
β¨ MUTIARA HIKMAHβ¨
"Tiada Lautan Yang Tak Bertepi..
"Tiada jalan Yang Tak Ber Ujung..
"Begitu Pula Dengan Kehidupan Manusia..
"Tiada Pernah Terlepas Dari Coba Dan Ujian Dari ALLAH TA'ALA..
"Sabar Serta Ikhlas Itu Kuncinya..
"Kuatkan Iman Serta Akidah Kita Dalam Menelusuri Jalan Yang Penuh Rintangan..
~ πLA TAHZAN Innallaha ma'annaπ ~
π(Jangan Bersedih, Allah bersama kita)π
β¨β¨β¨β¨β¨β¨β¨πβ¨β¨β¨β¨β¨β¨β¨
Ardiyan sangat marah setelah ia menerima panggilan dari Alexander, karena ia mengetahui kalau Istri sahabatnya telah di culik, bukan hanya Ardiyan saja yang marah, tapi ketiga sahabatnya yang lain juga ikut marah..
"Apa yang sebenarnya terjadi?, bukankah Lisa bersama dengan Hans,!, dimana Hans?!" Seru Ardiyan dalam kemarahannya..
"Sabar Ar, kita jangan terbawa emosi, kita harus menghadapi ini dengan tenang, " ujar Wira, menenangkan Ardiyan..
"Gue yakin pasti telah terjadi sesuatu pada Hans kalau tidak nggak mungkin ini terjadi" Sambung Andi..
"Gue, telpon Hans dulu" ujar Dika, Namun saat ia hendak melakukan panggilan, tiba-tiba seorang wanita berpakaian putih berlari-lari menghampiri mereka..
"Sore dok!, Ada seorang pasien pria yang tertembak dan memerlukan penanganan dari dokter!" Ujar Wanita itu, membuat Ardiyan dan ke empat temannya saling pandang..
"Tertembak?, Apakah sudah mengetahui indentitas pria itu?" tanya Dika, yang sepertinya paham dengan pemikiran para sahabatnya..
"Dari, kartu pengenalnya bersama Fremhans Dwinata, Dok" jawab Suster itu..
"Hans!!, cepat antar kami kesana!!" Seru, Ardiyan
__ADS_1
"Baik, pak!" Suster itu pun berjalan cepat menuju tempat Hans berada dan di ikuti oleh Ardiyan dan ketiga sahabatnya.
Mereka terus berjalan hingga memasuki ruangan operasi, dan Ardiyan langsung menerobos masuk keruangan itu, dan nampaklah seorang pria yang sedang tidur telungkup, dengan baju yang sudah terbuka dan terlihat banyak darah di bagian punggung dan sepertinya ia mendapatkan tembakan di bawah pundak kanannya.
"Hans?!, kamu dengar aku?!, bangun Hans!!" Teriak Ardiyan Sambil menepuk-nepuk pipi Hans. dan tak lama Hans pun membuka matanya..
"Pak?" ucapnya dengan suara yang lemah.
"Apa yang terjadi Hans?, kenapa bisa seperti ini?" tanya Ardiyan penasaran..
" Tadi saat saya mengantar Bu Lisa, mobil kami di hadang oleh empat mobil yang tidak di kenal pak" jawab Hans masih dengan suara lemahnya.." lalu saya dan Bu Lisa sempat melawan mereka, tapi karena jumlah mereka terlalu banyak kami kualahan dan ternyata mereka juga memiliki senjata, saya tetap melawan dan akhirnya mereka menembak saya dari belakang pak, dan Bu Lisa di Bawak oleh mereka pak.." lanjut Hans lagi Namun setelah itu Hans langsung tidak sadarkan diri lagi..
"Hans?!, Hans!" panggil Ardiyan namun tak di respon oleh Hans.
"Sudah Ar, sebaiknya kalian keluar sekarang, biar Hans gue tanganin dulu" Ujar Dika yang sudah mulai bersiap untuk menangani Hans. Ardiyan pun menuruti perkataan Dika, ia pun keluar dan di ikuti juga oleh para sahabatnya.. setelah di luar..
"Ar, sebaiknya kita ke ruangan Dimas dulu, tapi jangan sampai Dimas tahu,.. kita hanya membutuhkan bantuan Roy saja" ujar Wira saat mereka sudah di luar.
"Baiklah, Ayo kita ke kesana!" kata Ardiyan dan mereka pun akhirnya pergi ke ruangan Dimas tempat ia di rawat.
Sesampainya di sana ternyata di depan pintu sudah ada Roy dan dua orang pria berjas hitam yang sedang berjaga di kamar Dimas di rawat..
"Baik pak!" jawab Roy tegas
"Aku juga mau bertanya, Adakah Dimas meletakkan GPS pada barang-barang yang di pakai Lisa?" tanya Ardiyan.
"Ada pak, di kalung Bu Lisa,, pak Dimas pernah meminta saya, menempahkan kalung setelah Bu Lisa dan Bu Anisah di culik " Jawab Roy.
