
***๐ท MUTIARA HIKMAH ๐ท***
Luka itu untuk dirasakan, bukan untuk dipikirkan. Jadi aneh sekali jika kau terluka, lantas menghabiskan waktu dengan sia-sia.
Sudah kubilang, yang sakit itu hatimu bukan kakimu, Jadi tak ada alasan untuk berhenti melangkah, kan?
So.. Ayo Semangatlah!!! ๐ช
รทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรท>๐ท<รทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรท
Setelah kejadian itu Ardiyan, Dimas dan Wira di Hukum oleh para istri mereka dengan cara para suami tidak boleh masuk ke kamar mereka, Bahkan Anisah, Lisa dan Asyifa berada di dalam kamar yang sama, membuat para suami pada merana.
"Haiis, ini semua gara-gara Lo Dim, punya ide malah membuat kita pada merana dah, " ujar Wira sedikit menyesal karena mengikuti ide gila Dimas.
"Lah kok gue?, kan Lo pada yang ngerjain gue sampai-sampai, Ayang mbeb gue jadi salah paham dah sama gue" protes Dimas yang nggak mau di salahkan.
"Sudah!, ngapain kalian pada nyesal gitu sih, yang sudah terjadi ya terjadilah, dan sekarang nikmatin Aja kemeranaan kita malam ini" tutur Ardiyan menengahi perdebatan para sahabatnya.
"Tapikan Ar, cuaca lagi dingin nih, kan enak tuh, kalau bobo sambil berpelukan " kata Wira lagi.
"Udah nggak usah bingung mas, kan Ada ekey, disini yang bisa menghangatkan ranjangmu mas" Goda Ardiyan, dengan Nada ngondeknya, sembari ia mengedipkan mata genitnya..
"Idih, Nazis gue!, pergi Lo jauh-jauh!, noh sama kutu kupret aja noh, dia mah doyan sama yang kayak beginian" Ujar Wira bergidik Melihat Ardiyan Seperti seorang banci.
"Kenapa, Lo nunjuk gue?, kan Lo yang butuh kehangatan atau Lo maunya Ama ekey juga ya, ekey mah, penghangatnya luar biasa loh mas" protes Dimas dan akhirnya ia pun mengikuti Seperti Ardiyan mengondek juga.
"Dasar Banci kaleng Lo pada, mendingan gue peluk guling kali dari pada Lo berdua!" ujar Wira geli melihat tingkah sahabatnya dan membuat Dimas dan Ardiyan tertawa.
"Hahaha, segitu bencinya Lo sama Banci," Ledek Dimas. sambil terkekeh
"Gue bukan benci tapi geli bro" bales Wira beralasan. lalu mereka bertiga membaringkan tubuh mereka di karpet berbulu tebal yang ada di ruang keluarga.
"Apakah kita di sini sampai pagi?" tanya Dimas dengan tatapan matanya ke arah lampu di ruangan itu.p
"Ya mau gimana lagi? ini sudah menjadi keputusan ibu negara, ya kita harus patuhilah " ujar Ardiyan pasrah..dan di ikuti suara nafas pasrah Wira dan Dimas juga. namun tiba-tiba Dimas langsung bangkit dari tidurnya dan langsung duduk menghadapi ke dua sahabatnya..
"Hay, guys, gue punya ide, gimana kalau kita matikan skring lampunya jadi otomatis semua ruangan pasti gelapkan?, Nah, otomatis juga bini-bini kita pasti pasti pada nyariin kita, gimana guys setuju nggak?" tutur Dimas membeberkan idenya.
"Boleh juga tuh, oke gue setuju" bales Wira yang langsung ikutan duduk. "Gimana menurut Lo Ar?" tanya Wira lagi pada Ardiyan
"Baiklah, mari kita coba" Bales Ardiyan dan ia juga langsung bangkit
"Ayo dah, kita cari dulu skringnya di mana" ujar Dimas lagi.
__ADS_1
"Ya di luarlah!, ya sudah ayo kita keluar " Ajak Ardiyan yang langsung berdiri dan berjalan menuju arah pintu keluar dan di ikuti oleh kedua sahabatnya.
Setelah mereka berada di luar, mereka pun mencari ke beradaan Skring listrik rumah Lisa.
"Itu kayaknya Ar, Ayo kita kesana" kata Wira penuh semangat.
"Oke" dan mereka pun menghampiri Skring itu,
"Naik Lo Dim dan matikan skringnya" titah Ardiyan pada Dimas.
"Oke" Dimas pun mengambil kursi yang ada di teras rumah Lisa, kemudian ia letakkan tepat di bawah tempat Skring berada lalu pun menaiki kursi tersebut dan..
KLIIK!! Langsung gelap gulita tidak ada cahaya satupun, membuat mereka juga kelagapan..
"Aduh! kok gelap banget!" keluh Wira, dan langsung meraba kantongnya seperti mencari sesuatu.."Haa kemana hp gue kok nggak ada " Lanjutnya lagi.
"Lah Hp, gue juga nggak ada " Sambung Ardiyan juga, " Akh, kayaknya hp gue di kamar dah, gue cars tadi " kata Ardiyan lagi.
