
Setelah mereka berdamai terpancar kebahagiaan di ruangan itu, terrasa begitu hangat mereka saling mengingat masa-masa ketika mereka bersekolah bersama terkadang ada suka dan duka.
"Alhamdulillah, melihat kalian sudah kembali bersahabat Abang merasa senang, semoga persahabatan kalian membawa kebaikan dan di Ridhain Allah SWT, Aamiin" ucap Ustadz Fahmi.
"Aamiin" ucap mereka serentak.
"Terimakasih ya ustadz, karena ustadz persahabatan saya dan Ardiyan kembali terjalin." Ucap Wiraxsana sambil menyalami tangan ustadz Fahmi.
"Sama-sama dek, sudah menjadi kewajiban Abang untuk mengingatkan pada kalian yang sudah seperti adik bagi Abang," bales Fahmi sambil tersenyum penuh kebahagiaan.
"Hai.. mau sampai kapan nih acara perdamaiannya selesai? Apakah acara balapannya tidak jadi? Kalau tidak jadi sebaiknya kita pulang kasihan binik gue di rumah pasti menunggu kedatangan suami tercintanya nih" ujar Dimas penuh percaya diri.
"Cuih suami tercinta?.. sok model Lo bro..sementang dah punya binik perasaan di nanti, yang ada paling binik Lo takut kelez.." bales Wira.
"Lah Lo kok tahu binik gue takut sama gue?.. iya sih namanya masih pedekate jadi perasaan cinta belum muncul sempurna, nah makanya sekarang gue harus gencar, biar cintanya tumbuh dengan sempurna, jadikan bisa uwik, uwik, Asyeek akh, "ucap Dimas sambil menaik turunkan Alisnya dan matanya merem melek.
"Apaan sih bang Dimas.! nggak tahu malu sih?" Tegur Anisah sambil pelototi matanya pada Dimas.
"Eh, hehehe dek Nisah.? Afwan (maaf) dek" Bales Dimas sambi cengengesan serta mengatupkan kedua tangannya.
"Mampoos!" Celetuk Wira sambil mengejek Dimas.
"Cih, ehmp," Dimas hanya mendengus. Membuat para sahabatnya tertawa kecil melihat tingkah iucu Dimas. Anisah yang melihat itu akhirnya ia insiatif mengalihkan pembicaraan.
"Bang Wira?, Apakah Abang jadi berniat balapan dengan Nisah?" Tanya Anisah pada wiraxsana.
__ADS_1
"Jadilah ustadazah, karena saya begitu penasaran sehebat apa anda? sehingga bisa mengalahkan sahabat saya Mr Arogan.." bales Wira sambil melirik ke arah Ardiyan.
"Haiis, kalau bukan karena penasaran sama dia dan membuat gue lengah pada waktu itu juga nggak bakalan kalah gue" gumam Ardiyan tapi masih terdengar oleh mereka.
"Kalah ya kalah aja bro, itu mah takdir, karena nggak yang kebetulan di dunia ini semuanya sudah di atur sama sang pemilik Skenario-Nya. Benar nggak bang pahmi?" Ujar Dimas
"Alhamdulillah.. benar Ustadz Dimas" bales Fahmi.
"Aduh Ustadz? Ikh bang Fahmi bisa saja sih, masih jauh bang.." ucap Dimas malu.
"Aamiin kan saja dek semoga jadi doa" bales Fahmi lagi.
"Aamiin " jawab mereka serentak. Membuat Dimas malu.
"Ya sudah kita mulai saja sekarang balapannya agar cepat selesai" ujar Fahmi lagi.
Sesampainya disana Ardiyan dan kawan-kawan terkesima oleh pemandangan di halaman tersebut, yang ternyata di sana terdapat sirkuit balap yang begitu terang.
"Wah keren, berasa kita di sirkuit Sentul ini mah. Lo benar-benar mau jadi pembalap wir?" Tanya Dimas.
"Nggak sih, gue hanya hobi saja tidak berniat untuk jadi pembalap" bales Wira." Ya sudah sebaiknya kita mulai saja, apakah ustadazah sudah siap?" Lanjut Wira serta bertanya pada Anisah.
"In syaa Allah ana siap bang Wira" bales Anisah santai.
"Baiklah ustadazah, ayo kita kesana" ucap Wira lagi mengajak Anisah menuju start yang sudah ada dua motor di sana. Namun di tahan oleh Ardiyan.
__ADS_1
"Sayang, hati-hati ya, jangan dipaksa kalau nggak kuat oke.. Muach ini penyemangat dan kekuatan dari ubby" ucap Ardiyan sambil memeluk dan mengecup Anisah.
"Haiiis.. woy, binik Lo tuh cuma balapan bukan perang ok, jadi jangan lebay deh" celetuk Wira dengan mata di julingkan keatas.
"Diam Lo..! Bilang aja Lo iri nggak ada yang nyemangati Lo, dan ingat jangan main trik, balapan yang jujur Ok, awas aja Lo curangi istri gue!" Balas Ardiyan sambil mengancam.
"Sudahlah hubby, cukup doain Nisah aja ya" ujar Anisah menengahi perdebatan, setelah itu Anisah menyalami tangan Ardiyan serta mengecupnya.
"Baiklah sayang hati-hati ya?" Balas Ardiyan dan di anggukkan kepala oleh Anisah, setelah itu ia melangkah menuju start yang di sana sudah ada Wira yang sudah menaiki motornya. Dan ia pun ikut menaiki racer red miliknya dan memakai helmnya. Dan di sana juga sudah ada Abang Anisah Ubaydillah.
Setelah siap Ubaydillah memberikan aba-aba dengan mengangkat tangan kanannya keatas dan ia mulai menurunkan tanda balapan di mulai, kedua motor pun melaju kencang saling kejar mengejar dengan kecepatan penuh.
Sementara Ardiyan, Dimas dan yang lainnya ikut tegang menyaksikan balapan mereka.
"Wah gila.. binik Lo luar biasa ya Ar.. lihat tuh kayaknya Wira mulai kualahan mempertahankan dirinya depan" ucap Dimas kagum menyaksikan pertempuran itu.
"Bismillah.. in syaa Allah binik gue bakal menang" bales Ardiyan santai.
Dua puluh menit pun terlewatkan, garis finis pun sudah mendekati. Suasana semakin tegang menanti siapakah yang terlebih dahulu memasuki garis finis.
Bersambung lagi ya..🙏😉
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.🙏
__ADS_1
Tetap dukung Author ya🙏