BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Enam puluh lima


__ADS_3

Tiba di dalam ruangan pusat belanja perlengkapan wanita, aku mulai sibuk ikut nimbrung memilah milih di samping Shishi.


Sementara Kevin dan Kak Rendy entah dimana, kami terpisah.


" kak Shishi, dress ini cantik dan anggun. Pasti akan sangat cocok dan makin elegan kalo kakak yang memakainya " Ucap ku sambil menunjuk dress yang terpajang di hadapan kami.


" Wah. . . Fanny, kamu pintar ya memilih fashion. . . padahal penampilan mu sedikit tomboy loh kakak lihat "


" Haha, aku gak suka ribet kak. . . Suka liat aja kadang juga beli kalo udah lapar mata. Tapi tidak untuk di pakai, hanya sebagai koleksi "


Aku terus nyerocos ini itu memilah milih kembali berbagai dress dan hight heel disini, tanpa sadar Shishi terdiam dengan memandangi ku yang mungkin dia nilai aku ini sangat cerewet.


Aku terdiam seketika dengan mengatupkan kedua bibir ku. . .


" Fanny, hahaha kenapa diam begitu. . .??? Kakak suka sekali melihatmu bawel begitu, menambah suasana hati kakak semakin riang gembira "


" Ah kak Shishi aku jadi malu. . . " Jawab ku sembari menutup wajah dengan kedua tangan ku.


" Fanny, apa kakak boleh tanya sesuatu??? " Tanya nya kemudian.


" Boleh dong, buat calon kakak ipar cantik seperti kakak apa sih yang enggak. Hehe "


" Apa hatimu juga sebahagia kakak saat ini ketika akan bertunangan malam itu??? "


Aku tercengang mendengarnya. . . mengingat malam pertunanganku dengan Ammar saat itu, dan hal gila apa yang sudah kami lakukan setelahnya, ah. . . dadaku sesak membandingkannya dengan sekarang. Ammar berubah lagi. . . dan tetap dengan masalah yang sama, bersama satu orang yang sama.


" Fanny, hai. . . apa kau mendengar ku??? " tanya nya lagi.


" Bahagi dong kak, bagaimana tidak? aku akan bertunangan dengan orang yang aku cintai saat itu. Kau tau, bahkan aku sampai gemetar sekujur tubuh "


" Dan sampai saat ini apa kau masih bahagia Fanny??? "

__ADS_1


" Maksud kakak??? " Tanya ku heran.


Shishi tersenyum lembut menyentuh pipi ku.


" Meski kita baru pertama kali bertemu, tapi kakak sebagai wanita juga. . . kakak bisa melihat ada kekecewaan yang mendalam dari sorot matamu, benar kan??? "


Aku kembali tercengang mendengarnya, uuuuft. . . dia sangat peka, sama persis dengan Kevin kakak nya.


Aku berusaha mengalihkan pandangan ku dari tatapan matanya. . .


" Tapi kakak gak akan memaksa mu untuk bercerita panjang lebar mengenai apa yang kini masalah apa yang kamu hadapi dan kekecewaan apa yang telah membuatmu begitu terluka. Kau hanya tidak perlu menahannya untuk menyembunyikannya dari orang-orang yang sangat perhatian dan peduli padamu ".


" Aku. . . aku cuma. . . aku tidak ingin semakin banyak yang tau jika aku sangat terluka dan kecewa hari ini kak, biarkan aku menghadapi dan menyelesaikan masalahku kali ini " Jawab ku dengan menunduk lesu.


" Baiklah sayang, kakak hanya tidak ingin kau terlalu menyiksa diri begitu. Kakak pun pernah di posisi mu, rasanya sangat tidak nyaman. Hingga keberuntungan berpihak pada kakak, tuhan mempertemukan kakak dengan Rendy kakak mu. Dan kau tau, saat itu kakak masih mencintai Gilbert, pacar kakak di luar negeri sana. Jangan menahannya, kau masih berhak bahagia dengan yang benar-benar mencintaimu dan masih setia menantimu "


" Sungguh??? Wah. . . kak Rendh sangat beruntung bisa memenangkan hati kakak " Jawab ku dengan girang seketika.


Dan tidak semudah itu dengan hati ku kak Shishi. . . ketika aku sedang berada di titik puncak kekecewaan ku, bagaimana bisa aku mencari dan menjadikan seseprang pelarian bagiku begitu saja. . . aku lebih memilih diam menikmati kesendirianku.


" Wah. . . ada apa nih, kok mesra gitu sih beb ma adik ku Fanny??? jadi cemburu tau " Kak Rendy datang menghampiri kami yang kemudian di susul oleh Kevin.


