
Hari-hari telah berlalu satu Minggu sudah Ardiyan dan Anisah menjaga jarak demi keselamatan Anisah. Ardiyan yang berada di rumah besar tempat kakeknya, sedangkan Anisah berada di pondok pesantren, walaupun mereka sering berhubungan lewat handphone namun bagi Ardiyan rindunya tak tertahankan dan malam ini ia berencana ingin menemui Anisah dan nampak ia sudah bersiap dengan memakai kaos putih bercelana jeans dan tak lupa ia memakai jaket hitam serta memakai topi dan ia pun bergegas keluar kamar dan menuruni anak tangga saat sampai di ruang keluarga ternyata kakeknya berada di sana.
"Kamu mau kemana nak?" Tanya kakek Rusdi.
"Diyan mau ke pondok kek," Bales Ardiyan.
"Seperti kamu sudah terserang penyakit" ucap kakek Rusdi membuat Ardiyan bingung.
"Penyakit? Apa maksud kakek?" Tanya Ardiyan mengerutkan keningnya.
"Iya penyakit MalaRindu hahaha" balas kakek Rusdi menggoda Ardiyan sambil terkekeh.
"Haiis, kakek!, Apaan sih!" Ardiyan kesal karena di goda oleh kakeknya.
"Kakek juga pernah muda nak, jadi kakek tahu yang kamu rasakan sekarang, jadi pergilah temuilah dia," ujar kakek sambil menepuk pundak Ardiyan. Mendapatkan dukungan dari kakeknya membuat Ardiyan senang, tapi sesaat ada keraguan di hatinya.
"Tapi kek..." Ucapnya terhenti karena terpotong oleh ucapan sang kakek.
__ADS_1
"Tidak ada tapian, kamu tidak perlu khawatir, karena keselamatan kalian sudah ada yang bertanggung jawabkan, jadi kamu tenang saja, sekarang pergilah jangan membuat ia terlalu lama menanggung Mala Rindunya" ucap kakek Rusdi membuat Ardiyan Ardiyan senang lalu ia pun memeluk sang kakek.
"Terima kasih kek, ya sudah Diyan berangkat ya, Assalamu'alaikum kek" ucapnya dan melepaskan pelukannya lalu ia mencium tangan kakeknya setelah selesai dengan semangat ia pun bergegas meninggalkan kakeknya dan pergi keluar hendak menuju mobilnya ternyata di sana ada Dimas.
"Eh, kenapa Lo di sini, bukankah seharusnya Lo sudah pulang tadi?" Tanya Ardiyan kaget karena setahunya Dimas sudah pulang.
"Seharusnya sih gitu.. tapi tadi ada yang ngabarin kalau seseorang lagi terkena penyakit MalaRindu, jadi ya gue harus mengantarnya untuk membawanya menemui obat penangkalnya" jawab Dimas dengan sindiran.
"Aiish, kerjaan kakek nih, ya sudah ayo berangkat!" Bales Ardiyan kesal lalu ia pun masuk ke dalam mobilnya. Dimas hanya tersenyum melihat tingkah bosnya sekaligus sahabatnya itu, lalu ia pun memulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. dan dengan menempuh perjalanan satu jam setengah akhirnya mereka pun sampai, saat hendak masuk gerbang mereka di halangi oleh segerombol orang tak dikenal. lalu mereka pun turun dari mobil.
"Pondok ini sudah menyembunyikan calon istri bos kami" Jawab salah satu dari mereka.
"Calon istri? siapa calon istri bos kalian?" Tanya Dimas lagi.
"Elisah Khairunisa, atau biasa di panggil Ustadazah Lisa" jawab orang tersebut itu lagi. membuat Dimas kaget.
Deg!
__ADS_1
"Dia calon istri orang? tapi kenapa jantung ku jadi sakit gini ya?" _batin Dimas bingung dengan perasaannya.
" Apa kalian nggak salah? kenapa bisa dia menjadi calon bos kalian? dan siapa bos kalian?" tanya Ardiyan.
"Bos kami Badrul, karena paman ustadazah Lisa tidak bisa membayar hutangnya, maka ustadazah Lisa harus bersedia di nikahi oleh bos kami untuk menjadi istri ketiganya" jawab orang itu lagi, membuat Ardiyan dan Dimas geram.
"Oh bos kalian rentenir rupanya,, hmm sepertinya bos kalian minta di belai ya? seenaknya saja dia mau menjadikan orang yang tidak bersalah menanggung kesalahan orang lain!" ujar Dimas mulai panas
Bersambung
---------------
Authornya lagi 🤒Meriang, jadi galfok,
sebaiknya ane bobo dah pusing met malam😴😴😴😴😴
jangan lupa tinggalkan jejaknya ya 🙏😴
__ADS_1