"Bagus!, sekarang coba kamu priksa si mana keberadaannya?" pinta Ardiyan lagi, Roy pun mengambil benda pipihnya, dan ia pun mulai melacak GPS yang ada di kalung Lisa.
"Dapat pak, seperti ini daerah PS pak!" bales Roy sembari menunjukkan Benda pipihnya.
"Daerah PS?, setau gue itu daerah terpencil, agak sulit bila kita membawa mobil Ar" kata Andi.
"Ya sudah kita kesana naik Motor saja kalau gitu, "Timpal Wira
"Kalau kalian naik motor gimana sama gue?" tanya Ardiyan bingung..
__ADS_1
"Seingat gue Lo hanya janji, tidak berbalapan lagi, tapi tidak dengan menaiki motorkan Ar?" ujar Andi yang paham akan kebingungan Ardiyan..
"Ah, iya juga ya!," bales Ardiyan lega. "Ya sudah kalau ayo kita mulai pencarian, dan Lo Wir, ndi, kalian kerahkan juga anak buah kalian, karena yang seperti yang Hans bilang mereka tidak sedikit dan bahkan mereka memiliki senjata" Lanjut Ardiyan lagi.
"Oke, tapi sebaiknya kita ke markas dulu Ar, gue yakin Anak-anak pasti senang karena dah lama Lo nggak kesana, sekalian kita minta Bob juga untuk mengerahkan anak buahnya " Ujar Andi
"Baiklah!, ya sudah ayo kita berangkat sekarang!" Ajak Ardiyan, Hendak pergi, namun ia menoleh kembali ke Arah Roy " Roy, kamu jaga Dimas dan katakan juga sama Dika, agar ia menjaga Hans dan Dimas, Oke! " lanjut Ardiyan memberi perintah pada Roy.
"Oke pak!" setelah Roy menjawab, Ardiyan pun kembali melangkahkan kakinya dengan cepat bersama kedua sahabatnya juga, dan beberapa pria berjas hitam turut serta dengan mereka.
Dan sesuai yang di katakan Andi, mereka pergi menuju kawasan yang tak di kenal oleh orang biasa, dan sampailah mereka di sebuah basecamp, bertuliskan Harimau putih. lalu mereka pun memasuki Basecamp itu..
"Hai Bos,?!, lama anda tak berkunjung kemari, ada tugaskah untuk kami?" tanya seorang pria bertubuh tegap dengan memakai jaket kulit berwarna hitam, yang langsung menyambut kedatangan Ardiyan dan kawan-kawannya.
"Iya Bob,! gue butuh bantuan Lo, saat ini istri Dimas sedang di tahan oleh anak buahnya Alex, dan mereka sepertinya bukan orang sembarangan, karena mereka memiliki senjata Bob" Jelas Ardiyan."Dan gue minta Lo kerahkan anak buah Lo, dan malam ini kita segera bertindak," Lanjut Ardiyan lagi..
"Baiklah bos, kebetulan sekali, sudah lama sekali kita tidak beraksi dan tangan gue sudah gatal ingin mencari mangsa nih bos" bales Bob, sembari ia meremas-remaskan kedua tangannya, dengan tatapan mata yang tidak bisa di artikan..
"Bagus!, sekarang Lo persiapkan motor-motor yang bakalan kita pakai, karena disana kawasan terpencil, akan sulit bila naik mobil" Titah Ardiyan lagi.
"Baik bos! kalau begitu saya permisi!" Pamit Bob, setelah mendapatkan Anggukkan Bob pun pergi, untuk menjalani perintah Ardiyan.. setelah kepergian Bob..
"Ayo sekarang kita harus bersiap juga,!" Ajak Andi sembari ia melanjutkan ke sebuah ruangan, yang di sana ada beberapa lemari dan juga banyak terdapat berbagai senjata di sana..
Mereka pun membuka salah satu lemari tersebut dan ternyata isinya berbagai rompi anti peluru juga beberapa jaket kulit..
Ardiyan pun membuka jas hitamnya, lalu ia mengambil salah satu rompi anti peluru, setelah ia pakai, ia pun mengambil jaket kulit berwarna coklat, Begitu juga dengan Wira dan Andi, mereka ikut memakai rompi anti peluru dan setelah itu mengambil jaket kulit berwarna hitam, setelah di rasa semua sudah siap mereka pun mengambil salah satu pistol yang ada di sana, dan menyelipkannya di pinggang mereka, setelah selesai mereka pun keluar dengan penampilan yang berbeda dari sebelumnya.
"Oke, Sudah waktunya kita beraksi!!"
***********
bagaimanakah Aksi mereka..?,
Oke ikuti Author terus ya, jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys ππ
LIKE VOTE DAN KOMENTAR SELALU AUTHOR TUNGGU π Jadi jangan lupa ya
__ADS_1
Syukron ππ
oh iya bantu doain Author ya, agar kembali sehat, π€π€π biar Author bisa Update di novel yang lainnya ππ