
Aku beranjak pergi begitu saja ke kamar tanpa menghabiskan sarapan pagi ku dahulu. Entah kenapa rasanya aku selalu ingin marah setiap kali ayah dan bunda selalu memintaku segera membuka hati dan menjalin hubungan kembali dengan seorang lelaki meski mereka tidak memintaku untuk segera menikah langsung, tapi aku tau mereka tak ingin aku kembali menjalani hubungan status pacaran dalam waktu lama lagi.
Tapi jujur, mengingat akan semua masa lalu dengan Ammar kemudian Tristan. Aaaarght. . . semua itu sangat menyakitiku. Aku takut kembali mengulang hal yang sama. . . karena bagiku, diantara semua lelaki yang pernah menjadi bagian dalam hidup ku, aku hancur karena mereka.
Namun Kevin, dia. . . dia adalah satu-satunya lelaki yang sangat membuatku terkagum-kagum hingga kini. Aku pun tak pernah tau, hingga detik ini arti dari getaran hatiku ketika mengingatnya. Yang ku tau, aku wanita terbodoh di dunia ini. Karena telah menyia-nyiakan perasaan tulusnya hingga akhirnya, aku lah yang memberikan kesempatan pada wanita lain untuk mendekatinya. Yaitu Violet. . .
Entah berapa lama tanpa sadar aku mulai tertidur pulas lagi. Seharian ini aku memang hanya bermalas-malasan di dalam kamar. Di atas kasur ku, aah rasanya hanya dia yang bisa membuatku nyaman hingga tertidur dan melupakan sejenak masalah ku.
Tok tok tok. . .
" Fanny, sayang. . . apa kau masih tidur??? bangun. . . keluar lah cepat "
Dengan cepat aku membangunkan tubuhku dan terduduk sejenak melihat sekeliling kamar ku.
Aaah. . . sudah jam berapa ini??? kenapa kepala ku tiba-tiba sangat berat dan sedikit flu???
Sial !!!
Ini pasti gara-gara hujan semalam, aku jadi sedikit demam sekarang.
" Fanny, Nak. . . apa kau masih tidur??? ayo lekas bangun. . . " . Terdengar kembali suara ibu dari luar mengetuk pintu ku cukup keras. aku lirik jam di dinding kamar ku menunjukkan pukul 4 sore.
Dengan langkah lunglai aku beranjak turun dari kasur ku untuk membuka pintu, tubuh ku sangat lemah sore ini. Hingga mata ku rasanya di penuhi dengan air mata terus. . . kepala ku berat sekali, Aku seperti menggigil.
" Hemm. . . ada apa bun??? " Tanya ku dengan mata setengah tertutup.
" Hey, Nak. Kenapa hidung mu merah begitu? apa kau sedang flu??? coba sini kening mu " Jawab ibu ku dengan panik sembari menempelkan telapak tangan nya di kening ku.
" Astaga Nak, kau demam dan flu. Kenapa tiba-tiba begini??? padahal semalam kau tidak bermain hujan bukan??? " tanya nya lagi. Membuatku terpaksa berbohong mengangguk pelan tanda mengiyakan.
Padahal. . . aku begini karena memang kehujanan. . . tapi jika ku beritahu, nanti ibu akan kembali memarahi ku.
" Fanny gapapa bunda cuma demam dikit kok, ada apa bunda??? " ucap ku sembari mengusap hidungku, seperti ada yang membasahi saja. Membuatku tidak nyaman saja. . .
" Minum obat dulu ayo, setelah itu turun. Kevin menunggu mu di bawah "
" What??? Kevin??? mau apa dia kemari??? " jawab ku dengan mata terbelalak akhirnya. Ugh. . . mengejutkan saja.
" Heey. . . kenapa kaget begitu sih??? bukan kah dari dulu sudah biasa Kevin berkunjung kerumah ini setiap kali datang ke indonesia??? cuma. . . kali ini dia sendirian loh " jawab ibu ku setengah berbisik.
" Aaaah Fanny gak mau menemuinya " jawab ku dengan singkat sembari berbalik hendak masuk kamar kembali. Namun ibu menarik ku keluar dengan cepat.
" Eeeh ayo, jangan begitu. tak baik menolak seseorang yang baik berkunjung kerumah ini "
" Iiih bunda apaan sih, bunda saja yang menemuinya gih. Lagi pula Fanny kan sedang sakit "
__ADS_1
" Maka dari itu minum obat dulu lalui temani Kevin di bawah, kau pasti akan segera sembuh. Dia terus menanyakan mu Nak. Kasihan dia. . . "
Ini sungguh Gila. Ibu terus saja menarik paksa tangan ku untuk turun ke bawah sementara keadaan ku sedang lemah begini. . . gak mungkin dong aku bertemu dengan Kevin dalam keadaan kucel begini.
Aaaaaaah bundaaaaaaa aku sungguh malu !!!
Teriak ku dalam hati.
Tiba diruang tamu, ku lihat Kevin sudah berbincang hangat dengan ayah ku. Entah apa yang mereka perbincangkan sehingga Kevin terlihat senyum-senyum malu. Ini pertama kali aku melihatnya demikian.
Hihi. . . lucu juga ku perhatikan. Tanpa sadar bibirku tersenyum dengan sendirinya, kemudian Ayah menyambutku.
" Nah. . . Itu dia Fanny, loh kenapa wajah mu pucat dan hidungku memerah begitu Nak??? " tanya ayah ku kemudian.
" Duduk dulu nak, bunda ambilkan kau obat pereda demam dan flu ya " jawab ibu ku dengan membantuku duduk di sofa tepat di samping ayah.
