
"Cepatlah!" Teriak Ardiyan yang semakin gusar melihat istrinya semakin pucat.
"Tenandlah kau bisa membuyarkan konsentrasi gue, lagian gue sudah menghubungi Dika, gue yakin dia sudah mempersiapkan segalanya" bales Dimas, dan tak berapa lama pun mereka sampai di rumah sakit tempat sahabat ardiyan bekerja,
Dimas pun memakirkan mobilnya tepat di depan rumah sakit yang di sana sudah menunggu dua perawat yang sedang berdiri di samping brankar dan di sisi lain ada Dika selaku dokter di RS tersebut. Ardiyan pun langsung meletakkan Anisah di brankar dan langsung di dorong menuju ruang IGD.
"Maaf pak sebaiknya anda tunggu di luar" ucap seorang perawat melarang Ardiyan masuk. Dan Ardiyan pun menuruti ia bermaksud menunggu di depan ruang IGD, namun saat ia melihat Dika hendak menangani istrinya ia kembali masuk dan menarik kerah kemejanya Dr Dika.
"Apa yang mau kau lakukan, tidak adakah dokter wanita!" Tanyanya penuh kemarahan. Dika yang melihat keadaan Anisah yang kritis menjadi kesal dengan kelakuan Ardiyan.
BUUCK,
Dika meninju ardiyan hingga ia mengeluarkan darah dari bibirnya dan Ardiyan terhempas jatuh kelantai, Dika kembali mencengkeram kerah baju Ardiyan.
"Gue tidak punya waktu untuk meladeni kecemburuan Lo, nyawa binik Lo lebih berharga di banding rasa cemburu Lo! Paham!" Ucap Dika penuh emosi, lalu matanya menatap tajam ke arah Dimas seperti memberi isyarat kepadanya agar ia bisa menenangkan Ardiyan, setelah di anggukkan Dimas ia pun kembali masuk ke ruangan Anisah di rawat.
Sementara Ardiyan hanya melihat kepergiannya sambil memegang bibirnya yang pecah akibat hantaman sahabatnya. Dimas yang melihat ardiyan yang terduduk di lantai pun menghampiri bermaksud membantunya berdiri, namun di tepis oleh Ardiyan.
__ADS_1
"Tenanglah Ar, percayakan sama Dika, karena untuk saat ini dialah dokter yang paling di andalkan, sebaiknya kau istirahat dulu, biar gue yang nunggu di sini" ucap Dimas berusaha menenangkan Ardiyan.
"Tidak tetap di sini, gue harus memastikan kalau Anisah dan anaknya baik-baik saja" Bales Ardiyan dengan suara yang melemah.
"Oke, tapi setidaknya kau bersihkan dulu tubuhmu lihatlah diri Lo, benar-benar kacau, pergilah Ar, gue sudah mengatur kamar hotel di sebelah rumah sakit ini, lagian sebentar lagi waktu subuh akan segera habis, tidakkah Lo ingin mendoakan istri dan anak Lo, biar mereka selamat?" perkataan Dimas ini membuat Ardiyan luluh ia pun pergi tanpa membalas Dimas, sesaat sebelum Ardiyan pergi ia menatap pintu ruang IGD tersebut,
"Aku mohon Bertahanlah Anisah demi aku" ucapnya lirih lalu ia pun kembali melangkah pergi, Tinggallah Dimas seorang diri.
Satu jam sudah Anisah berada di ruangan IGD, Ardiyan juga sudah kembali dia pun sudah nampak segar setelah Dimas menyuruhnya membersihkan diri.
"Ar apakah kau tidak ingin memberitahu pada mertua mu dan kakek? " Tanya Dimas
"Ya sudah terserah Lo,"
" Sebaiknya Lo pulang saja dim, dan pergilah ke kantor, gue juga minta tolong aturlah buat Alexsha grup menyesal telah berurusan dengan Pramana grup!" Ucapnya tegas.
"Oke kalau gitu gue balik," bales Dimas ia pun berdiri dari duduknya saat hendak melangkah ia berbalik" Belajarlah tenang, jangan berbuat kebodohan lagi!" Tambahnya lalu ia pun pergi.
__ADS_1
"Sss" ardiyan hanya mendesis mendengar perkataan sahabatnya, dan tak berapa lama pintu ruang IGD terbuka nampak Dika keluar dari ruangan ardiyan pun langsung menghampirinya.
"Gimana keadaannya" tampak Ardiyan tidak sabar menanti jawaban dari sahabatnya. Dika hanya menatap Ardiyan dingin.
"Ikut gue!" kata Dika dingin,
"Astagfirullah, ada apa ini, semoga mereka baik-baik saja" batinnya lalu melangkah mengikuti dokter Dika.
Bersambung
--------------
Apa yang akan terjadi?
tolong bantu author pilih ya guys,
Anisah dan janinnya baik-baik saja
__ADS_1
Ataukah sebaliknya,
jangan lupa tinggalkan jejak 🙏😊