
Hari menjelang Maghrib..
Anisah yang masih di teman Nina sahabatnya berniat bersiap diri untuk melaksanakan tugasnya terhadap Rabb nya, setelah selesai mereka berwudhu, mereka pun mulai sholat berjamaah di dalam ruangan rawat Ardiyan
Sementara Dimas dan Dika sholat berjamaah di masjid di rumah sakit itu, Yaa sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk menyempatkan waktu mereka Kepada Rabb nya, untuk menghapus dosa-dosa mereka.
KARENA SHOLAT MENGHAPUS DOSA
dan tidak mengerjakan sholat itu dosa
Shalat adalah penggugur atas dosa - dosa kecil dan membersihkan kesalahan
di Riwayat kan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,:
'Bagaimana pendapatmu jika di depan pintu rumahmu ada sungai, lalu engkau mandi sehari lima kali..?"
"apakah tersisa kotoran di badannya..?”
para sahabat menjawab,:
"tidak akan tersisa kotoran sedikit pun di badannya"
Rasulullah ﷺ bersabda,
itu adalah perumpamaan untuk shalat lima waktu. dengan shalat lima waktu, Allah Ta’ala menghapus dosa-dosa (kecil).”
📖 (HR. Bukhari : 528 & Muslim : 667)
______
Setelah selesai Dika dan Dimas kembali ke ruangan Ardiyan dan ternyata Anisah dan Nina juga telah siap juga, karena hari semakin gelap Nina minta izin pada Anisah untuk pulang.
"Ty, ini sudah malam, bolehkah ana kembali ke pondok?, Afwan ana tidak bisa menemani Anti menunggu khi diyan sadar" Ucap Nina lembut meminta izin untuk pulang,
"Na'am ty, silahkan, kasihan anak santriwati anti bila ditinggal lama-lama., ya sudah nanti minta Antarkan mang Aji saja ya ty" bales Anisah.
"gimana kalau saya antar saja, kebenaran saya juga mau pulang" ucap Dika yang mendengar percakapan antara Anisah dan Nina.
"eh, Syukron, tapi tidak khy, biar ana sama mang Aji" tolak Nina dengan halus.
"Tidak apa-apa ustadazah, Nina tidak usah sungkan, dia sudah jinak kok " timpal Dimas membuat Dika kesal.
"Apaan sih Lo Dim, emang gue binatang apa?" protes Dika kesal.
"hehehe ya mendekati sih " canda Dimas lagi.
"Hah somplak Lo"
__ADS_1
"Astaghfirullah kok jadi pada berantam sih,? seru Anisah yang melihat perdebatan pada sahabat suaminya
"Dimas tuh Nis, yang duluan" adu Dika seperti anak kecil mengadu pada ibunya..
"Yee, beraninya ngadu loh, dasar Cemen Lo" ledek Dimas, melihat tingkah mereka Nina tertawa kecil, karena merasa lucu melihat keduanya.
"Eh, Ustadazah tertawa,.. sayangnya nggak bisa melihat seperti apa bila Ustadazah tertawa " ucap Dika yang mendengar Anisah tertawa.
"Hei, jangan menggoda Ustadazah.. kalau Lo ada niat langsung di khitbah, karena mereka tak boleh dekat-dekat pada yang bukan mahramnya" Tegur Dimas mengingatkan Dika.
"Iya iya, gue tahu kok, secara teman-teman gue dapat binik langsung di Nikahi, ya udah nanti gue juga begitu kalau Ustadazah Nina bersedia gue Nikahi" ujar Dika enteng.
"Astagfirullah, Nikah, bukan untuk main-main bang Dika, dan ada aturannya, pakai proses, seperti ta'aruf, khitbah dan ijab qobul, bukan dengan perkataan seperti tadi bang.." jelas Anisah.
"Maaf Nis namanya Abang baru belajar, jadi belum begitu paham" dalihnya.
"Iya bang Nisah mengerti, tapi kalau memang Abang ada niatan, pergilah temuin Abi dulu dan bicarakan padanya, " saran Anisah.
"Baiklah Nis in syaa Allah" bales Dika lega karena ada petunjuk dikit.
"Ya sudah kalau gitu, bang Dika emang mau ngantar Nina? tanya Anisah meyakini Dika..
"Ya mau, kalau Ustadazah Nina mau" bales Dika berharap.
"Gimana ty, mau di antara pulang sama bang Dika, sekalian ta'aruf ty, ?" tanya Anisah pada Nina.
"Hmm tapi hm" Balesnya ragu, "Bukankah tidak baik bila berdua?" lanjutnya lirih.
