Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek

Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek
Menggoda Dimas.


__ADS_3

Pagi hari keluarga ustadz Khairul, berkumpul di meja makan, mereka sarapan bersama penuh hikmat, di saat mereka sedang menikmati sarapannya tiba-tiba seseorang datang dengan isyarat tangan mengucapkan salam.


"Wa'alaikum salam, Lisa kemarilah ikut sarapan bersama " ucap Anisah sambil menggerakkan tangannya juga.


"Iya nak Lisa sini umi masak nasi gorengloh kesukaan kamukan?" Timpal umi syadiah yang sudah menganggap Lisa juga seperti anaknya.


"Terima kasih umi, terimakasih Nisah " bales Lisa dengan isyarat tangan.


"sini Lisa duduk di samping umi " ucap umi, Lisa pun duduk di samping umi syadiah dan di hadapan Dimas, yang dari tadi mencuri pandang terhadap Lisa. dan akhirnyaLisa pun ikut sarapan Bersama, setelah selesai para laki-laki pindah ke ruang keluarga dan para wanita membereskan bekas mereka makan, setelah selesai para wanita bergabung di ruang keluarga. Karena ada Dimas selalu saja ia mengudang tawa untuk mereka, hanya satu yang nampak murung, ya itu Lisa, Anisah yang menyadari, itu ia pun bertanya pada Lisa dengan isyarat tangannya.


"Ada apa Lisa? Dari matamu terlihat anti sedang bersedih, katakanlah pada ana?" Tanya Anisah sambil menggerakkan tangannya.


"Ana tidak apa-apa Nisah, oh iya tolong sampaikan ucapan terima kasih ana pada kak Dimas dan bang Ardiyan karena tadi malam sudah menyelamatkan ana," bales Lisa tak bersuara tapi hanya mengerak tangannya saja. Dan di anggukkan oleh Anisah.


"Hubby, bang Dimas, Lisa mengucapkan terima kasih pada kalian karena tadi malam sudah menolong Lisa." Ucap Anisah pada Ardiyan dan Dimas. Dan di anggukkan oleh mereka.


"Lisa, tadi malam mereka bilang, kalau hari ini akan kembali, karena hari ini paman mu akan menikahi pada rentenir itu, apakah kau bersedia?" Tanya ustadz Khairul pada Lisa. Tapi Lisa hanya menggelengkan kepalanya lalu ia memandang Anisah.

__ADS_1


"Anisah, ana tidak mau menikah dengan rentenir itu, tolong ana Anisah" ucap Lisa dengan isyarat tangannya, walaupun ia bercadar tapi nampak jelas kalau dia mengeluarkan air matanya dan membasahi cadarnya, Dimas yang melihat itu menjadi iba.


"Abi, bolehkah Dimas membantu Lisa? Mungkin dengan melunasi hutang pamannya, Lisa akan terbebas dari nikah paksa ini" ucap Dimas buka suara.


"Maa syaa Allah, mulianya hati mu nak, tentu saja bisa, Abi akan bantu bicara pada paman Lisa" ujar ustadz Khairul senang mendengar ucapan Dimas.


"Tapi Abi, setelah kita melunasi hutang pamannya, kita harus membuat perjanjian, agar kedepannya peristiwa ini tak terulang lagi Abi," ucap Dimas lagi,


"Kamu benar nak, kita harus membuat, surat perjanjian pada paman Lisa," Bales ustadz Khairul.


"Ya sudah Diyan akan panggil pengecara kakek agar bisa membantu Lisa" timpal ardiyan yang juga merasa kasian terhadap sahabat istrinya.


"Terima kasih ukhty " isyarat tangannya lalu ia memeluk Anisah, setelah itu ia juga mengisyaratkan tangannya pada Ardiyan, Dimas dan pada ustadz Khairul, mengucapkan terimakasih pada mereka.


"Ukhty, ana mau mengajar para santriwati berkuda, ana pamit ya, Assalamualaikum " ucap Lisa menggerakkan tangannya lagi lalu memberi isyarat matanya pada Dimas dan ardiyan dan ustadz Khairul tanda ia permisi pergi, lalu ia pun meninggalkan ruangan keluarga tersebut. Dan ternyata ada seseorang memperhatikan Lisa hingga ia tak tampak kembali.


"Cieee, kayaknya ada yang nggak rela melihat si doi pergi " ucap Ardiyan meledak Dimas.

__ADS_1


"Apaan sih, nggk jelas banget sih lo!" Bales Dimas sedikit malu karena kepergok oleh sahabatnya.


"Sudah bang Dimas kalau sudah merasa cocok cepat di halalkan atuh, biar nggak di ambil orang" goda Anisah membuat Dimas mulai kesal.


"Haiis, laki dan binik sama sajaa, tukang bully" ucap Dimas dan mendesis kesal.


"Apa perlu Abi lamarkan dia untuk kamu nak" tambah Ustadz Khairul ikut menggoda Dimas.


"Alamak, Abi juga ikut-ikutan bersekongkol dengan mereka" ucap Dimas lagi sambil menepuk keningnya sendiri, dan pecahlah ruang keluarga itu dengan tawa mereka yang menggoda Dimas.


"Sudah sudah cukup Menggoda Dimas, kasihan dia, lihat tuh wajahnya sampai merah gitu, " ucap umi syadiah membela Dimas.


"Alhamdulillah, masih ada yang baik sama Dimas, pokok umi memang yang terbaik muach " Dimas senang langsung mencium tangan umi.


Bersambung


------------------

__ADS_1


Jangan lupa ya,


Terima kasih komentarnya🙏


__ADS_2