
◼◼◼◼⚛ KALAM ULAMA⚛◼◼◼◼
"Tinggi Dan Banyak Nya Ilmu Memang Tidak Menjamin Seseorang Menjadi Sholeh dan Sholehah. Tetapi Keindahan Akhlak
Kejernihan Akal Dan Kesucian Hati Jauh Lebih Mulia Dan Lebih Di Senangi Di Hadapan Alloh Ta'ala
[Habib Quraisy Baharun]
◼◼◼◼◼◼⚛◼⚛◼⚛◼◼◼◼◼◼◼
.Ardiyan menjadi panas tatkala orang tersebut menyinggung nama Dimas, bahkan setelah mendengar kata membunuh, membuatnya semakin ingin marah hingga ia langsung mendobrak pintu Ruangan Indra membuat orang yang ada di dalam terkejut..
"Ardiyan!!"Sentak Orang tersebut Kaget sama seperti pria itu, Ardiyan juga kaget melihat orang tersebut..
"Pak Agus!!" katanya kaget, " Wah..wah..waah ternyata kucing kecil yang di pungut di jalan kini sudah berubah menjadi harimau pemakan daging majikannya ya" sindir Ardiyan dengan senyum sinisnya..
"Apa maksudmu tuan muda?" tanya orang itu dengan wajah tidak senang.
Ardiyan kembali tersenyum sinis pada orang itu sembari ia berjalan menuju kursi kebesaran Indra lalu ia duduk di sana, dengan tatapan yang tajam mengarah pada yang namanya Agus.
"Luar biasa ya, orang yang paling di percaya oleh om Siddiq, alias Ayah Dimas, menjadi penghianat karena obsesinya, ingin menjadi boskah, pak Agus?" ujar Ardiyan yang mulai geram pada pak Agus yang ternyata Adalah orang Kepercayaan sekaligus Asistennya ayah Dimas
"Anda jangan ngomong sembarangan tuan muda!, saya tidak seperti yang tuan muda pikirkan!" sangkal pak Agus.
"Tidak seperti itu?. anda masih menyangkal?!... Roy, tunjukkan padanya! " tegas Ardiyan..
"Baik pak,!" Roy pun mengeluarkan benda pipihnya dan kemudian ia menghidupkan rekaman cctv di ruang Indra serta terdengar juga kata-kata yang tadi ia dalam panggilannya juga.dan membuat pak Agus kaget..
"Bagaimana?, masih ingin menyangkal?! ujar Ardiyan geram..dan seketika pak Agus menjatuhkan dirinya ia langsung berlutut..
"Tuan, maafkan saya, saya terpaksa melakukannya karena anak dan istri saya di tahan oleh mereka tuan" ujar Agus yang nampak ketakutan..
"Benarkah?!, Roy kamu selidiki kebenarannya sekarang!" ujar Ardiyan yang pandangannya tak beralih dari Agus yang nampak memang seperti tidak berbohong, karena ada kecemasan dari raut wajahnya..
"Baik pak!, kalau begitu saya permisi!' pamit Roy, setelah mendapatkan Anggukkan dari Ardiyan Roy pun melangkah pergi meninggalkan Ardiyan dan Agus di ruangan Indra..
__ADS_1
"Sekarang ceritakan siapa mereka?!, dan apa motif mereka melakukan ini.?!" tanya Ardiyan penasaran..
"Kalau yang saya pernah dengar, salah satu dari anak buahnya dalam sebuah panggilan dia memanggilnya tuan muda Alex.. tuan ! dan motifnya ia ingin menghancurkan Anda, tapi karena anda selalu bersama tuan muda Dimas, maka, dialah yang harus di singkirkan dahulu " ucap Agus, membuat Ardiyan mengerutkan keningnya..
"Alex?!, Apakah dia pernah menyebut sebuah nama perusahaan Alexsha grup?" tanya Ardiyan penasaran..
"Saya rasa pernah, tuan muda, karena yang saya tahu, perusahaan itu akan di bangkitkan kembali, dan akan di kendalikan oleh perusahaan dari luar negeri kalau nggak salah XL grup tuan muda" jelas Agus membuat Ardiyan Tersenyum miring .
"Oh'ho, Akhirnya gue tahu, siapa dalangnya," ujar Ardiyan Sambil mengepalkan tangannya sebelah dengan tatapan mata yang tajam dan dengan senyum sinisnya.."Alexs?!, Akhirnya Lo muncul juga, sudah sekian lama gue menanti hari ini, Lo mau menghancurkan gue?!, baiklah gue akan akan setia menunggu Lo, menghancurkan gue!, tapi sebelum gue hancur!, gue pastikan Lo yang akan terlebih dahulu Hancur!!" ujar Ardiyan geram, dan disaat bersamaan Roy muncul dengan membawa sebuah Amplop coklat susu dan menyerahkan Amplop itu pada Ardiyan..
