Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek

Bidadari Tak Bersayap Dari Kakek
Istri kecilku.


__ADS_3

Seminggu telah berlalu dan sudah seminggu juga Anisah dan Ardiyan tinggal di pondok pesantren milik ustadz Khairul. Serta kesehatan Anisah juga sudah mulai pulih.


Pagi ini nampak Ardiyan sedang bersiap untuk berangkat ke kantornya sedangkan Anisah masih di pembaringannya.


"Sayang, bangunlah, kita sarapan dulu yuk, nanti setelah itu sayang bisa istirahat lagi," ucap Ardiyan lembut, membangunkan istrinya


"Hmm" bales Anisah dan hanya menggliat.


"Ayolah sayang, ubby bisa telat, kalau kamu tidak sarapan ubby tidak akan tenang hmm" ucapnya Ardiyan lagi sambil mengusap wajah Anisah dan menciumnya dengan gemas.


"Hmm, hubby gelii ah" bales Anisah sambil mendorong lembut wajah ardiyan.


"Makanya sayang bangun, kasihan anak kita sudah lapar ayolah sayangku" ujarnya lagi, dan akhirnya Anisah pun bangun dan duduk bersandar di kepala dipan. ardiyan pun tersenyum lalu ia pun mengambil semangkuk bubur ayam yang sudah di siapkan uminya tadi dan sengaja di antar ke kamar Anisah karena Anisah masih di larang naik turun tangga oleh Ardiyan dan uminya karena peristiwa kemarin membuat janinnya agak lemah, dan kini Anisah menjadi tahanan kamar.


"Hubby, Nisah makan sendiri aja ya, bukankah hubby akan berangkat kekantor" ucap Anisah sambil mengulurkan tangannya meminta mangkuk bubur yang ada di tangan Ardiyan.


"Iya ubby akan berangkat tapi setelah menyuapi kamu makan," ucapnya sambil menyodorkan sendok yang berisi bubur ke mulut Anisah.

__ADS_1


"His, Nisah berasa seperti anak kecil!" Ujarnya dengan bibirnya yang cemberut, membuat Ardiyan gemas melihatnya, lalu ia pun mengecup sekilas bibir Anisah,


"Iis hubby nakal!"


"Biarin, siapa suruh bibir sayang di cemberuti gitu jadi bikin gemes, tahu"


"Habis hubby sih, dari semenjak kita pulang dari rumah sakit, Nisah di perlakukan seperti anak kecil dan di kurung terus di kamar, Nisah bosen hubby" bales Anisah dengan wajah sendu.


"Maaf sayang, ini demi kebaikan kamu dan anak kita, ubby nggak ingin kamu keluar karena otomatis kamu akan naik turun tangga, kamu tahukan kamu pernah pendarahan, dan bukankah kamu juga takut rumah sakit jadi menurutlah untuk saat ini sampai Dika menyatakan kalau janinnya benar-benar sudah kuat oke?" Tutur Ardiyan penuh kasih sayang dan memulai menyuapi Anisah. "Sekarang makanlah sayang.., Anisah, kamu bukan anak kecil kok.., tapi kamu istri kecilku" tambahnya lagi dan mengedipkan matanya.


"Hubby genit!"


"Ya nggak papa sih.., tapi awas saja kalau genit sama yang lain, maka nggk bakal dapat jatah selama setahun!"


"Aduuuh, setahun? sayang kamu tega sekali sama ubby,? seminggu saja sudah berasa setahun, apa lagi setahun? oh no.no..no jangan ya sayang" ujar Ardiyan sambil menggenggam tangannya Anisah.


"Biarin!, siapa suruh genit,!"

__ADS_1


"Iya hubby janji nggak bakal genit sama orang lain, selain istri kecilku,"


"Janji?" Anisah mengulurkan jari kelingkingnya.


"Iya sayang, uby janji" Balesnya dan menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingkingnya Anisah " Oke istri kecilku ubby berangkat kerja dulu, nanti kamu akan di temani Lisa dan Nina," ucap Ardiyan sambil memeluk dan mencium kening Anisah, "Assalamualaikum" Salamnya dan hendak bergegas keluar kamar


" Wa'alaikum salam hati-hati ya hubby" Bales Anisah sambil melambaikan tangannya dan Ardiyan pun menghilang di balik pintu kamar. dan beberapa saat kemudian Ardiyan kembali lagi, membuat Anisah bingung.


"Apakah ada yang tertinggal hubby?"


"Iya ada, ubby belum mencium anak kita" ucapnya lalu ia pun mencium perut Anisah "Jangan nakal ya di perut umi, jadi anak yang kuat dan sehat kembali ya nak, " ujarnya sambil mengusap perut Anisah.


"In syaa Allah biyah adek akan sehat lagi" bales Anisah meniru suara anak kecil.


"ya sudah uby berangkat ya, Assalamualaikum" ucap Ardiyan mengecup kembali kening Anisah.


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh" bales Anisah, dan Ardiyan pun bergegas kembali keluar kamar meninggalkan Anisah.

__ADS_1


Bersambung


💮💮💮💮


__ADS_2