Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek

Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek
Calon Ayah.


__ADS_3

Setelah Ardiyan dan Dimas selesai makan, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju perusahaan Pramana grup tempat mereka bekerja, butuh waktu tigapuluh menit mereka pun sampai. Dan nampak di depan lobi seorang wanita sedang menunggu kedatangan mereka.


"Pagi Ar.." sapa wanita tersebut.


"Mau apa kau datang kemari lagi!" Bales Ardiyan ketus.


"Bisakah kita bicara Ar?" Tanya wanita itu penuh harap.


"Sudah tidak ada yang perlu di bicarakan Giovani Alexsha, dan gue harap ini pertemuan kita terakhir!" Jawab Ardiyan datar, ya ternyata wanita Tersebut adalah Giovani. Mendengar ucapan Ardiyan yang begitu dingin ia pun bersimpuh di hadapan Ardiyan.


"Aku mohon Ar, beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya, jangan begini Ar" ujar Giovani yang mulai menitikkan air matanya.


"Gue nggak punya urusan lagi sama Lo!, Dan sebaiknya Lo tinggalkan tempat ini!" Bales Ardiyan mulai kesal lalu ia pun bergegas meninggalkan Giovani.


"Ardiyan!, Kenapa kau tega sekali padaku! Aku begitu mencintaimu...! Apa salahku, kenapa kau hancurkan keluarga ku!.."terak Giovani dia nggak peduli sama sekelilingnya yang sedang melihatnya "Ardiyaaaaan!" Teriaknya lagi tapi tak di hiraukan oleh Ardiyan, ia terus melangkah menuju lift khusus.


"Ba****gan kau Ardiyan, aku akan membalas perlakuan Lo, akan ku buat perusahaan Lo juga hancur!" Giovani begitu kesal lalu ia mengusap air matanya dengan kasar lalu ia pun meninggalkan kantor ardiyan.


_______


Sementara di lift...

__ADS_1


Hueek.. hueek..hueek..


"Aiish, gila lo ndro.. mau muntah di lift, bisa berabe tau" ucap Dimas kaget melihat ardiyan mual ingin muntah.


"Diam Lo!, Ini gara-gara perempuan yang nggak beradap itu, gue jadi hueek.. hueek" bales Ardiyan namun terputus karena ia kembali mual.


"CK, bikin repot aja nih anak Ayah sini mau minta di elus ya.."ujar Dimas lalu ia mengelus-elus perut Ardiyan bak seorang suami mengelus perut istrinya.


"Aih manjur juga elusan Lo, mual gue berkurang " bales Ardiyan dan membiarkan Dimas mengelus perutnya.


"Karena gue sudah menjatuhkan harga diri gue, dan Lo selalu bikin gue susah.. jadi Lo harus menjadikan gue sebagai Calon Ayah dari anak Lo juga" ucap Dimas Asal masih mengelus perut Ardiyan.


"but thanks for everything" tambah Ardiyan sambil menepuk pundak Dimas dan tak lama.


TIING


Pintu lift terbuka, dan ternyata di depan pintu lift ada seorang laki-laki dan sekertarisnya ardiyan, mereka tercengang melihat adegan drama Ardiyan dan Dimas.


"Eh.. apa yang kalian lihat tidak seperti yang di bayangkan" ujar Dimas berusaha menjelaskan pada kedua orang tersebut. Lalu ia keluar meninggalkan Ardiyan yang masih di lift.


"Emangnya apa yang gue bayangkan? Tapi ngomong-ngomong Ardiyan kenapa wajahnya pucat begitu?" Tanya laki-laki itu yang ternyata sahabat ardiyan dan Dimas, yaitu Andi.

__ADS_1


Hueek.. hueek..


Akhirnya ardiyan mengeluarkan isi perutnya yang sudah ia tahan dari tadi, karena sudah tak tertahan ia pun tak sempat pergi ke toilet.


"Nahloo.. keluar dah tuh lahar.. jorok banget sih bos Lo dim" ucap Andi yang melihat ardiyan muntah.


"Ah, bising Lo cepat bantu gue papah Ardiyan!" ucap Dimas lalu ia dan Andi pun memapah Ardiyan menuju keruang CEO. "CK akhirnya tu soto tersia-sia juga" tambah Dimas melihat yang keluar, ternyata soto yang baru di makan adiyan tadi.


"aiyah, kalau Lo merasa itu sia-sia, Lo pungut aja biar nggak jadi sia-sia" ucap Andi.


"Dih..Najis! Lo aja sana!" bales Dimas ketus.


"Yakan Lo tadi yang bilang, eh tapi ngomong-ngomong sebenarnya Ardiyan kenapa? kalau sakit kenapa dia kerja?" tanya Andi beruntun.


"Dia nggak sakit, cuma ini efek karena biniknya hamil, jadi dia mengalami sindrom simpatik kehamilan" jelas Dimas.


Bersambung


-----------------


Dukung Author terus yaa 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2