"Baiklah akhy, kalau begitu ana bersedia" bales Nina lembut.
"Alhamdulillah, ya sudah kalau begitu kita berangkat sekarang, nanti keburu malam" ajak Dika senang.
"Ya sudah ana pamiit ya ty" ucap Nina sembari bersalaman, dan berpelukan
"Assalamu'alaikum" salamnya
"Wa'alaikumus salam" bales Anisah dan Dimas barengan, setelah dapat jawaban, Nina dan Dika pun pergi meninggalkan mereka. tinggallah Anisah dan Dimas di sana.
"Nisah?" panggil Dimas
"Iya bang?
"Abang pulang sebentar ya, mau lihat keadaan Lisa" ujar Dimas Meminta izin pulang.
"Eh, Nisah sendiri dong bang,?" protes Anisah.
"Kan ada Ardiyan, tinggal bangunin aja kalo nggak mau bangun tinggalkan saja dia, !" ucap Dimas yang sengaja suaranya di besarkan berharap Ardiyan bisa mendengarkannya.
__ADS_1
"Lagian Lisa kan baru pulih, jadi Abang ingin lihat keadaannya aja, dan sekalian ganti baju, nih dah dari pagi Abang nggak ganti-ganti " lanjutnya lagi.
"hmm Ya udah deh, pergilah bang" bales Anisah pasrah.
"Ya sudah Abang pamiit ya, Assalamu'alaikum" pamiit Dimas.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh " Dimas pun pergi tinggallah, Anisah dan Ardiyan, namun Ardiyan lagi belum sadar.. Anisah pun mendesak suaminya.
"Hubby, Bangun dong Nisah sendiri nih, " ujar Nisah lembut sambil mengelus-ngelus punggung tangan Ardiyan.
"Hubby, Bangunlah, Please Nisah takut !" serunya lagi, tapi tetap tidak mendapatkan respon..
"Iiss, ARDIYAN PRAMANA KALAU ANTA TIDAK BANGUN, NISAH AKAN PERGI SEKARANG JUGA" Teriak Anisah mengikuti saran dari Dimas "MAU BANGUN TIDAK?!" Lanjutnya lagi masih dengan suara keras.
Dan sepertinya saran Dimas manjur, tangan Ardiyan bergerak dan matanya kriap-kriap seakan ingin membukanya dan benar saja akhirnya ia membuka matanya.
"ma syaa Allah, istriku sekarang menjadi kejam ya " ujar Ardiyan dengan suara lemahnya.
"Maaf habis hubby, nggak bangun-bangun sih Nisahkan takut" Bales Anisah dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Sini, bobo di samping ubby" ajak Ardiyan sembari menggeser tubuhnya agak ke pinggir, agar Anisah bisa tidur di sampingnya, dan Anisah pun menuruti keinginan suaminya, lalu ia membaringkan tubuhnya di samping sang suami.
"Maaf ubby ya sayang, sudah membuat kamu khawatir dan report" Ucapnya lirih sambil ia memiringkan tubuhnya agar bisa memeluk sang istri.
"Na'am, yang penting hubby harus cepat sembuh, Nisah nggak suka berlama-lama di rumah sakit"bales Anisah, ia pun memiringkan tubuhnya kehadapan Ardiyan dan menyambut pelukan sang suami.
"Iya sayang, sabar ya besok kita akan pulang oke" ucapnya lembut sambil mengusap pipi Anisah lalu ia pun mengecup kening Anisah.
sekarang tidurlah sayang, jangan takut ada ubby di sini, " Ucap Ardiyan lembut sambil mengusap-usap punggung istrinya.
"humm, Na'am hubby " bales Anisah lagi sambil memejamkan matanya, ya karena hari ini sangat melelahkan bagi Anisah, jadi tak butuh waktu lama, ia pun terlelap dalam pelukan Ardiyan, Ardiyan yang melihat begitu mudahnya istrinya tertidur ia pun tersenyum, lalu kembali mengecup kening Anisah.
**Bersambung lagi ya.
Maaf ya kisah Dika dan Nina tidak Author gabung di sini karena bab di sini sudah terlalu jauh, jadi Author takut bila di gabung akan lama habisnya novel ini, dan takutnya para readers menjadi bosen,
maka itu kisah Dika dan Nina Author gabung dengan Wira, di *CINTA SESUCI SALJU*
Jadi terus ikuti ya guys..
dan jangan lupa.
VOTE~>Bonus buat Author
LIKE~> Penyemangat Author.
KOMENTAR~> Pemicu inspirasi
__ADS_1
bagi yang ingin tahu kisah Dika kunjungi ya Syukron 🙏😊