Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek

Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek
KEKHAWATIRAN ANISAH.


__ADS_3

πŸ’—Kalam Mutiara πŸ’—


Ψ₯Ω† Ψ§Ω„Ω„Ω‡ ΩŠΩ‚Ψ°Ω Ψ§Ω„Ψ­Ψ¨ في Ω‚Ω„ΩˆΨ¨Ω†Ψ§ فلا ΨͺΨ³Ψ§Ω„ Ω…Ψ­Ψ¨Ψ§ Ω„Ω…Ψ§Ψ°Ψ§ Ψ£Ψ­Ψ¨Ψ¨Ψͺ


" Sesungguhnya Allah memasukkan cinta kedalam hati kita, maka jangan pernah bertanya kepada para pecinta mengapa mereka mencinta "


-βš› Sayyidina Ali bin Abi Thalib βš›-


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Ardiyan, Dimas, Dika, Wira dan Andi mengobrol tentang masa-masa dahulu di ruang keluarga, Sementara Anisah dan Lisa berada di ruang makan sedang, menyusun Makanan untuk para suami berserta sahabatnya. setelah selesai Anisah pun memberitahukan kepada Ardiyan.


"By, Makanan sudah siap, ajak mereka makan dulu by.." ujar Anisah, saat sudah berada di ruang keluarga.


"Alhamdulillah, ya sudah yuk guys kita makan dulu.." Ajak Ardiyan pada teman-temannya.


"Kayaknya gue nggak bisa ikutan Ar,.. sorry bukan gue menolak rezeki cuma gue nggak bisa ninggalin lama-lama binik gue di pondok, lo kan kakinya masih sakit jadi gue harus cepat pulang ke pondok Ar." Sambung Wira menolak Ajakan Ardiyan secara halus.


"Eh Lo mau kepondok An-Nur wir?" tanya Dika yang mendengar Wira ingin pulang ke pondok.


"ya iyalah pondok mana lagi.." bales Wira.


"Gue ikut Lo deh kalau gitu, sekalian temani gue ngomong sama ustadz Khairul ya" ujar Dika lagi.


"Kok jadi pada pergi sih, Lo pada nggak kasihan apa sama Nisah da Lisa yang sudah bersusah payah masak buat Lo pada?.." protes Ardiyan pada Wira dan Dika.


" Iya..Bang Wira dan bang Dika makan aja dulu, Sambil nunggu Nisah menyiapkan makanan buat Asiyfa dan umi, bolehkan Nisah nitip bang Wira" Sambung Anisah yang sepertinya Melihat suaminya seperti kecewa pada kedua temannya itu, makanya membuat alasan seperti itu agar Wira dan Dika mau makan,


"Boleh kok Nis, ya udah yuk kita makan dulu dik" Ajak Wira pada Dika.


"Oke deh kalau gitu Ayoo" bales Dika juga. dan Akhirnya mereka pun makan bersama dengan penuh hikmah.


Nggak membutuhkan waktu yang lama untuk menghabiskan makanan, Wira yang sepertinya sudah tidak sabar ingin cepat pulang pun segera berdiri setelah menyelesaikan makannya


"Gue sudah siap bro, gue pulang sekarang ya?" ujar Wira pada Ardiyan.


"Buru-buru banget sih Lo" protes Ardiyan.


"Sorry, gue baru tadi pindah ke pondok jadi gue belum sempat nyarin binik gue pembantu, emang sih tadi gue dah minta tolong sama Ustadzah Nina buat temani dia, tapikan nggak enak juga sama Ustadzah Nina kalau gue nggak balik-balik" ujar Wira memberi alasan.


"Apa Nina di rumah Lo, kalau gitu gue ikut ke rumah Lo juga ya Wir," timpal Dika yang langsung ikut berdiri setelah mendengar nama Nina.

__ADS_1


"Enak aja Lo, kalau Lo mau ketemu dia jumapa di rumah Abi Ustadz aja Sono!" Bales Wira


"Ya elah pelit banget sih Lo !" protes Dika lagi.


"Biarin!"


"Sudah, sudah sudah, pergilah bang Wira, ini nanti berikan pada Umi dan Syifa ya, dan sampaikan salam Nisah pada mereka, dan semoga Syifa cepat sembuh biar saat pergi nanti ia sudah berjalan normal.." Sambung Anisah menengahi perdebatan mereka dan sambil menyerahkan dua buah kotak berisi makanan pada Wira.


" Aamiin ya Allah" ucap mereka serentak yang mendengar doa Anisah buat Asyifa.


