan belikan saja tespeck nak " ucap umi lembut

__ADS_1


"Umi biar Dimas saja yang ke Apotik, biar Ardiyan menenangkan dek Nisah" kata Dimas membuat Ardiyan tenang, betapa tidak karna sahabatnya sepertinya tahu suasana hati Ardiyan karena merasa cemas akan trauma istrinya.


"Terimakasih Dim,, ya udah aku lihat Anisah ya,, Diyan keatas dulu ya mi," ucapnya pada Dimas dan umi


" Iya nak pergilah tenangkan istri mu dulu" bales umi, setelah dapat anggukkan dari Dimas dia pun melangkah menuju kamarnya Anisah.


_______


Sedangkan Dimas pergi ke Apotik, sesampainya di sana ia di sambut dua wanita cantik penjaga apotik.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu" ucap salah satu wanita cantik tersebut. Dan yang satunya memandangi Dimas tanpa berkedip, ya Dimas memang memiliki wajah yang tampan tetapi ia memiliki karakter yang cuek dan dingin terhadap wanita.


"Eh ternyata Abang sudah punya istri ya?" Tanya salah penjaga tersebut, Dimas hanya mengerutkan keningnya dengan tatapan matanya yang tajam, membuat kedua wanita itu pun sedikit takut.


"Eh, bukankah bapak mencari tespeck? " Tanyanya agak bergetar.


"Memang itu untuk apa?" Tanya Dimas lagi.


"Bapak tidak tahu? Itu untuk mengetes kehamilan pak." jelas wanita itu. Dimas pun terdiam.

__ADS_1


"oh apa yang di maksud umi berita bahagia itu adalah Anisah hamil?" batin Dimas mengingat perkataan umi syadiah tadi.


"Bapak mau yang mana? tanya apoteker tersebut.


"Yang mana saja! berikan yang terbaik!" Jawab Dimas ketus. setelah selesai pembayaran Dimas pun kembali kepondok.


_______


Sementara Ardiyan yang sampai di kamar Anisah, terkejut ia melihat istrinya dengan wajah pucat yang di linangi air mata sedang meringkuk ketakutan di sudut kamarnya.


"Astagfirullah Anisah kamu kenapa?" tanyanya sambil mempercepat langkahnya mendekati Anisah dan langsung memeluk istrinya erat.


"sebenarnya apa yang terjadi ? kenapa kamu Trauma seperti ini" batin Ardiyan.


"Kamu kenapa sayang? Ada apa dengan mu? ceritakanlah pada huby sayang" kata Ardiyan yang masih memeluk Anisah ia membuka hijab Anisah lalu membelai rambutnya. Anisah hanya menangis tak ingin menjawab pertanyaan suaminya. mungkin karena lelah dan juga karena belaian sang suami ia pun tertidur.


Bersambung


__________

__ADS_1


"Jangan lupa dukungannya🙏😊


__ADS_2