Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek

Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek
Fakta Sebenarnya,


__ADS_3

Masih di ruang rapat..


"Kenapa kek? Kenapa kakek memutuskannya secara sepihak tanpa memberitahu Diyan" tanya Ardiyan pada kakeknya.


"Kenapa? Karena memang sudah waktunya" jawab kakek seadanya.


"Tapi kenapa kenapa bukan Dimas,? Bukankah cucu Kakek itu Dimas? jadi biarkan Dimas yang memimpin perusahaan ini karena Diyan tidak mau" ucapnya sambil berdiri hendak meninggalkan ruang rapat tersebut dan membuat kakek, Dimas, dan ayah Dimas terkejut akan perkataan Ardiyan,


"Kamu! Aach!" Tiba-tiba kakek Ardiyan memegang dadanya dan tak lama jatuh, Ardiyan yang hendak pergi langsung menghampiri kakeknya yang sudah terkapar di lantai,


Dengan cepat Ayah Dimas menelpon Ambulans tak lama kemudian Ambulans pun datang dan kakek di bawa ke rumah sakit dan langsung di Bawak keruang IGD agar di tangani dengan cepat,


Ardiyan begitu gelisah menunggu di depan ruangan itu dia begitu sedih karena sudah membuat kakeknya harus merasakan sakit,


Tak lama dokter pun keluar.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan kakek saya Dok" tanya Ardiyan terlihat cemas,


"Kakek Anda sudah melewati masa kritisnya tapi karena jantung pasien agak melemah sebaiknya jangan membuat pasien melakukan hal-hal yang memicunya jantungnya karena akan berakibat fatal" jelas dokter tersebut,


"Baiklah dok, apakah saya boleh melihatnya?" Ucap Ardiyan,


"Silahkan pak pasien juga sudah di pindahkan keruangan rawat, kalau begitu saya permisi" ucap dokter dan meninggalkan Ardiyan, Ardiyan pun langsung pergi menuju keruang rawat inap. Sesampainya di sana ia melihat kakeknya yang belum sadar ia pun menghampirinya, dan duduk di samping ranjang sang kakek lalu Ardiyan memegang tangan kakeknya,


"Maafkan Diyan kek, maaf karena Diyan kakek jadi seperti ini "ucapnya lirih dan tanpa terasa air matanya mengalir dan tak lama sebuah tangan memegang bahunya, ia pun menoleh ternyata Ayah sahabatnya.


"Bisakah kita bicara tuan muda?" tanya Ayah Dimas dan di anggukkan lagi oleh Ardiyan.


"Kalau begitu mari ikut saya tuan muda" Ajak ayah Dimas lagi,


Ardiyan pun mengikuti ayah Dimas, mereka melangkah ketaman rumah sakit yang sepi, sesampainya di sana mereka duduk di kursi yang ada di taman itu, sesaat mereka terdiam dan tak berapa lama Ayah Dimas memberikan sebuah map berwarna merah,

__ADS_1


"Apa ini paman?" Tanya Ardiyan, yang terlihat penasaran.


"Sebaiknya tuan muda lihat sendiri" jawabnya lalu ardiyan pun membuka map tersebut, ia mengerutkan keningnya,


"Apa maksudnya ini paman? Apa maksudnya orang tua ku di bunuh? Bukankah polisi mengatakan kalau itu murni karena sebuah kecelakaan?" Tanya Ardiyan meminta penjelasan dari ayah Dimas,


"Iya tuan muda, memang polisi mengatakan itu tapi kakek Anda tidak percaya hal itu makanya secara diam-diam kami menyelidikinya sendiri dan itulah Fakta sebenarnya, kalau orang tua tuan muda sebenarnya di bunuh, makanya sejak mengetahui itu, kakek berusaha melindungi mu dengan cara menjauhkan dirinya dari tuan muda, mengabaikan tuan muda dengan tujuan mengelabui sih pembunuh itu tuan muda, karena bagi kakek Anda hanya tinggal tuan muda pewaris tunggal dari Pramana grup, makanya sebisa mungkin kakek Anda menyembunyikan identitas tuan muda, dan karena itu juga kenapa beliau selalu membawa Dimas, karena Dimas memang telah di persiapkan untuk menjadi tameng untuk tuan muda." jelas Ayah Dimas panjang lebar, membuat Ardiyan kaget dan semakin merasa bersalah terhadap kakek dan juga pada sahabatnya karna selama ini ia sempat iri padanya, Ardiyan menundukkan kepalanya, seperti menyembunyikan kesedihannya.


"Tapi kenapa harus merahasiakan ini padaku paman?, kenapa tidak berterus terang saja, agar Diyan tidak salah paham pada Dimas maupun kakek, kenapa paman?" Tanya Ardiya lirih, dan terlihat juga matanya telah berkaca-kaca seperti ingin menangis.


#Bersambung.


____________


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 🙏.

__ADS_1


__ADS_2