
"Dia keponakan saya, dan saya yang sudah membiayai kehidupannya selama ini, jadi sudah waktunya dia membalas Budi ku" ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dari keramaian itu.
"Oh, inikah paman ustadazah Lisa, yang tak memiliki rasa malu? Gimana cara anda membiayai kehidupan dia, sementara anda sibuk berjudi hingga berhutang dengan rentenir begitu banyak!, tidakkah anda malu mengakui bahwa keberhasilan ustadazah Lisa sebenarnya adalah dari beasiswa karena kecerdasannya? Di mana letaknya anda membiayainya?" Ujar Dimas tenang namun membuat sang paman Lisa kesal.
"Dari mana kau tahu?, Dan siapa kau yang berani ikut campur urusan keluarga ku!" Bales pamannya Lisa lantang.
"Aku?, Siapa aku itu anda tidak perlu tahu, yang pasti jika Anda tidak pergi dari sini maka saya akan melaporkan anda pada pihak yang berwajib, karena sudah mengganggu ketenangan pondok ini dan juga karena sudah menjual keponakan anda pada seorang rentenir!" Gertak Dimas membuat pamannya Lisa merasa takut.
"Kau mengancam kami? Tapi baiklah kami akan pergi dari sini aku biarkan hari ini keponakan saya disini, tapi tidak hari esok, karena saya pastikan besok dia sudah harus menikah pada bos Badrul!" Ucap paman Lisa lagi, lalu ia pun mengajak para kawanan anak buah bos Badrul pergi meninggalkan gerbang pondok dan menyisakan beberapa orang penjaga pondok dan ustadz Khairul, Dimas dan Ardiyan pun menghampiri ustadz Khairul.
"Assalamu'alaikum Abi" sapa mereka serentak dan menyalami tangan ustadz Khairul serta mencium tangannya.
"Wa'alaikumus salam nak Ardiyan, nak Dimas" bales ustadz Khairul." Syukur akhirnya mereka pergi, terimakasih nak dimas sudah membantu Abi" tambah Ustadz Khairul.
"Tidak perlu terima kasih Abi, itukan sudah menjadi kewajiban Dimas, selaku anak Abi sekarang" ucap Dimas sedikit membanggakan diri.
"Lo jangan terlalu senang dulu!, Hari ini Lo berhasil mengusir mereka, bagaimana dengan besok,? Apa Lo sudah mempunyai rencana?" Tanya Ardiyan mengingatkan Dimas.
__ADS_1
"Tenang besokkan hari Minggu, jadi kita akan menyuruh Dika membawa saudaranya kemari gampangkan" bales Dimas percaya diri.
"Sudah sudah, itu akan kita pikirkan besok, ini sudah larut malam, sebaiknya kita istirahat, ayo masuk nak," ujar ustadz Khairul mengajak ardiyan dan Dimas masuk ke dalam rumah utama.
"Ah iya, Dimas sebenarnya sudah capek banget bi, tapi karena seseorang yang terkenal penyakit MalaRindu, terpaksa Dimas mengantarkannya" ucap Dimas sedikit melirik ardiyan.
"Cih! Diam Lo! Seperti bulan ini bonus tidak keluar!" Bales Ardiyan kesal.
"Hahaha, kalian ini sudah dewasa tapi tingkahnya masih kayak anak kecil, ya sudah Dimas istirahat sana, dan Ardiyan pergilah ke kamar mu, temuilah Istri mu" uajar ustadz Khairul sedikit terkekeh karena melihat tikah anak angkatnya dan menantunya.
Ardiyan memasuki kamar Anisah..
"Assalamu'alaikum " salamnya, tapi tidak ada jawaban, dan ternyata istri yang dia rindukan sedang tertidur nyenyak, ia pun menghampirinya dan tersenyum melihat wajah cantik istrinya. lalu ia pun mencium kening Anisah dengan lembut setelah itu ia kembali melihat wajahnya dan ia mulai gusar saat melihat bibir merah Anisah yang menurutnya sangat menggoda lalu iapun Mel***t bibir merahnya, dan itu membuat Anisah terbangun.
"Uhm, Hubby?"
"Assalamu'alaikum sayang"
__ADS_1
"Wa'alaikum salam hubby, kapan hubby datang, apa sudah selesai kerjaannya?" tanya Anisah, ya yang dia tahu kalau suaminya sedang keluar kota karena ada pekerjaan.
"Sudah sayang, dan sekarang ubby ingin Melepas Rindu" Ucap Ardiyan lembut, lalu pun ikut berbaring di samping Anisah.
"Anisah?"
"Hmm?"
"Bolehkah,? Ubby janji akan pelan-pelan" Ucapnya lagi dengan suara lembut dan setelah dapat anggukkan dari Anisah, ia pun memulai ritualnya, setelah itu..
(bayangi sendiri aja ya, Author nggak berani takut Ardiyan marah nanti nuduh Author ngintip lagi 😁)
Bersambung
--------------------
Jangan lupa ya guys 🙏😉
__ADS_1