Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek

Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek
Bidadari Turun Dari Motor.


__ADS_3

Pertempuran sangat sengit hampir tak ada celah untuk saling mendahului sementara garis finis sudah mendekati, suasana semakin tegang bagi penonton, termasuk Ardiyan, dia terus berdoa berharap istrinyalah yang menang.


"Ya Allah menangin Anisah, mudahkan ia menggapai garis finis terlebih dahulu, menangi istri hamba ya Allah hamba mohon" doa Ardiyan untuk istrinya.


"Aamiin, Aamiin, ya Allah" sambung Dimas yang mendengar doa Ardiyan. " Luar biasa binik Lo bro, dia bisa mengimbangi permainan Wira..' lanjut Dimas lagi, tapi nggak di tanggapi oleh Ardiyan karena ia begitu fokus menyaksikan istrinya yang sedang balapan.


Sementara di arena balap..


"Gila nih perempuan, dia benar-benar bisa ngimbangin permainan gue, bahkan dia begitu lihai, ah gawat motor gue goyang.." batin Wiraxsana. Karena pemikirannya pecah akhirnya ia gagal fokus Dan mulai lengah tanpa dia sadari Anisah sudah mencapai garis finis terlebih dahulu.


"Yeeee, Anisah menang " sorak Dimas dan Ardiyan " Yee.. Yee.. Yee..Yee..Yee..Yee.. Anisah menang" sorak kegembiraan Ardiyan dan Dimas bak anak kecil sambil menggoyang tangan dan pinggulnya kekanan dan ke kiri, bergoyang-goyang secara serentak.


Sedangkan Ustadz Fahmi dan ubay hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil melihat tingkah keduanya.


Sementara Anisah yang sudah melewati garis finis, terus melajukan motornya mendekati ke arah Ardiyan dan yang lainnya berada, dan tepat di depan mereka motor pun berhenti.


Anisah pun membuka helmnya dan tampaklah mata cantik Anisah yang menyipit menandai ia sedang tersenyum.



"Maa syaa Allah, istri kecilku begitu mempesona" ucap Ardiyan tanpa sadar.


"Maa syaa Allah, bidadari Turun Dari Motor datang.." celetuk Dimas juga ikut terpesona.


"Astagfirullah, itu mahram orang!" Ujar ubay sambil mengusap wajah Dimas, hingga ia terkejut.

__ADS_1


"Astagfirullah..! Bang ubay bikin kaget aja sih" bales Dimas sambil mengusap wajahnya kembali seperti ingin menghilangkan kotoran.


"Tangan ente tuh penuh kuman, main usap wajah orang aja, emang wajah ane papan tulis apa main usap aja" lanjut Dimas lagi.


"Hahaha sorry man.. habis ente melihat adek ane sampai ngences gitu sih" canda ubay sambil tertawa melihat tingkah Dimas.


"Ck, siapa yang ngences, orang ane cuma kagum lihat dek Nisah pun" ucap Dimas sambil melengus.


"Sudah, sudah, kenapa jadi kalian yang bertengkar, lihat noh yang kalian pertengkarin lagi mesra-mesraankan" Ucap Wiraxsana dengan wajah masamnya.


"Haiiis.. emang nggak ada Akhlak ya.. woy tau tempat dong ingat di sini masih ada yang jomblo " celetuk Dimas sambil melirik ke arah Wiraxsana. Sedangkan Ardiyan tidak memperdulikan teguran Dimas.


"Kenapa Lo ngelirik gue!" Protes Wira.


"Hehehe, kan Lo yang masih jomblo di sini" bales Dimas cengengesan.


"Lah kan emang fakta Lo jomblo..eh gue punya saran nih, gimana kalau Lo sama Giovani aja, jadi lo kan nggak jomblo lagi" ucap Dimas Asal.


"Huekx.. wogah gue, cewek murahan gitu, Lo kasih gue, tapi kalau ada cewek seperti Anisah gue nggak bakalan nolak deh" bales Wira.


"Yaa kan dulu Lo cinta ma dia?"


"Itulah kebodohan gue yang paling gue sesali sampai sekarang" ucap Wira nampak penuh penyesalan, lalu ia pun melangkah menuju ketempat Ardiyan dan Anisah. Dimas terdiam ketika Wira mengatakan itu, ia juga dapat melihat bahwa sahabatnya kini di selimuti penyesalan.


Sementara Ardiyan dan Anisah..

__ADS_1


"Selamat ya sayang, akhirnya kamu yang menang" ucap Ardiyan sambil memeluk Anisah serta mengecup kening Anisah.


"Alhamdulillah hubby, ini juga berkat doa hubby" bales Anisah.


"Iya sayang.. doa ubby selalu ada untuk kamu" ucapnya lagi dan mengecup kening Anisah lagi.


"Iikh, hubby udah akh, jangan begini, malu tuh bang Dimas, sudah protes."


"Jangan hiraukan dia, ngapain harus malu, orang kita dah halal pun" ucap Ardiyan lagi sambil mempererat pelukannya.


"Iiss Hubby!.. Nisah cubit nih!" Balas Anisah sambil mencubit pinggang Ardiyan.


"Au..Au..Au.. aduh sakit sayang, kamu kejam sekali sih sama suamimu" ujar Ardiyan sambil meringis dan mengusap-usapkan pinggangnya.


"Biarin, siapa suruh nggak mau dengar Nisah!" Balas Anisah ketus. Dan pada saat itu Wira datang menghampiri mereka.


"Selamat ya ustadazah, anda memang luar biasa" ucap Wira saat sudah di hadapan mereka dan ia pun hendak mengulurkan tangannya hendak bersalaman dengan Anisah, namun di Bales Anisah dengan mengatupkan kedua tangannya.


"Terimakasih bang Wira ini hanya kebetulan" ucap Anisah mengatupkan tangannya, Wira yang melihat itu ia pun langsung menarik tangannya kembali dan mengatupkan juga.


"Baiklah sesuai kesepakatan, kalau Lo kalah Lo akan belajar agama di pondok Abang binik guekan?" Tanya Ardiyan.


Bersambung lagi Akh..


apakah Wira menyetujui?

__ADS_1


Terus dukung Author ya, semakin banyak semakin Author semangat 😉🙏


__ADS_2