
~>Tahun Lalu adalah Pengalaman.
~>Tahun Ini adalah Harapan.
~>Tahun Depan adalah Keajaiban.
Railah semuanya dengan Keimanan...
Jadikan Tahun Baru Islam ini menjadi momentum untuk mempererat tali silaturrahmi dan saling mendoakan dalam kebaikan.
Kami keluarga besar
*BIDADARI TAK BERSAYAP DARI KAKEK* *CINTA SESUCI SALJU*
* SANG MUTIARA YANG TERSEMBUNYI* *TWINS PEMBAWA KEBAHAGIAAN* Mengucapkan π...
πSELAMAT TAHUN BARU ISLAM π
ββββ1 MUHARRAM 1443H.ββββ
Semoga kita dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan di tahun baru ini dan semoga Allah senantiasa memberikan kebahagiaan dan rejeki yang berlimpah Aamiin Aamiin ya Rabbal'aalami ππ
πππππππππππππππ
"Berisik banget sih Lo!!"
DEG..SEERR.... seketika dada Ardiyan berdesir dan langsung tegang saat mendengar suara yang sepertinya ia kenal, dengan cepat ia mengangkat wajahnya dari tubuh Dimas dan ia langsung memandang wajah Dimas yang ternyata matanya terpejam,
Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Dika yang ternyata sama tegangnya dengan Ardiyan, tuk sesaat mereka saling bertatapan..
"Lo mendengar juga Dik?" tanya Ardiyan yang akhirnya buka suara..
"Ya gue dengar Ar!, itu suara Dimas tapi mengapa matanya masih terpejam, dan mengapa alat pendeteksi jantung tidak berjalan, masih bergaris panjang, apa jangan-jangan suara tadi rohnya Dimas ya?" ujar Dika sambil bergidik..
"Jangan asal ngomong Lo,!, emang Lo mau Dimas jadi hantu ya?!" Tegas Ardiyan.
"Ya habis Lo liat saja wajah Dimas sudah memucat gitu" dalih Dika..
"Coba Lo priksa lagi dengan benar!" titah Ardiyan..
"Baiklah! " Dika pun memeriksa Dimas kembali dengan di awali meraih tangannya hendak periksa denyut nadi Dimas..
"Gue masih hidup! gak usah Lo periksa gue!" mendengar perkataan itu spontan Dika terkejut dan ia langsung melihat ke arah wajah Dimas yang dengan perlahan membuka matanya dan bersamaan alat pendeteksi jantung kembali terdengar irama jantungnya..
__ADS_1
"Alhamdulillah... Terimakasih ya Allah, Engkau telah mengembalikan sahabatku yang koplak ini" seru Dika yang langsung memeluk Dimas.
"Aakh Sakit!!" pekik Dimas karena bekas luka tembakannya terkenak kepala Dika..
"Sorry, Sorry, gue nggak sengaja, karena saking senangnya gue Melihat Lo, hidup kembali jadi lupa kalau ada luka disana" ujar Dika yang nampak begitu senang melihat Dimas kembali membuka matanya.. Dimas yang terlihat masih lemah, hanya membalas dengan senyum tipisnya..
"Selamat datang kembali bro,!, gue tahu Lo tak akan mudah begitu saja menyerah, karena Lo singanya kami" ujar Ardiyan yang tak kalah senangnya saat melihat sahabat terbaiknya Akhirnya telah kembali..
"Terimakasih..Ar, Dik, gue.."
"Sudah jangan banyak bicara dulu sebaiknya sekarang Lo istirahat dulu Dim, " potong Ardiyan, karena ia mendengar suara Dimas yang masih sangat lemah sekali. jadi dia tak membiarkan Dimas untuk bicara dulu.. mendengar perkataan Ardiyan Dimas pun hanya mengangguk kepalanya saja dan kemudian ia pun memejamkan matanya kembali..
Setelah melihat nafas Dimas mulai teratur yang menandakan ia telah tertidur pulas, kedua sahabatnya itu pun bernafas lega, setelah tadi mereka berdua begitu tegang.
Ardiyan dan Dika masih enggan meninggalkan Dimas yang sudah tertidur, mereka masih betah di sana dan masih memandangi wajah Dimas yang begitu polos..
"Gue nggak tahu, apa jadinya gue kalau Dimas benar-benar pergi meninggalkan kita Dik, karena bagi gue Dimas adalah kekuatan gue yang sebenarnya." ujar Ardiyan yang akhirnya buka suara, dengan tatapan matanya masih tidak beralih pada wajah Dimas yang masih tertidur dan tanpa terasa air matanya kembali mengalir..
"Gue tahu Ar, di antara kita berlima, Dimas dululah, yang mengenal Lo lebih lama, dan bahkan kalian tumbuh bersama sedari kalian kecil, jadi wajar Lo bersikap seperti sekarang ini" ujar Dika yang sama seperti Ardiyan yang pandangan juga tak lepas dari wajah Dimas..
Ardiyan Tersenyum tipis tatkala ia mendengar mereka tumbuh sedari kecil.." Ya gue kenal Dimas saat gue berumur 12 tahun dan Diams 11 tahun, dan saat itu kami sama-sama baru kehilangan orang yang kami cintai, Dimas yang baru kehilangan ibunya dan gue kehilangan keluarga gue, jadi mungkin karena itu kami jadi memiliki sifat yang sama.." ujar Ardiyan mengingat masa ia pertama kali berjumpa dengan Dimas.