" Fanny cuma demam dan flu biasa kok yah, gapapa " jawab ku singkat.
" kenapa tiba-tiba Nak??? apa semalam kau kehujanan sewaktu pulang kerumah? "
" Eh. . . ti. . . tidak ayah, aku hanya. . . mungkin sedikit kelelahan " jawab ku dengan kikuk
" Apa perlu ke dokter Fanny??? " tanya Kevin kemudian dengan lembut.
Kemudian tak berapa lama ibu sudah datang membawa obat untuk ku dan segelas air hangat. Dengan cepat aku meminumnya sebelum bunda mengomel pada ku.
" Ya sudah, kalian ngobrol saja. om dan tante tidak akan mengganggu " jawab Ayah sembari berlalu pergi yang di ikuti oleh ibu kemudian. Ku lihat mereka senyum-senyum menggodaku, aku tau mereka sudah pasti sengaja melakukan ini pada ku.
" Fan, apa kau sungguh tidak perlu ke dokter??? " Tanya Kevin lagi.
" Hemm, aku hanya perlu istrahat sebentar setelah ini. Lalu aku akan pulih kembali "
" Kau memang lebih suka membuat diri sendiri sakit, tidak pernah berubah " Jawab nya tiba-tiba dengan menatap wajah ku.
" Sudah lah, jangan di bahas soal semalam. Aku tidak mau mengingatnya lagi "
" Baik lah, jika kau butuh waktu untuk istrahat aku pulang saja. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja Fanny, karena semalam kau menghilang begitu saja. Aku mencarimu kemana-mana "
Aku terdiam mendengar ucapan nya itu, ternyata. . . semalam dia mencariku??? bukan malah asyik bersama Violet. . . maafkan aku Kevin. Jawab ku dalam hati. . .
" Ya sudah aku pergi sekarang, istrahat lah dan cepat sembuh " jawab nya sembari berdiri menghampiri ku, di usap nya kepala ku dengan lembut. Seketika berdesir hebat darah ku, dan jantung ku rasanya kembali bergetar tak menentu.
" Vin. . . " panggil ku ketika dia sudah pergi membelakangiku. Dia menoleh dengan wajah menawan nya itu. . .
" Jangan pergi dulu. Temani aku ngobrol sebentar " Jawab ku dengan menatap wajah nya penuh harap.
__ADS_1
Laku dia tersenyum sangat manis pada ku. . . sepertinya, dia bahagia mendengarku berkata demikian dan mengangguk pelan.
" Kita. . . ngobrol di halaman belakang aja yuk, supaya lebih santai " ajak ku, dan dia mengikuti ku dari belakang.
Sesampainya di halaman belakang aku duduk begitu saja di kursi ayunan tempatku biasa menghabiskan waktu sore ku, dan itu. . . sudah lama. Semenjak terakhir aku putus dengan Ammar aku enggan duduk menyendiri disini, semua hanya akan mengingatkan ku padanya.
" Fanny. . . kenapa kau langsung termenung??? apa yang kau pikirkan? ".
" Aku. . . sudah lama tidak duduk santai berdiam menikmati waktu sore disini " jawab ku dengan tatapan kosong.
" Fanny, apa kau masih mengharap Ammar kembali ke sisimu??? "
Aku menolehnya seketika, dia tersenyum melihat ku memandangnya.
" Tidak, aku. . . justru aku sangat ingin lepas dari lingkaran masa lalu ku bersama nya "
" Sungguh??? " Tanya nya lagi dengan terus menatap mata ku.
" Lalu bagaimana dengan mu? kenapa kau terus yang menanyaiku Vin??? ".
kali ini aku yang melempar balik tanya pada nya.
" Apa maksud mu Fanny??? "
" Bagaimana dengan wanita yang sudah mengisi ruang hati mu itu??? dan bagaimana dengan Violet, kenapa kau meninggalkan nya kemari menemuiku. kau bisa mengajaknya jalan bukan dan kau juga bisa. . .? "
" Sssssst. . . kenapa kau terus bertanya lebih banyak dari ku??? aku sampai bingung, dasar. . . kau masih saja cerewet dan menggemaskan " jawab nya menarik hidung ku.
" Aw, apaan sih. . . aku sedang flu. Nanti kau tertular, jangan menyentuh ku terus " jawab ku sembari menjauh darinya.
" Gapapa jika aku akan tertular flu dari mu Fanny, dengan begitu kita akan merasakan hal yang sama. Berbagi itu indah bukan??? " ucap nya dengan senyuman menggodaku dengan candaannya itu.
" ih apaan sih, gak boleh. Kau tidak boleh tertular, nanti kau bisa sakit juga Kevin "
" Apa kau mengkhawatirkan ku??? wah. . . senangnya "
" Berhenti menggoda ku Kevin, ih apaan sih " Jawab ku mencubit lengan nya. Dia meringis dengan tawa kecil nya.
" Hmm. . . aku senang melihat mu bersikap seperti ini lagi pada ku Fanny, dan kau. . . selalu cantik dengan tersenyum ceria begitu. Jangan lagi menghiasi wajah mu dengan kesedihan seperti malam tadi. Kau tau, sampai detik ini aku masih tidak bisa melihatmu menjatuhkan air mata mu itu "
Dug dug dug dug dug !!!
Kyaaaaaaa. . . Kenapa jantung ku terus saja berdetak makin kencang mendengar ucapan nya itu. Oh tuhan, seakan aku kembali pada waktu dimana aku masih bersamanya saling memadu kasih saat itu.
Kevin, kau memang selalu pandai membuat suasana hatiku terbang melayang begini. . .
__ADS_1