"Pak ini laporan yang saya terima, dan ternyata benar keluarga pak Agus memang di tahan oleh orang yang tidak di kenal" ujar Roy setelah memberikan Amplop coklat tersebut..
"Terimakasih Roy, Oh iya, kamu bantu pak Agus untuk menemukan keluarganya, dan kerahkan juga anak buah mu, untuk menjaga Dimas dan pak Siddiq di rumah sakit!" titah Ardiyan
" Baik pak!" bales Roy tegas..
"Oke pak Agus, sekarang kamu harus bekerjasama dengan saya, dan berpura-puralah, kamu masih menjadi mata-mata mereka, dan laporkan saja apapun yang terjadi di perusahaan ini padanya,!" ucap Ardiya pada pak Agus..
"Baik tuan muda, sebelum saya terima kasih karena anda sudah percaya pada saya" kata Agus sedikit tenang..
"Baik tuan muda!" bales Agus lalu ia pun menyerahkan hpnya pada Roy..
"Baiklah sekarang Anda boleh pergi sekarang, soal hp, nanti Roy akan menyerahkan kembali pada anda!" Titah Ardiyan menyuruh Agus agar keluar dari Ruangan itu..
"Baiklah tuan muda, kalau begitu saya permisi ' Bales Agus, dan setelah di Anggukkan oleh Ardiyan dia pun pergi meninggalkan Ardiyan dan Riy..
"Perintahkan anak buahmu, untuk mengikuti dia Roy!" Titah Ardiyan Tegas..
"Itu sudah saya lakukan pak!" bales Roy tegas juga..
"Bagus!, kau memang cerdas!, "
"Terimakasih pak!"
"Ya sudah sebaiknya kita ke Rumah sakit sekarang!" ucap Ardiyan sembari ia bangkit dari duduknya, dan langsung melangkah meninggalkan ruangan Indra dan di ikuti oleh Roy dari belakang, dan saat mereka hendak memasuki lift, tiba-tiba seorang wanita berlari menghampiri mereka..
__ADS_1
"Sebentar pak!" ucap wanita itu mencegah Ardiyan dan Roy saat akan memasuki lift..
"Ada apa Ana?!" tanya Roy dengan kening yang berkerut..
"Ini pak Roy,!.. tadi ada seseorang mengirimkan ini katanya untuk pak Ardiyan" ujar Ana, sembari menyerahkan Amplop berwarna putih kepada Roy, Ardiyan yang mendengar namanya di sebut langsung mengerenyitkan Alisnya heran..
"untuk pak Ardiyan?" bales Roy yang juga heran, sembari mengambil Amplop dari tangan ana..
"Untukku?, coba sini aku lihat" Pinta Ardiyan sembari mengambil Amplop yang ada pada Roy..
"Ini pak!" Ardiyan pun membuka Amplop itu, dan betapa terkejutnya ia melihat isi di Amplop itu, yang ternyata..
Kartu, bela sungkawa membuat Ardiyan langsung meremas kartu itu, dengan wajah yang sudah memerah karena marah.
"Sialan!!, Siapa yang mengantar Kartu ini?!!" bentak Ardiyan pada Ana, membuat Ana nampak ke takutan..
"Seorang kurir pak, dan dia juga tidak mengatakan siapa yang mengirimnya" ujar Ana dengan suara bergetar..
"Cari kurir itu Roy!, dan tanyakan siapa yang mengirim kartu ini!" tegas Ardiyan.
"Baik pak!" setelah Roy menjawab Ardiyan kembali melangkah memasuki Lift dengan perasaa yang masih marah karena terbayang tulisan dalam kartu itu dan ia pun teringat Dimas dan kejadian di rumah sakit, dan seketika ada perasaan takut dalam hatinya, takut akan kehilangan,
**********
Apa yang akan terjadi?..
Ikuti Author terus ya, Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys, tapi kok sepertinya semakin sepi ya🤔 ada apa ya, 🤔 apakah para Readers sudah mulai bosen yaa 🤔 sama ceritanya 🤔
Ya sudahlah sebaiknya Author tamati saja deh biar Para reader tidak bosen..
Tapi Author juga meminta pendapat kalian bolehkan?, target Author 160 nanti Novel ini tamat, gimana menurut kalian guys setuju atau tidak??,
Author tunggu Jawaban dari kalian ya guys 🙏😉
__ADS_1