BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Delapan puluh sembilan


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, Ammar terbangun dengan gelagapan.


" Hey, ada apa Ammar??? " Tanya ku dengan terkejut mendapatinya demikian.


" Haaah. . . aku sudah tertidur berapa lama di pangkuan mu Fanny??? " Tanya nya sambil memijit batang hidung nya.


" Kau tertidur begitu lelap, aku tidak tega membangunkan mu. Jadi ku biarkan saja selama berjam-jam sampai kau terbangun dengan sendirinya " ucap ku sembari tersenyum lesu.


" Astaga Tuhan. . . maafin aku sayang, sudah membuatmu jadi sendirian malah menamani ku. Hampir semalaman aku tidak bisa tidur lelap dan akhirnya menjagamu semalaman suntuk Fanny, aku sungguh takut menanti reaksi obat yang ku beli begiu mahal apa akan bereaksi manjur??? Tapi syukur lah semua sesuai yang ku harapkan. Aku tidak rugikan membelinya. . " Jelas nya kemudian.


" Maafkan aku sayang " jawab ku perlahan.


" Untuk apa kau meminta maaf begitu sayang, sudah lah aku tidak apa-apa " ucapnya lagi.


" Ammar, apa kau sungguh masih setia padaku??? "


Tanya ku dengan ekspresi wajah sedih


" Sayang. . . kenapa kau selalu mengulang pertanyaan yang sama pada ku??? Aku akan selalu setia dan mencintaimu selamanya " ucapnya dengan tegas.


" Setelah kegiatan KKN mu di mulai, apa kita masih bisa bertemu??? " tanya ku lagi.


" Mmh. . . aku tidak janji sayang, tapi aku usahakan akan selalu mengabarimu ya. Ku harap kau jangan pernah berpikir bahwa aku berbuat hal macam-macam selama itu ya "


Lama ku terdiam tanpa kata, kemudian mengangguk pelan.


" Setelah ini aku harus pulang Fanny, kegiatan KKN ku akan di mulai besok. kemudian setelah itu akan semakin sibuk lagi, kau jaga lah kesehatan mu selalu ya. Jangan selalu menunda lapar, dan sarapan. Aku akan sangat merindukan nantinya " Ucap Ammar sembari memeluk tubuh ku dengan erat. Kemudian mengecup mesra bibir ku. . . Aku membalasnya.


Entah kenapa aku mulai sesak, aku mulai takut, ciumannya kali ini seperti seolah Ammar akan meninggalkan ku untuk selamanya saja.


Ammar melepas ciumannya dari bibir ku, kemudian aku menarik tangannya lagi. Menatap wajahnya dengan lekat. . .


" Ammar, berjanji lah kau akan tetap setia dan mencintaiku. Hehm??? berjanjilah Ammar. . . " pintaku memohon.


" Fanny, aku janji. aku janji sayang, jangan membuatmu khawatir begini dong. . . apa kau mulai ragu pada ku??? " Tanya nya heran.

__ADS_1


Aku hanya menatapnya diam. . . kembali Ammar memeluk ku.


" Ya udah aku harus pulang hari ini juga, agar nanti sore aku bisa tetap hadir di kampus untuk absen "


" Baik lah, kau hati-hati di jalan. Jangan lupa untuk selalu mengabariku ya " Pintaku dengan tetap memeluknya di hadapan ku.


Kemudian aku berjalan melangkah bersamanya menuju halaman depan. Rasa berat di hati ini sungguh bukan main. . . ini. . . sama seperti ketika Ammar dulu pernah mengkhianatiku, perasaan takut ini sudah pernah menyerangku kala itu.


Tapi. . . ah, semoga kali ini hanya sekedar rasa takut ku saja. Tidak mungkin Ammar akan kembali mengkhianati ku kan??? setelah sekian lama ini, aku sudah mengorbankan segalanya untuk nya.


Dadaku semakin sedak, sakit ku rasa setelah melihat dia berlalu pergi menghilang dari pandangan ku.


*Ammar, hati-hati di jalan. jaga selalu cinta kita, ku harap kau sungguh akan tetap setia. . .


