Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek

Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek
Terjebak.


__ADS_3

Setelah meneguk minumannya Ardiyan merasa kepalanya pusing dan tubuhnya terasa panas.


"Astagfirullah, ada apa ini" gumamnya lalu tanpa sengaja matanya melihat Giovani tersenyum penuh kemenangan.


"Aku terjebak,! Astagfirullah, Astagfirullah, kuatkan hamba ya Allah, jangan biarkan tubuh ku di kuasai oleh nafsu jahatku ya Allah Astagfirullah Astagfirullah," batin Ardiyan


"Kamu kenapa Ar? Sepertinya kamu tidak sehat, apa perlu saya antar kamu beristirahat?" Ujar Giovani sambil hendak mendekati Ardiyan, namun dengan cepat Ardiyan berdiri.


" Tidak perlu!" Ardiyan mendorong Giovani saat mau meraih lengannya "Pak Edy saya permisi ke toilet sebentar" ucap Ardiyan menahan rasa yang tidak nyaman dari tubuhnya. Lalu ia pun melangkah dengan cepat, Giovani yang tak mau menyerah mengikuti Ardiyan.


"Ar, kenapa kamu keras kepala, aku hanya ingin membantu mu, jangan menyiksakan dirimu lihat bibir mengeluarkan darah" ucap Giovani ia melihat Ardiyan menggigit bibirnya agar ia tidak kehilangan kesadarannya.


"Pergi kau! Aku nggak butuh bantuan mu, kau wanita licik" bales Ardiyan mendorong Giovani hingga wanita itu tersungkur, lalu Ardiyan masuk ke toilet.


BRAAK pintu di tutup dengan kasar oleh Ardiyan, lalu ia mengambil ponselnya.

__ADS_1


"Cepat datang ke toilet!" Setelah itu ia


mengguyur tubuh tanpa membuka bajunya ia terus berusaha agar ia tetap sadar dan dia juga terus beristighfar berharap agar ia tidak lepas kendali.


________


10 menit sebelum bersulang.


Seorang pelayan menghampiri mereka,


"Saya Dimas! Ada apa?" Ujar Dimas datar.


"Tuan di lobi hotel ada seseorang mencari Anda" ucap pelayan tersebut. Dimas mengerutkan keningnya.


"Siapa?" Tanyanya masih datar.

__ADS_1


"Saya tidak tahu tuan, dia seorang laki-laki katanya penting" bales pelayan itu.


"Ya sudah ayo! " Ujarnya dan sebelum ia melangkah ia membisikan sesuatu pada Ardiyan. Setelah selesai ia kembali melangkah menuju lobby hotel, sesampainya di sana ternyata tidak ada orang, ia pun menghampiri resepsionis hotel, Namun belum sempat ia bertanya, ponselnya berdering. Ternyata panggilan dari Ardiyan ia pun langsung menjawab


"Halo ada..." Jawabnya tapi belum selesai perkataanya, di potong oleh Ardiyan"Cepat datang ke toilet!" Bentak Ardiyan membuat Dimas kaget tanpa berpikir panjang, la pun langsung berlari menuju toilet. Sesampainya ia melihat Giovani yang nampak kesal. Dimas pun menghampiri.


"Wanita murahan! Rencana Jebakan mu terlalu murahan! Kau pikir kami tidak tahu semua rencana busuk mu hah!" Ucap Dimas geram dan menghempas Giovani " Pergi kau! Jangan sampai aku melihat wajah mu lagi, paham!!" tambahnya lalu Dimas pun bergegas membuka pintu kamar mandi, betapa kagetnya ia karena melihat Ardiyan yang basah kuyup dengan bibir yang mengeluarkan darah.


"Diyan! Diyan! sadarlah, kita harus kerumah sakit" ucap Dimas sambil menepuk pipinya Ardiyan pun membuka matanya.


"Tidak Bawak aku pulang saja!" balas Ardiyan lemah "itu terlalu jauh, gue nggak yakin Lo bisa menahannya, sebaiknya kerumah sakit saja," Dengan cepat Dimas pun merangkul pundak Ardiyan " Aku bilang pulang! tidak ada bantahan!" Balesnya tegas, "Haiis, sudah seperti ini juga masih kejam aja Lo bos" gerutu Dimas sambil terus memapahnya, hingga depan lobby hotel, lalu ia pun merintahi seseorang untuk mengambil mobil mereka, setelah datang ia pun membaringkan tubuh Ardiyan di kursi penumpang setelah itu Dimas pun bergegas duduk di belakang kemudi dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, beruntung karena hari sudah larut malam maka jalanan begitu sepi


Bersambung


---------------

__ADS_1


Jangan lupa ya 😉


__ADS_2