BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Sembilan puluh delapan


__ADS_3

Terlalu banyak yang Tristan sampaikan padaku dengan maksud tidak ingin aku semakin larut dalam kegalauan ku. . . entah sudah berapa banyak kata, pilihan dan perumpamaan yang di lontarkan oleh Tristan untuk ku agar aku menyadari semua kebodohan ku.


Yah. . . Sepertinya benar apa kata Tristan, sedikit demi sedikit aku harus mulai membuka hati perlahan untuk menghibur diri. Bukan harus dengan pacaran atau selingkuh. Dimulai dari banyak berteman dengan orang-orang banyak termasuk lawan jenis.


Ini sudah seminggu berlalu dari terakhir kedatangan Ammar, sama sekali masih belum memberikan kabar pada ku. Aku sengaja mendiaminya, ku pikir dia akan menghubungiku lebih dulu. aku sungguh benci akan hal ini semua. . . kenapa selalu aku yang begini hah???


Ku raih ponsel untuk menelpon Ammar, tapi. . . betapa aku sangat ingin marah dan memakinya, nomor nya sedang tidak aktif malam ini.


Kau sungguh Brengsek Ammar. . . !!!


Ku coba menelpon Tristan, untuk menghilangkan amarah ku kali ini. Hah. . . ini memang tidak adil, aku selalu menjadikan Tristan pelarian ku mengadu akan semua yang ku rasakan dan alami selama ini. Meski sikap ku pada Tristan mengingatkan ku akan sosok Kevin, dia selalu sabar dan lembut juga pandai menghibur ku.


Halo Fanny, ada apa?


Terdengar suara Tristan yang langsung menerima panggilan telepon ku hanya sekali panggilan.


** **Aku sedang marah


Tunangan mu lagi???


Perlu ku jemput nongkrong diluar???


Tidak, aku sedang malas keluar. Kau. . . apa kau sibuk???


Tidak, untuk mu aku tidak pernah ada kesibukan. hehe**


aku tersenyum mendengar candaan nya itu. . .


**Kemari lah, temani aku ngobrol dirumah saja.


Apa??? kau. . . kau memintaku. . . datang kerumah mu??? Sung. . .sungguh Fanny??? Ap. . .apa kau sedang ingin bercanda**???


Jawab Tristan dengan suara gagap, aku tau ucapan ku ini akan membuat nya sedikit terkejut. Karena dari awal perkenalan aku tidak pernah mengijinkannya berkunjung kerumah ku, bahkan sekedar menginjakkan kaki di halaman rumah ku saja aku menolaknya dengan alasan status ku yang sudah memiliki tunangan.


**Yaaaaaaaa. . . serius. Gak mau???


Tidak tidak. . . aku. . . aku justru sangat ingin. Tapi. . . bagaimana dengan orang tua mu Fanny? apa mengijinkan lelaki lain berkunjung kerumah mu selain tunangan mu itu**???


Tanya nya ragu.


**Gapapa, itu jadi urusan nanti. Ku perkenalkan kau sebagai teman ku selama ini. . .


yakin nih hanya teman saja??? hahahaha


Kau mulai lagi Tristan**. . . !!!


Jawab ku dengan cetus.


Hahaha aku hanya bercanda. Astaga kau ini. . . Baiklah aku akan segera menuju rumah mu.


B**ip bip bip. . .


Panggilan berakhir begitu saja.

__ADS_1


Hah. . . dia sungguh bersemangat dalam hal ini.


Kemudian aku bergegas turun ke bawah untuk menunggu kedatangan Tristan terlebih dahulu. Tapi. . . ku lihat ibu dan Ayah sedang berbincang hangat di ruang TV. Sebaiknya aku memberitahunya lebih dulu. . .


" Ayah, bunda. . . " panggil ku pada mereka.


" ehm, ada apa Nak??? " tanya ibu kemudian.


" Mmh. . . malam ini, ada. . . teman Fanny. . . yang. . . akan. . . datang berkunjung " Jawab ku dengan kikuk.


" Ya gapapa dong, dengan senang hati. Tapi tumben??? bukan kah Dini sudah mulai sibuk??? " tanya ibu ku lagi.


Aku terdiam ragu dan sedikit kikuk untuk menjawab nya lagi


" Hayo. . . temen cowok kan??? " Sambung ayah ku.


Aku tersenyum ngengir bak kuda mendengar pertanyaan ayah kali ini.


" Hmm. . . beneran cuma temen kan??? gak lebih??? " Tanya ibu ku.


" Ih bunda apaan sih, iya iyaaa cuma temen aja gak lebih "


" Ya sudah kami menerima dengan senang hati. Tapi ingat ya Nak, kau sudah memiliki tunangan. Sebentar lagi kau akan menikah kan sesuai perjanjian Ammar jika wisuda nanti Ammar akan langsung melamarmu jadi istri " ucap Ayah menegaskan.


Jleb !!! mendengar ucapan ayah ini, sungguh membuat hatiku bergetar hebat. Yang kemudian terdengar suara klakson mobil di luar rumah ku. . .


" Nah, tu dia. Fanny keluar dulu ya " ucap ku yang kemudian setengah berlari untuk membukakan pintu pagar rumah ku.


Sudah tiba di teras depan rumah, Tristan tampak ragu untuk melangkah masuk ke dalam rumah ku.


" Ada apa??? takut??? " tanya ku


" Sedikit " jawab nya singkat.


" Sudah lah, orang tua ku bukan seperti di drama korea sana yang selalu pilih-pilih teman untuk putrinya " Jawab ku tegas.


