BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
#151


__ADS_3

" Kevin, Nayla cantik banget ya ". Ucap ku memulai pembicaraan di tengah kami menikmati makan siang, Kevin tersenyum mendengar ucapan ku ini sembari terus menikmati makan siangnya.


" Apa?? kenapa kau malah tersenyum begitu??? apa bagimu Nayla memang cantik??? ". Tanya ku kembali dengan wajah cemberut. Kemudian Kevin mengehentikan aktifitas makan nya sejenak.


" Bagiku kau tetap cantik, apa lagi kalau sedang cemburu begitu ". Jawab nya dengan memandang ku.


" Iiih apaan sih, jawaban yang gak konsisten ".


" Nayla itu perempuan. So pasti cantik, tapi di mata ku kau jauh lebih cantik keseluruhan luar dan dalam meski kau juga seorang perempuan. Tidak ada duanya dan tak akan tergantikan di hati ku sampai kapan pun itu. Apa jawaban ku kali ini cukup memuaskan mu tuan puteri??? ". Jawab Kevin dengan mengecup tangan ku yang di genggamnya.


" Ya ya ya, kau memang ahli dalam hal ini Kevin. Jawaban di terima dengan nilai 90 ".


" Dasar pelit ". Jawabnya menggodaku.


" Sayang, ntar malam jalan yuk ". Ucapnya lagi.


" Mau kemana??? "


" Ehm, kemana aja. Asal berdua dengan mu. Hehe " jawabnya kembali menggoda ku. Kami memang sudah lama tidak lagi menikmati udara malam berdua semenjak Kembali ke luar negeri hingga kembali lagi ke indonesia.


" Yah baik lah. . . "


*************************


Tiba waktu malam aku dan Kevin sedang menuju sebuah restoran dahulu untuk makan malam. Kami sudah duduk manis di meja yang sudah Kevin pesan sebelumnya.


" Rasanya seperti kita kembali awal pacaran. Hihi ". ucap ku kemudian.


" Fanny. . . " panggil Kevin dengan lembut pada ku.


" hem. . . ? ". Aku menatap wajahnya dengan mengerutkan alis ku heran. Dia terlihat sedikit gelisah.

__ADS_1


" Saat kita menikah nanti, apakah. . . kau. . . mau tinggal bersama ku di luar negeri??? "


Jleb !!!


Aku tidak menyangka sama sekali, dia akan menanyakan hal ini yang sama sekali tak terpikirkan oleh ku.


" Kevin. . . a. . . aku. . . aku belum berpikir sampai sejauh itu. Dan. . . aku juga. . . sepertinya aku tidak akan siap jika harus tinggal jauh dari kedua orang tua ku. . . aku. . . tidak bisa bayangkan sedihnya mereka jauh dariku Kevin. . . "


Kevin terdiam dengan menundukkan wajah nya mendengar ucapan ku ini, kemudian menatap wajah ku kembali dengan sorotan mata yang terlihat ada rasa sesak yang mendalam disitu. Namun dia masih bisa melempar senyuman nya untuk ku yang begitu tulus. . .


" Ada apa Kevin. . .??? " Tanya ku lagi.


" Tidak ada apa-apa sayang, aku hanya. . . ingin bertanya hal itu saja "


" Katakan dengan jujur, apakah kau sudah membahas hal ini dengan orang tua mu selama diluar negeri??? "


" Yah. . . begitu lah, tapi tak usah kau pikirkan ya. Aku tau ini terlalu mendadak, kau belum memikirkannya ".


" Lalu, apakah kau. . . keberatan jika aku menolak ikut dengan mu tinggal di luar negeri??? "


Lagi-lagi Kevin terdiam dengan senyuman nya yang kali ini terkesan memaksa. Ini membuatku semakin takut saja. . . Tak biasanya dia seperti itu.


" Tidak sayang, tidak. . . jika kau bersedia menikah dengan ku, kemanapun dan dimana pun aku akan mengusahakannya asal bersama mu "


" Kau tau, jawaban itu mengecewakan ku Kevin ".


" Maafkan aku sayang, tapi. . . aku harus bagaimana agar memberikan jawaban yang memuaskan mu sayang??? ". Jawab Kevin dengan nada sedikit kesal. Aku tau, sesuatu telah membuatnya begitu menjadikan ini semua beban. Aku tidak tega melihatnya demikian tapi. . .


