Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek

Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek
Sadarlah sayang.


__ADS_3

Ardiyan melangkah masuk keruangan tempat Dika bekerja, tanpa di persilahkan ia sudah duduk di hadapan sahabatnya.


"Bagaimana keadaannya, apakah dia baik-baik saja?" Tanya Ardiyan yang sedari tadi begitu penasaran.


"Sebenarnya apa yang terjadi jadi?, Apakah kau tidak tahu kalau binik lo sedang hamil?!" Dika bukannya menjawab pertanyaan ardiyan, dia malah balik bertanya, membuat Ardiyan kesal.


"Kenapa Lo tidak menjawab pertanyaan gue!" Ujarnya kesal.


"Jawab dulu pertanyaan gue!" Balas Dika nggak mau kalah.


"Ya gue tahu dia sedang hamil" jawab Ardiyan melemah.


"Haa Lo tahu?!, Lalu kenapa Lo melakukan hubungan yang berisko besar, apa Lo nggak tahu kalau kehamilan bulan pertama itu masih rentan, atau memang Lo sengaja ingin membunuh anak Lo !" Ucap Dika penuh emosi, hingga seorang suster yang biasa membantunya kaget, karena setahunya dokter Dika ini terkenal ramah tak pernah marah ini kali pertama Dika benar-benar marah, sebenarnya Dika begitu karena tadi Ardiyan menariknya di depan para suster dan rekan kerjanya seakan ardiyan meragukan kemampuannya, jadi sekarang ia lampiaskan.


"Tutup mulut Lo!, Gue tidak bermaksud membunuh anak gue!"bales Ardiyan ikut kesal.


"Oh iya?, Lalu kenapa ini terjadi?!"

__ADS_1


"Gue, gue di jebak Giovani!" Bales Ardiyan, geram mengingat kejadian yang di alaminya karena perbuatannya.


"Giovani?, Mengapa Lo bisa terjabak oleh wanita licik itu hah,? Dari awal saat kita jumpa di restoran itu, gue merasa wanita itu emang nggak beres tapi Lo malah nekat kerjasama sama dia" Dika emang dari dulu tidak menyukai mantan pacar sahabatnya itu.


" Sudahlah kenapa jadi bahas dia?, Gimana keadaan binik gue!"


"Alhamdulillah binik Lo sudah melewati masa kritisnya" balas Dika datar.


"Alhamdulillah ya Allah.. lalu anak gue?" Tanya Ardiyan lagi, sedikit bergetar karena rasa takut akan kenyataan yang tidak diinginkannya.


"Anaknya juga selamat tapi Lo jangan senang dulu karena Anisah belum sadar jadi janinnya agak lemah, maka dari itu keselamatan anak Lo tergantung pada ibunya jadi berdoalah agar ibunya cepat sadar" jelas Dika panjang lebar. Membuat Ardiyan bingung akan perasaannya, senang atau sedih,


"Pergilah, mungkin dia sudah di pindahkan keruang inap vip" Jawab Dika, lalu Ardiyan berdiri dari duduknya Dika pun ikut berdiri, lalu Ardiyan mendekati Dika, lalu ia pun memeluk sahabatnya itu.


"Terimakasih dik,.. dan maaf atas kelakuan gue yang tadi" ucap Ardiyan lirih membuat Dika tersenyum lalu ia menepuk pundak Ardiyan.


"Sudahlah lupakan, lagian gue juga sudah melampiaskannya, jadi gue juga minta maaf Ar" ucap Dika menyesal ikut terbawa emosi.

__ADS_1


"Ya sudah lupakan, gue keruangan binik gue dulu" ucap Ardiyan melepaskan pelukannya.


"pergilah, nanti satu jam sekali gue akan periksa kembali keadaannya" Bales Dika


"hmm" Ardiyan hanya nanggapinya berhmm ria lalu ia pun meninggalkan ruangan dokter Dika. menuju keruangan tempat istrinya di rawat. sesampainya di sana ia pun membuka pintu ruangan tersebut dan berapa kagetnya ia ternyata ada kakeknya yang sedang duduk di samping tempat tidur Anisah.


"Kakek?" gumamnya.


"Kenapa? kau terkejut kakek disini? ingat kau hutang penjelasan ini semua padaku!" ucap kakek Rusdi penuh penekanan, " dan berhati-hatilah, jika terjadi sesuatu pada cucu mantuku dan calon cicitku, maka kau harus berhadapan dengan ku" tambahnya dengan tatapan dingin, lalu ia pun melangkah keluar meninggalkan ruangan Anisah. Ardiyan hanya terdiam lalu ia pun mendekati Anisah, meraih tangannya dan mencium keningnya. lalu ia mendekati telinga Anisah dan membisikkan sesuatu.


"Sadarlah sayang, sadarlah demi anak kita" Bisiknya berharap Anisah mendengar perkataannya.


Bersambung


----------------


Terimakasih atas dukungannya.🙏😊

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak yaa 🙏😊


__ADS_2