"Punya gue, seperti juga tertinggal di kamar nih, punya Lo aja Dim." kata Wira juga.
"Ada sebentar " Dimas pun merogoh kantongnya dan langsung mengambil benda pipihnya, lalu ia pun mulai menghidupkan Senter pada hp, namun
"Bip," hp langsung padam karena baterainya telah habis..
"Akh, mati guys, gue lupa ngisi daya tadi" ucap Dimas apa adanya.
"Ya maaf, guekan nggak sengaja " Dalih Dimas sembari memasuki hpnya kembali ke kantongnya.
"Akh, sudahlah,! ayo kita masuk, nanti bini-bini kita pada nyariin!" Ajak Ardiyan dan kemudian mereka pun berjalan sembari meraba-raba mencari pintu masuk. dan di ikuti oleh kedua sahabatnya lagi..
"Weh, gue kok tiba-tiba merinding ya" ujar Dimas yang berjalan di belakang Wira..
"Eh, gue kok juga ya" ujar Wira juga sembari mengusap tengkuknya yang merinding.
"Jangan berpikir yang macam-macam deh, cepat jalannya, nanti mereka mencari kita" timpal Ardiyan yang masih terus meraba-raba agar tidak tertabrak apapun..
"ta.ta.tapi yan..a.a.a ada pe.pe.pena.mpakan, tu tu tuh " ujar Dimas tergagap-gagap, sembari ia naik ke punggung Wira dan memejamkan matanya namun jari telunjuknya menunjukkan sesuatu..
"Akh, gila kau dim, turun dari punggung gue!" Bentak Wira sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangannya Dimas yang memeluk erat di leher Wira..
"Gu, gue ta.ta.takut wir ada penampakan!" ujar Dimas yang semakin mengeratkan pelukannya..
"Mana?!" Wira pun mengikuti arah telunjuk Dimas.
__ADS_1
"Astaghfirullah..ja.ja jangan ga.ga ganggu kami Mbah, ka.ka.kami orang baik kok" ujar Wira yang akhirnya ikutan gagap dan langsung memeluk Dimas juga..
"Kalian kenapa sih, pada percaya sama gituan, hantu itu nggak ada tau " tegur Ardiyan yang melihat sahabatnya yang sedang berpelukan.
"Ta..ta..tapi..Ar, Lo Lo, li.liat tuh di di be belakang Lo " kata Dimas yang masih terbata-bata karena ketakutan, setelah mendengar perkataan Dimas, Ardiyan pun membalikkan badannya dan nampaklah tiga bayangan putih-putih, ada tiga,
"Akh!" Pekik Ardiyan, dan ia pun langsung melompat dan memeluk ke kedua sahabatnya yang sedang berpelukan juga..
"A..a.ampun..mbah. ki.kita ti.ti.dak be.bermaksud neng.ganggu kok" ujar Ardiyan yang akhirnya ikut gagap karena takut juga namun tiba-tiba bayang ketiga bayang putih itu mengeluarkan cahaya, dan cahaya itu mereka taruh tepat di wajah mereka membuat ketiga para laki-laki itu menjerit ketakutan.
"AAAAh!!" Pekik mereka bertiga..
""Sudah main-mainnya?!" tiba-tiba bayang putih itu mengeluarkan suaranya..
Ardiyan yang seperti mengenal dengan suara itu, ia pun langsung melepaskan pelukannya dan ia pun langsung melihat ternyata ketiga bayangan itu adalah para istri mereka, Anisah, Lisa dan Asyifa yang memakai mukena warna putih.
"Ka,ka kalian?..Aakh.. tuh kan gue jadi pipis " kata Dimas polos. membuat kedua sahabatnya langsung menutup hidung mereka..
"Dih, Jorok banget sih Lo,!!, Calon ayah masih ngompol di celana!" ujar Ardiyan yang langsung menjauhi Dimas.
"Tau nih bibie, bikin malu aja deh" tegur Lisa kesal.
"Eh, maaf yang.., kelepasan jadi pipis deh" bales Dimas apa adanya..
"Sudah, sudah, sana Lis bawak bang Dimas ke kamar mandi " titah Anisah pada Lisa, dan Lisa pun mengajak Dimas kekamarnya.
"sekarang Hubby dan bang Wira, hidupkan kembali lampunya sekarang, nih bawa senternya " titah Anisah lagi pada Ardiyan dan Wira.
"Baiklah Sayang" bales Ardiyan lalu ia dan Wira pun kembali keluar.. saat di luar..
"Apes banget sih kita, mau nakutin malah kita yang takut!" ujar Ardiyan sedikit malu.
"Ah, kita aja yang bodoh, sudah tahu, bini-bini kita seorang jagoan make nakutin lagi, ya nggak mempanlah" tutur Wira yang merasa malu..
*********
Hahaha baru nyadar kang mas Wira dan hubby diyan, makanya jangan main-main sama anak santriwati, mereka sudah terlatih loh..๐๐
hum, kok bau Pesing ya..akh ini seperti bau Pesing ngompol AA Dimas nih, ๐ท๐ท๐๐
ya sudah jangan lupa ya guys,
LIKE, VOTE DAN KOMENTAR..
__ADS_1
Agar Author semakin semangat..
Syukron ๐๐