Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek

Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek
Mual-mual


__ADS_3

Setelah meletakkan Anisah ke tempat tidur, Ardiyan ikut membaringkan tubuhnya di samping Anisah. Ia memandangi Anisah sambil mengelus kepalanya.


"Ada apa dengan sayang jangan bikin aku khawatir" batin Ardiyan.


Di saat Ardiyan hanyut dalam pemikirannya tiba-tiba ia merasa Mual-mual, ia pun berlari ke kamar mandi.


Hueek..hueek..hueek. ia memuntahkan isi perutnya saat ia merasa di mual lagi, la pun pergi ke dapur untuk mengambil Air minum, di sana ternyata ada umi syadiah yang sedang bersiap untuk memasak.


"Kamu kenapa nak? Kenapa wajahmu pucat sekali?" Tanya umi syadiah.


"Dian mual-mual umi nggak enak banget perutnya dan maaf segala yang Dian makan tadi keluar semua" Balas Ardiyan lemas.


"Astagfirullah, kenapa jadi begini.. ya sudah kamu istirahat dulu nanti umi bikinin teh lemon ya biar menghilangkan rasa mual kamu" ucap umi lagi.


"Iya umi terimakasih, Diyan kembali ke kamar ya umi"


"Iya nak sama-sama, pergilah" setelah mendapatkan Jawaban umi, Ardiyan pun pergi kembali ke kamarnya. Dan karena merasa lemas ia kembali berbaring di samping Anisah yang sedang tertidur. Tak lama pintu di ketuk.


Tok tok tok.


Ardiyan pun bangkit dan membukakan pintu dan ternyata seorang wanita paruh baya sedang membawa segelas teh.


"Assalamualaikum den Diyan ini teh lemonnya dari umi" ucap wanita paruh baya itu. Menyerahkan segelas teh lemon.


"Oh, terimakasih mbok Darmi" jawab Ardiyan sambil mengambil gelas tersebut.


"Iya den, ya sudah mbok perimisi den Assalamualaikum"

__ADS_1


"Iya mbok wa'alaikum salam" Ardiyan pun kembali menutup pintu kamarnya setelah mbok Darmi pergi.


Setelah meminum teh lemon buatan uminya Ardiyan pun kembali tidur di samping Anisah yang masih nyenyak dalam mimpinya.


_____


Di tempat yang sama Dimas yang baru saja sampai dari apotik. Memasuki rumah.


"Assalamualaikum umi" salam Dimas


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh eh nak Dimas sini masuk" ucap seorang laki-laki paruh baya yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Eh ada pak ustadz juga" ucap Dimas sambil menyalami Ustadz Khairul.


"Iya, jangan sungkan gitu, panggil Abi saja seperti Ardiyan, karena Abi sudah menganggap kamu anak Abi juga" kata ustadz Khairul membuat Dimas terharu.


"Sama-sama nak Abi senang, keluarga Abi semakin besar"


"Iya Abi, oh iya umi mana bi?"


"Umi kamu di dapur lagi masak, ada apa nak?"


"Ini bi, Dimas mau ngasih ini pesanan umi"


"Ya sudah kamu ke dapur saja"


"Iya deh, ya udah Dimas nyamperin umi dulu ya Bu"

__ADS_1


"Iya nak" setelah mendapatkan Jawaban ustadz Khairul, Dimas pun pergi ke dapur menemui umi syadiah.


"Assalamualaikum umi"


"Wa'alaikumus salam nak dimas"


"Ini pesanannya umi,"


"Oh kamu kasih langsung sama Ardiyan ya bilang tas urine, sama kasihkan bubur Ayam ini tadi dia habis muntah-muntah kasian perutnya pasti kosong,. Umi mau pergi pengajian jadi kamu antar ya. " Ucap umi syadiah dan menyerahkan nampan berisi bubur dan air hangat pada Dimas.


"Oh iya umi, Dimas keatas dulu ya mi Assalamualaikum" ucapnya sambil mengambil nampan tersebut.


"Wa'alaikum salam. Hati-hati nak"


"Iya umi" setelah menjawab, Dimas pun pergi ke kamar Anisah yang terletak di lantai dua. Sesampainya di depan kamar Dimas mengetuk pintunya


Tok tok tok. Tak lama pintu terbuka.


" Assalamualaikum Ar"


"Wa'alaikum salam ada apa?"


"Ketus banget sih, ini gue di suruh ngantar bubur.. juga ngantar ini kata umi untuk tes urine" kata Dimas sambil menyerahkan nampan dan bungkusan.


Bersambung.


--------------------

__ADS_1


jangan lupa like vote dan komentarnya ya biar semangat loh🙏


__ADS_2