" Beri aku waktu untuk memikirkan hal ini dahulu, aku mempunyai sebuah komitmen pada diriku sendiri. Saat aku menikah nanti, aku tidak ingin tinggal bersama mertua atau orang tua ku. Bukannya aku tak suka berkumpul dengan orang tua atau mertua, tapi bagi ku saat sudah menikah aku ingin benar-benar menjalani suka duka rumah tangga hanya antara aku dan suami ku. tidak ada orang ketiga atau ke empat atau banyak lainnya lagi Kevin. Mungkin bagimu ini konyol, tapi untuk menghindari hal-hal yang hanya mengundang masalah semakin rumit nantinya ya. . . why not??? Menikah bukan hanya perihal hidup enak berdua saja. Banyak hal yang akan semua serba baru nantinya, kita akan semakin mengenal karakter asli dari pasangan kita bukan??? Dan aku tidak ingin itu di campuri oleh orang lain termasuk orang tua kedua belah pihak ".


Kevin kembali tersenyum lembut memandang ku. Kemudian di sentuhnya kedua pipi ku dengan tangannya yang selalu hangat. Dari tatapan matanya ku lihat penuh keharuan hingga berkaca-kaca menatapku.

__ADS_1


" Fanny, aku tidak akan pernah menyesal menjadikan mu pilihan hatiku yang terakhir ". Ucap nya pada ku.


Seketika darah ku terasa berdesir mengalir hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Hatiku rasanya sedikit pilu. . . aku tidak tau jika dia sungguh sangat ingin aku menjadi pilihannya yang terakhir. Harusnya aku bahagia bukan???


Tidak. . . aku justru merasa malu. Dia yang begitu sempurna mencintai dan menerimaku apa adanya, sementara aku. . . aku wanita bodoh yang sudah mau merelakan segalanya untuk lelaki brengsek seperti Ammar, apakah masih boleh jika banyak menuntut???


" Vin, jawab jujur. Apakah mama mu sungguh akan menerimaku sebagai istrimu nantinya??? ". Tanya ku dengan wajah ekspresi serius.


" Sayaaang, semua yang bergelar seorang ibu di dunia ini pasti inginkan yang terbaik bagi putra putrinya tak terkecuali mama ku juga. Tapi aku akan membuktikan bahwa kau memang menantu yang baik dan calon istri idaman ".


" Tapi aku tidak baik Vin. . . aku. . . aku sudah pernah mengecewakan dan mengingkari janji ku pada mu saat itu, untuk tidak memberikan kehormatan ku kecuali untuk suami ku ".


" Sssstttt. . . aku sudah memaafkan mu akan hal itu, berapa kali aku mengatakannya pada mu. . .??? biarlah itu menjadi masa lalu kelam yang harus kau kubur dalam-dalam. Tatap lah masa depan yang lebih baik bersama ku nantinya. . . lagi pula, kita juga sudah pernah melakukannya kan??? Aku yang seharusnya memohon maaf pada mu Fanny, karena aku telah lepas kontrol sehingga. . . berani melakukannya pada mu ".


Tuhaaaaaaaannnnnnn. . . aku pasti akan menggila setelah ini, kenapa kau begitu baik mempertemukan aku pada sosok lelaki sebaik dan setulus hatinya???


" Satu bulan. Beri aku satu bulan untuk menyiapkan segalanya untuk pernikahan kita Kevin, sembari aku memikirkan dan menyiapkan diri, menyempurnakan mental ku dalam hal ini ke depan. Apa cukup??? ". Jawab ku dengan tegas kemudian.


" Mak. . .maksud. . .mu??? a. . .paa kau bersedia menikah dengan ku bulan depan Fanny??? begitu maksud mu??? ".


" Heem. . . terlalu cepat??? baik lah. dua bulan lagi "


" Tidak tidak. Itu. . . itu sudah terlalu lama bagiku sayang, woah. . . aku. . . aku tidak tau harus bagaimana mengekspresikan bahagianya hatiku saat ini. . . sungguh bagaikan mimpi ini semua, bisakah kau mengulanginya lagi pada ku Fanny??? ". Seketika ku lihat wajah Kevin memerah dengan senyuman sumringah sembari menciumi tangan ku berulang-ulang.


" cih, apaan sih. Jangan membuatku malu, ini di depan umum Kevin ". Jawab ku setengah berbisik. . .


" Ahahahaha. . . aku tidak peduli Fanny, aku sangat bahagia. Saaaangat bahagiaaa, makasih sayang. . . makasih kau telah bersedia menikah dengan ku dalam waktu dekat. Aku. . . aaaaarght rasanya bagai ingin terbang ke langit ke tujuh ".


Tiada henti-hentinya Kevin bersikap seperti anak kecil yang baru saja di belikan permen yang di inginkannya, dia begitu bahagia hingga wajahnya memerah seperti kepiting rebus.


Aku ikut bahagia melihatnya demikian, hingga tanpa sadar air mata ku menetes dengan sendirinya. . .

__ADS_1


__ADS_2