" Cih, kau ini keliatan sekali pecinta drama korea hahaha " Jawab nya dengan tawa.


" yaudah yuk, masuk " ajak ku lagi.


Tiba di ruang tamu, ayah dan ibu sudah menunggu untuk menyambut siapa teman ku kali ini.


" Ayah, bunda. Ini. . . Tristan, teman Fanny " Ucap ku memperkenalkan.


" Halo om, halo tante. . . saya Tristan, teman Fanny " sapa Tristan dengan ramah yang kemudian di tanggapo dengan hangat oleh ayah dan ibu ku.


" Tristan guru juga di sekolah Fanny mengajar??? " Tanya ayah ku


" Eh mmm. . . bukan Om, saya pengelola Gramedia di dekat kampus Fanny "


" Oh, jadi ketemu puteri tante disitu??? hmm. . . ya sudah selamat datang dirumah kami ya, lanjut ngobrol dulu kalian tante buatkan kalian minuman dulu " jawab Ibu ku yang kemudian di susul anggukan oleh ayah.


" Ngobrol di teras depan aja yuk, sambil cari angin " Ajak ku pada Tristan.

__ADS_1


Ia menurutinya mengikuti langkah ku dari belakang menuju teras depan.


" Huhft. . . akhirnya. . . " ucap Tristan dengan helaan nafas panjang.


" Hahahaha kenapa lu??? " Tanya ku dengan tawa.


" Ini mengerikan, huh baru kali ini aku berani bertemu langsung dengan orang tua wanita yang ku sukai "


" Apa??? " Tanya ku lagi, aku. . . aku pasti salah dengar kan.


" Ah. . eh itu. . . maksud ku. . . Seorang teman yang ku suka. Suka sebagai teman, maksudnya. . . eh. . . ya kita sesama manusia harus saling suka untuk menghindari suatu permusuhan kan, walau pun kita berbeda keyakinan " Ucap nya nyerocos gak jelas.


Aku terdiam sesaat, aku yakin tadi dia bilang suka. Apa aku salah dengar??? Ah sudah lah.


Kemudian ibu ku sudah datang menghampiri dengan dua gelas syrup hangat beserta cemilan untuk menemani kami ngobrol.


" Kalian ngobrol santai saja disini ya, tante dan om tidak bisa menemani kalian. Lagian kami sudah tidak cocok ikut ngobrol bareng anak muda seperti kalian, hihi " Ucap ibu ku yang kemudian membuat Tristan jadi tersipu malu salah tingkah.


" Gapapa tante, but. . . makasih banyak sudah di sambut hangat kedatangan saya yang pertama kali disini "


" Ya sudah kalian lanjutkan tante masuk dulu " Kemudian ibu ku berlalu pergi hanya tinggal aku dan Tristan kali ini.


" Fan, kau baik-baik saja kan dengan tunangan mu??? "


" Entah lah, aku pun bingung apakah kali ini sungguh baik-baik saja. bahkan. . . Dia, tidak pernah memberiku kabar sama sekali " jawab ku menunduk lesu.


" Kenapa kau tidak mendatanginya saja untuk memastikan hubungan kalian kali ini. . . kau bilang dia sulit di hubungi, kau bisa mencarinya langsung kan??? "


" Tristan, aku sudah tidak punyai keberanian akan hal itu. Terlalu banyak hal dan alasan yang membuatku tak ingin menemuinya langsung di tempat dia tinggal saat ini " Jawab ku.


" lalu sampai kapan kau akan menahan diri begitu Fanny, bagaimana jika nyatanya. . . dia kembali mengkhianatimu hah??? "


Aku terdiam sesaat dengan menggigit bibir ku, hah. . . kenapa Tristan selalu mengulang ucapannya itu seakan dia memang yakin bahwa Ammar memang benar mengkhianatiku lagi kali ini. Tapi. . . ah tidak, dia sudah berulang kali meyakinkanku untuk tetap setia.


Tapi. . .


" Kalaupun benar demikian, mungkin kali ini aku. . . aku sudah tidak bisa lagi memaafkannya "


" Apa kau yakin??? lalu bagaimana dengan pertunangan yang sudah di setujui oleh kedua pihak keluarga kalian Fanny??? "


" Aku tidak peduli lagi Tristan, aku sungguh muak kali ini " Jawab ku dengan menarik nafas dalam-dalam.


" Fan, kau masih punya aku sebagai teman. Kalaupun kau butuh bantuan ku, aku selalu ada "


Aku tersenyum menatap wajah nya yang sedaritadi selalu memandang ku tanpa henti ketika sedang berbicara. Entah apa yang dia pikirkan tentang ku. . .


Dan kemudian banyak hal lagi yang ku bincangkan dengan nya malam ini, di awal pertama baginya berkunjung kerumah ku.


Hingga pada akhirnya. . .


Sejak malam itu, Tristan jadi lebih sering berkunjung kerumah hanya sekedar berbincang atau terkadang membantu menyelesaikan tugas-tugas kampus ku. Bahkan kini dia sudah mulai akrab dengan kedua orang tua ku . . . yang tanpa ku sadari, aku mulai menikmati hubungan pertemanan ini yang sudah berlangsung hampir dua bulan lamanya. Aku pun mulai terhanyut akan hubungan ku dengan Tristan yang semakin dekat hingga aku benar-benar lupa akan hubungan ku dengan Ammar yang sudah mulai terabaikan.


❤ Hai. . . readers setia ku, ada yang bisa nebak selanjutnya apa yang akan terjadi??? jangan lupa like nya ya, dan plissss ayo dong vote nya yang banyak ❤

__ADS_1


__ADS_2