BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Sepuluh


__ADS_3

Aku melepaskan ciuman Ammar, ketika kami masih berpelukan mesra di depan pintu kamar ku. Ciumannya kali ini sedikit penuh gairah, mungkin dia terlalu merindukan ku.


Posisi kami masih berpelukan,


" Kenapa menghentikannya, aku masih belum puas !! " Ucap Ammar pada ku, desah nafasnya masih terdengar berburu.


Aku tersipu malu menatap wajahnya.


Ammar kembali mendekatkan wajahnya hendak mencium ku lagi, dengan gesit aku menutup bibir nya dengan jemari ku. Ammar terheran,


" Sudah.. aku takut ayah dan bunda segera datang. Lepaskan pelukanmu Ammar, nanti ada yg lihat. Aku gak mau di pikir kita berulah mesum."


Ammar semakin erat memelukku, dan kemudian berbisik di telinga.


" Aku yakin om dan tante sengaja memberikan waktu untuk kita saling melepas rindu. Lagipula, rumah sebesar ini siapa yang akan sengaja masuk tanpa permisi? bukan kah kau tidak punya pembantu sayang? " Desahan nafasnya membuat bulu kuduk ku merinding di telinga.


Aku meringkuk di pelukan Ammar menahan geli, membuat Ammar tersenyum nakal melihat ku kemudian tertawa.


" Sudah lah, kau tunggu aku diruang tv atau di taman belakang saja. Aku taruh hadiah-hadiah ini dulu di kamar, oke. " Sembari ku peluk kedua hadiah dari Ammar ini, Ammar menarik tangan ku.


" Boleh kah aku ikut masuk ke kamar mu Fanny? " Tanya nya dengan lembut.


" Eh jangan ambil kesempatan dalam kesempitan ya, " Jawab ku dengan lantang.


Ammar tertawa terbahak-bahak.


Cttakkk !!!


Dia menjitak kening ku.


" Apa yang kau pikirkan sayang? kau menantang ku atau mencurigai ku hah? " Dengan gesit Ammar melewati ku masuk menuju kamar yang sedaritadi pintu sudah sedikit terbuka.


" Hey, berhenti. Ammar cepat keluar !!!" aku mengejar dan menarik bahu nya.


Menarik paksa tangannya untuk segeta keluar dari kamar ku, namun usaha ku nihil.

__ADS_1


Tubuh tinggi kekarnya ini, bagaimana bisa aku melawannya sementara aku kini sudah mulai kurus. uuuught... aku melepaskan tangannya dengan kesal.


Ku biarkan saja dia melihat sekeliling kamar ku, yang beruntung selalu rapi. Dengan hiasan foto-foto berdua kami selama pacaran tertempel rapi dengan bingkai indah di dinding tembok kamar ku.


Nuansa berwarna biru langit terang membuat kamar ku selalu berhasil membuat siapa saja yang memasukinya selalu betah. Wangi aroma bunga segar yang tercium dari desiran AC di kamar membuat Ammar memejamkan mata sejenak. Aku tersenyum senang melihatnya.


Kemudian aku menaruh boneka dholpin hadiah pertama dari Ammar, tepat di tengah-tengah bantal di atas kasur ku. Agar nantinya, menjadi teman setia tidur ku.


Sementara bucket bunga mawar ini, ku taruh saja di sofa kamar tempat ku bersantai dan bermalas-malasan di kamar.


Karena posisinya tepat mengarah ke jedela kamar, yang dimana aku bisa kapan saja menikmati udara langit malam dari dekat.


Kamar ku tepat berada di lantai atas, sengaja Ayah dan ibu mendesain kamar ini dengan interior dan posisi-posisi terbaik dari tiap sudut.


Teras depan kamar dengan ukiran pagar besi yang kokoh agar setiap malamnya aku selalu bisa menikmati indahnya langit malam dengan puas.


Benar-benar sebuah kamar impian setiap anak gadis bukan? Ini salah satu kenapa aku selalu tidak pernah bisa nyaman ketika berlama-lama berada di tempat lain selain kamar ini ketika malam.