" Eh bebeb, apaan sih. . . kau ini, dia ini adik kesayangan mu bukan??? jadi apa salah jika aku juga menyayanginya. . ." Jawab kak Shishi dengan senyuman lembut.


" Hahaha iya beb, aku hanya bercanda ah. ku perhatikan dari jauh kalian hanya terlihat banyak mengobrol saja. Uh dasar wanita, kalo udah ngumpul dengan yang klop. So, yang akan di beli apa sudah siap??? " Tanya kak Rendy lagi


" Be-llum. . . " Jawab ku serentak dengan kak Shishi.


Hahaha keasyikan curhat sih. . . Kak Shishi ini sangat hangat, sama seperti ibuku yang selalu peka, dan tidak banyak memaksa untuk ku ceritakan semua secara detail sama seperti sifat Kevin. Selalu welcome dengan cerita orang lain, hah. . . beruntungnya kak Rendy bisa mengenalnya. Pikir ku. . .


Sementara. . . Kevin. . . aaah dia selalu saja hanya memandangiku diam-diam.

__ADS_1


" Beb, jadi pilih yang mana nih gaun dan hight heel nya??? " Kak Rendy kembali bertanya, menyadarkan ku dari pikiran ku yang mulai hanyut.


" Mmm. . . yang ini aja deh beb, ini yang di tunjuk adikmu Fanny semulai tadi. Hihihi dia sangat pintar, aku suka yang ini. . . dan ini. . . " Jawab kak Shishi dengan menunjuk sebuah gaun dan hight heel yang ku pilihkan tadi.


" Yaudah kita ambil yang ini, yuk kita ke kasir dulu. Eh Vin, elu bawa juga sekalian yang tadi ya " Ucap kak Rendy kemudian pada Kevin.


Kevin hanya mengangguk dengan mengeluarkan jempol tangannya tanda setuju.


Setelah semua selesai terbayar di kasir, kembali aku diminta oleh kak Rendy untuk berada di satu mobil dengan Kevin. Hah. . . lagi lagi dan lagi aku harus menikmati posisi canggung nantinya. ini membuat kepala ku pening. . .


Berada di mobil dan setengah perjalanan, Kevin kembali memulai obrolan duluan.


" Fan, kak Kevin langsung antar kamu kerumah ya. Kak Kevin udah kan gak ketemu om dan tante, kakak ingin menyapanya. Dan ini. . . ini buat mu, anggap saja hadiah dari kak Kevin. Kakak gak sempat membelikan mu oleh-oleh dari luar negeri " Ucapnya sambil memberikanku sebuah kotak besar yang entah apa isinya.


" Yeay . . . asyik. . . . dapat kado, hehehe " Jawab ku dengan gembira.


" Nanti di pake ya, di malam pertunangan Rendy dan Shishi "


Eh. . . emang ini apaan??? kenapa harus di pakai di malam pertunangan kak Rendy??? apa ini gaun??? atau hight heel??? ugh. . . ku buka langsung gak ya, tapi kan gak enak. . . masa iya di depan orang nya langsung, misal aku tidak menyukainya??? ah bisa kebaca dong ekspresi muka ku. . .


Kemudian aku mengangguk pelan dengan memaksa, Kevin tersenyum puas menanggapinya. lalu kembali melajukan mobil dengan sangat cepat, karena hari sudah mulai sore. . .


Tiba dirumah, aku masih ragu mengajak Kevin untuk masuk ke dalam rumah.


Dengan langkah pelan Kevin mengikutiku dari belakang, hah. . . kenapa semua bayangan Kevin terakhir dirumah ini, ketika mengantarku pulang dan dirumah ini tanpa sepengetahuan ku Ammar sudah menunggu, aku masih ingat bagaimana Kevin dengan berani menghadapi Ammar kala itu. Dan. . dengan tenang dia rela menerima konsekwensinya ketika Ammar dengan kalap memukulinya.


Hah semua seolah terbayang kembali dengan sangat jelas. Ku ingat kala itu. . . Kevin benar-benar keren dan gentle bagi ku.


Uuugh apaan sih Fanny, jangan ingat masa lalu lagi. . . semua sudah berlalu begitu lama. Jangan memulainya lagi, semua sudah terkubur dan sekarang kau sudah menjadi milik Ammar seutuhnya. Meski. . .


Saat ini, hubungan kau dan Ammar. . . kembali retak. Iya kan??? bagaimana tidak??? Ammar lebih memilih tidak menemuimu dengan alasan kekecewaan nya dan tuduhannya padamu, atas kesalahan yang kau buat pada abel. Yang jelas-jelas ini bukan salah mu. . .

__ADS_1


__ADS_2