"Iya, kalian memiliki sifat yang sama, cuma Dimas lebih pandai menutupi permasalahan, serta ia lebih peka di antara kita, dan gue tahu sifatnya yang blak-blakan itu sebenarnya ia sedang menutupi permasalahannya sama kita, dia suka begitu nggak pernah mau berterus terang sama kita, seolah ia tak pernah punya masalah kalau sama kita" ujar Dika juga yang tahu benar sifat Dimas yang sebenarnya..
"Ya begitulah Dimas, dia tak pernah mau bicara setiap ada persoalan, seperti sekarang ini, ia menghadapi musuh seorang diri tanpa mau cerita sama gue!" ujar Ardiyan yang mulai nampak kesal karena Dimas tidak pernah mau berbagi setiap ada persoalan..
"Gue tadi sudah meminta Hans yang menjemput Lisa, mungkin sebentar lagi mereka akan tiba.." bales Ardiyan
"Baiklah, semoga kehadiran Lisa akan menjadi penyemangat baginya juga ya Ar"
"Aamiin, in syaa Allah, ya sudah, Lo jaga Dimas ya, gue mau pergi sama Roy, ke perusahaan Dimas dulu." ujar Ardiyan pada Dika..
"Oke, Lo hati-hati juga ya, "
"Oke, Oh iya, kalau Hans tiba, suruh dia tetap jaga Dimas di sini, gue khawatir, kalau antek-antek Indra masih mengincar Dimas " ujar Ardiyan yang masih ada kecemasan terhadap Sahabatnya itu..
"Oke nanti gue sampaikan"
"Ya sudah gue pergi ya, Assalamu'alaikum" pamit Ardiyan
"Oke Wa'alaikumus salam" jawab Dika, setelah di jawab salamnya Ardiyan pun berlalu pergi meninggalkan Dika yang masih Di ruangan Dimas, ia pergi keluar dari rumah sakit itu, dan di ikuti oleh Roy, Asistennya Dimas..
___
__ADS_1
Setelah beberapa Menit Kepergian Ardiyan, Hans dan Lisa pun telah tiba, dan mereka langsung memasuki ruangan Dimas, nampak ada kecemasan di raut wajah Lisa, dan mereka pun di sambut oleh Dika yang masih menjaga Dimas..
"Assalamu'alaikum bang Dika?" salam Lisa dengan suara sedikit bergetar..
"Wa'alaikumus salam Lis, kamu sudah sampai?" bales Dika yang langsung berdiri dari duduknya..
"Iya bang, Gimana keadaan kak Dimas bang?" tanya Lisa cemas.
"Keadaannya sudah mulai stabil kok Lis,"
"Alhamdulillah, syukurlah bang, Terimakasih sudah jagain kak Dimas ya" Bales Lisa yang kini sudah nampak lega..
"iya sama-sama,.. ya sudah kamu duduklah Lis, temani Dimas ya, aku mau keluar dulu, bila ada apa-apa suruh Hans memanggil aku ya " ujar Dika,
"Iya bang," setelah mendapatkan jawaban dari Lisa, Dika pun keluar dari ruangan itu, dan setelah menyampaikan Amanah dari ardiyan pada Hans, Dika pun langsung pergi menuju ruangannya..
Sementara di dalam Ruangan Dimas. Lisa menyentuh lembut pipi sang suami yang masih memejamkan matanya..
"Bibie, kamu sudah membuat Lisa takut hari ini, tadi Lisa seperti melihat roh bibie di rumah bang Diyan, Lisa pikir bibie mau pergi meninggalkan Lisa hiks, membayangkan itu rasanya Lisa tidak akan sanggup bie.." ujar Lisa dengan Air mata yang sudah membasahi pipinya, sembari ia meraih tangan Dimas lalu ia letakkan ke pipinya..
"bibi, tidak akan pergi sayang, bibi akan selalu berada di sisimu." Lisa langsung tersentak setelah mendengar suara Dimas yang ternyata ia telah bangun dari tidurnya..
"Bibie?! hiks.hiks." tangis Lisa malah pecah ia pun tak sanggup berkata-kata lagi..
"Kok malah nangis sih yang, sini, naik biar bibir peluk, " ujar Dimas lembut, Lisa pun langsung naik ke ranjang Rawat Dimas lalu ia pun membaringkan tubuhnya di sisi Dimas, dan Dimas langsung memeluknya..
"Sssth, jangan nangis lagi sayang, bibie masih di sini di sisi kamu" ucap Dimas, karena Lisa masih belum berhenti dari tangisnya..
"Hu'um.." suara Lisa manja Lisa membuat Dimas tersenyum lalu ia pun mengecup kening Lisa..
"Sayang, tadi kamu bilang kamu bisa lihat roh bibi, Apakah kamu memang bisa melihat Roh?" tanya Dimas penasaran..
"Iya bie, sedari kecil Lisa bisa lihat" bales Lisa membuat Dimas kaget..
"Haa, !!"
**********
Aduh kok seram banget ya, kalau bisa lihat roh, kayak teman Author juga deh Lisa,..
Ya sudah kita lanjutkan besok..
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys..
__ADS_1
**LIKE, VOTE, DAN KOMENTAR,
SELALU AUTHOR TUNGGU, JADI JANGAN LUPA YA GUYS ππ SYUKRON ππ**