Karena ini terlalu membuat ku nyaman, rumah ini baru saja berdiri setahun yang lalu dari hasil kerja keras ayah di sebuah perusahaan besar di kota kami tinggal. Tapi ayah dan ibu ku tak sedikit pun berubah, kami tetap hidup sederhana dan mereka menyayangi, mengasihi, serta selalu memanjakanku dengan penuh kasih.


***************♡-♡****************


Aku menggelengkan kepala dan mengangkat kedua bahu ku.


Ammar mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut bibir ku.


Aku kembali tertegun kaku dengan serangan nya ini.


" Bunga mawar putih melambangkan kasih sayang yang suci, dan boneka dholpin ini melambangkan kepercayaan dan harapan. Jadi ku harap. . . cinta kita berdua akan selalu suci dan selalu ada kepercayaan di hati kita masing-masing ". Ammar mengecup kening ku kembali.


Aku terdiam menunduk tanpa kata, bathin ku. . .


Tapi kepercayaan itu sepertinya sudah mulai memudar, Ammar. Bahkan mulai terkikis oleh waktu yang selama ini kau sia-siakan dariku.


Ammar mengangkat pelan dagu ku hingga menengadah pada wajahnya, mata ku sudah berkaca-kaca mendengar bisikan hati ku ini.

__ADS_1


" Kau masih mencintai ku kan sayang? Kenapa sedaritadi kau tidak banyak bicara seperti biasanya. Aku rindu kecrewetan mu dari bibir ini." Ammar menyentuh bibir ku dengan gemas, kemudian aku menertawainya.


Melepaskan diri dari nya, sedikit menjauh.


Ammar terus mengikuti langkah mendekatiku hingga kini aku sudah tersandar di dinding tembok kamar ku. Ammar tersenyum puas, kini dia merasa menang karena aku tentunya tidak bisa menjauh lagi dari tubuhnya, ketika kedua tangannya menyentuh tembok di belakang ku membuat ku terjebak di tengahnya.


Aku memejamkan mata, rasa gemetar di sekujur tubuh membuat aliran darah terasa mulai memanas hingga ke wajah ku, yang mungkin kini sudah memerah.


Menyadari hal itu, Ammar tersenyum genit pada ku, kemudian berbisik dengan sengaja di telinga.


Oh tuhan.. bagaimana ini, aku. . . aku takut. . . di rumah ini, di kamar ini hanya ada kami berdua saja.


" Sayang, aku. . . mencintai mu ". Bisik Ammar di telinga ku dengan mesra di ikuti dengan deru nafasnya.


Ini membuat ku semakin memejamkan mata rapat-rapat mengatupkan bibir ku.


Kini Ammar mulai membelai mesra rambut ku. Aku membuka mata ku lebar-lebar..


" Am. . mar. . . ehm. . . gi. . . gimana kalau. . . ki. . .kita ngobrol diluar aja, yuk. " Terbata-bata aku berusaha mengajaknya bicara untuk menghindari hal-hal yang tak di inginkan. Namun. . . Ammar menyerang bibir ku tiba-tiba. Lebih intens dari biasanya.


Dengan sekuat tenaga aku melepaskan nya menjauh dari ku. Ammar terhenti dan kemudian tertunduk lemas membiarkan kepala nya terjatuh di pundak ku. Dia kemudian memeluk ku dengan erat.


" Maaf Fanny, aku lepas kontrol. Maaf, "


Aku mengangguk pelan, meski jantung ku masih berdegub kencang tak beraturan.


Ah. . . gila.. Aku sudah gila.


Terimakasih Tuhan, masih memberi kami kesadaran dari kekhilafan ini.


Aku.. sungguh, menikmatinya hingga lupa diri.


Sungguh ini awal pertama kali Ammar bersikap diluar batas kendali terhadapku, mungkin karena kesempatan yang hanya ada aku dan dia di kamar ini, suasana sepi dirumah.


Ini membuat ku menutupi wajah membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya jika aku terus mengikuti permainannya yang membuatku cukup gelagapan.

__ADS_1


Ammar. . . ternyata kau punyai sisi brandal


Bathin ku.


__ADS_2