************♡-♡*************


Kau tau, sudah satu bulan berlalu sejak hari dimana ku rasa suatu kesialan yang akan menjadi pembelajaran untuk ku dan Ammar. Kami jadi takut untuk melakukannya lagi. . . bahkan sekedar hanya membahas soal yang intim melalui ponsel saja, sudah tidak pernah ku lakukan lagi dengan Ammar setiap kali kami berkomunikasi melalui udara.


Tapi jujur, ini sedikit menyiksaku. . . Entah kenapa, selama itu pula aku seperti menggila dan kehausan akan sentuhan yang berbau sensual. Seberapa pun sering aku menghindarinya dengan berbagai kegiatan. Hah. . . sepertinya Ammar sudah menghukum ku atss keteledoran ku dengan mengabaikannya untuk tidak lagi mengkonsumsi pil anti hamil sebelum kami berhubungan. Ini membuat ku menggila. . . tapi apakah Ammar pun sama???


Aku. . . aku harus menahan dan melawan gairah ini semua, pikir ku dalam hati.


Hingga ponsel yang ku mainkan daritadi untuk membalas pesan singkat Ammar, kembali berdering.


Dini memanggil. . .


** Hmm. . . kenapa Din???


Sapaku ketika menerima panggilan telepon Dini.


**Fanny, ikut aku yuk. . .


Kemanaaa**???


Jawab ku dengan nada malas.

__ADS_1


Ke gramedia. Stok komik sudah habis ku baca semua. . . mau ya, yuk yuk yuk. . .


Pintanya dengan merengek manja.


Yakin nih ngajakin aku??? gak takut kalo ntar Tristan pujaan hati mu lebih perhatian ma aku??? hahahaha.


Upz, ada apa dengan ku??? kenapa tiba-tiba berkata seperti ini??? Aduh Fanny. . .


Ha? apaan sih bu guru. . . mulai genit niye, emang yakin mau ma dia??? aku sih udah mulai mundur nih. . . secara, bakalan ribet entar.


Jawab Dini dengan serius.


Sungguh??? Hahaha. . . ribet bisa jadi ribut yang mengesankan lho, kalo elu nya menikmati alurnya.


Emang kenapa sih???


Aku mulai meledeknya dan terbawa suasana.


Nah lho, lagi mikir jorok ya??? Wah parah lu Fan. Hahaha efek jarang di belai ni anak yak? hahahaa. . . Dasar. Huh. . . pokoknya gue bakal mundur perlahan. Tristan beda keyakinan ma gue Fan, yakin lu mau nyoba??? kali aja beda rasa, Hahahahaha. . .


**Yeee Gila lu Din, Enggak enggak. . . apaan coba, selama ini aku masih belum pernah pacaran dengan cowok yang beda keyakinan ma aku. Bakalan ribet emang, uuukh. . . gak banged deh. Cukup Ammar aja di hati gue selamanya. . .


Eh somplak, elu curhat???? gak jadi-jadi dung ke gramedia nya??? ayo cepetan siap-siap bentar lagi gue jemput**.


Klik !!! Panggilan telepon berakhir.


Hmm. . . aku kembali terbawa suasana dalam lamunan ku, sepertinya mulai menemukan ide yang cocok untuk melawan hasrat ku yang selalu menggebu-gebu ini. aku tidak ingin mempermalukan diri sendiri dengan melakukan hal yang. . . ah, entah lah. Hanya sekedar untuk memuaskan nafsu ku akan kerinduan sentuhan mesra dari Ammar.


Sebaiknya mulai saat ini aku harus lebih sering mengisi waktu dengan membaca, yah. . . membaca, bisa aja kan baca komik, baca novel, baca buku kumpulan syair atau sejarah pada kerajaan zaman dahulu akan mampu mengalihkan imajinasiku kan, ketika aku sedang berada di mood yang menggila ini.


Hah. . . ini bisa dibilang suatu kebetulan atau Tuhan sedang membantu ku melalui Dini kali ini???


Yang jelas, aku jadi semangat lagi selama berjauhan dengan Ammar aku tidak akan begitu merasakan gila karena merinduinya.


Kemudian aku bergegas menyiapkan diri untuk segera turun ke bawah menunggu jemputan dari Dini. Mmh. . . apa sebaiknya aku berdandan sok jadi pembaca atau kutu buku kali ini??? Hahaha. . .

__ADS_1


__ADS_2