"Baiklah nanti aku sampaikan, terimakasih ya atas doanya dan terimakasih juga atas makanannya dan juga ini, " bales Wira sambil mengangkat kantongan plastik berisi kotak makanan. " kalau begitu gue pamit guys, Assalamu'alaikum " lanjutnya lagi dan di akhiri salam.


"Iya bang sama-sama wa'alaikumus salam" bales Nisah.


"gue juga pamit ikut Wira ke pondok Ar, Assalamu'alaikum" pamit Dika juga.


"Wa'alaikumus salam " jawab mereka serentak. setelah mendapatkan Jawaban dari para sahabatnya Wira dan Dika pun melangkah pergi untuk pulang, tinggallah, Ardiyan, Dimas Anisah Lisa dan Andi.


"Ah tinggal gue.. sih jomblo yang malang," ujar Andi sambil meletakkan tangan kanannya ke dahinya lalu ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah di buat sedih.


membuat Ardiyan dan Dimas tertawa.


" gue rasa benar tuh yang di bilang Dimas, jadi Lo Kualat dah sama minul, gue saranin baiknya lo pergi deh ketempat minul dan minta maaf sama dia deh." sambung Ardiyan juga.


"Oke dah kalo gitu, gue kesana sekarang, sekalian mau ngecek apakah dia sudah kempes apa belum" Bales Andi konyol.


"Kempes?, emang balon apa?" protes Ardiyan.


"bukan sih, tapi ini mboknya balon" Bales Andi enteng


"Haiis, dah dasar otak sengkle, ya udah sana cek minul Lo tuh" celetuk Dimas.


"Baiklah kalau gitu gue balik, doai ya guys, semoga minul gue udah kempes " ujarnya lagi dengan wajah konyolnya.


"Iya Aamiin, dah Sono empat gue liat Lo" seru Dimas.


"Iya ya, bay, Assalamu'alaikum" pamit Andi.


"Wa'alaikumus salam" jawab mereka serentak. Andi Akhirnya melangkah pergi meninggalkan mereka juga.


"Oke deh tinggal kita sayang, yuk kita pulang juga, biar Ardiyan istirahat diaka baru keluar dari rumah sakit." ujar Dimas pada istrinya.

__ADS_1


"Baiklah kak.., ty ana pulang ya" pamit Lisa pada Anisah.


"Na'am ty" bales Anisah singkat


"ya sudah ya Ar, kami balik juga.. Lo juga harus istirahat ya." pamit Dimas juga pada Ardiyan.


"Assalamu'alaikum" Salam Dimas dan Lisa.


"Wa'alaikumus salam " bales Ardiyan dan Anisah, setelah mendapatkan jawaban salamnya Dimas dan Lisa pun berjalan keluar sambil bergandengan tangan.


Tinggallah mereka berdua Ardiyan dan Anisah.


"Alhamdulillah Akhirnya mereka pulang juga" ucap Ardiyan lega.


"Astaghfirullah hubby kok gitu sih ngomongnya? seperti nggak suka dengan kedatangan mereka?" tegur Anisah pada suaminya


"Eh maaf sayang, bukan ubby nggak suka mereka di sini kok, cuma sejak tadi ubby sudah menahan rasa ngilu di pinggang dan pinggul ubby sayang" keluh Ardiyan, sedikit berkeringat seperti menahan sakit.. iya emang sebenarnya Ardiyan belum sembuh benar makanya ia tak bisa berlama-lama untuk duduk.


"Astaghfirullah, kenapa tidak bilang dari tadi sih hubby? ya sudah ayo, Nisah antar ke kamar" Anisah yang mendengar keluhan sang suami menjadi khawatir apalagi saat melihat keringat dingin yang mengucur di wajah Ardiyan, kekhawatiran Anisah semakin besar ia pun langsung merangkul tangan suaminya dan menuntunnya dengan perlahan, menuju ke kamar mereka.


Sesampainya di kamar ia membantu Suaminya berbaring, setelah itu ia mengambil Air hangat dan juga obat lalu dengan cepat ia menyuapkan obat itu ke mulut Ardiyan, setelah itu memberikan Air hangat untuk di minumnya. setelah itu Ardiyan tak mengucapkan apapun ia langsung memejamkan matanya.


setelah meletakkan kembali gelas ke meja Anisah pun mengambil handuk kecil lalu mengelap keringat dingin sang suami.


"Apakah masih terasa sakit hubby?" tanyanya karena melihat wajah Ardiyan yang sudah memucat seperti sedang menahan sakit.


"Hubby?" panggil Anisah panik Namun Ardiyan tidak menjawab.


"Hubby?"


**BERSAMBUNG..


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..


Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.


dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.


"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..


Jadi jangan lupa ya guys πŸ™πŸ˜‰ Syukron 😊**

__ADS_1


__ADS_2