
Tak terasa, hari pernikahan semakin terasa sudah di depan mata. Sepulang kuliah nanti Kevin mengajak ku fitting gaun untuk pernikahan kita.
Ah. . . tak sabar rasanya. Apakah nanti aku akan secantik bak pengantin yang lainnya juga???
Uuugh. . . membuatku malu saja membayangkannya. Dan entah sejak kapan aku merasa jam kuliah kali ini begitu lambat berjalan, aku ingin segera mengakhiri nya saja. Sebenarnya bisa aja sih aku kabur, tapi Kevin akan marah jika aku lakukan ini.
" Baik lah sampai disini dulu, terimakasih dan selamat sore " Ucap dosen yang mengisi mata kuliah terakhir hari ini.
Yess !!!
Mata kuliah akhirnya berakhir. Segera aku menelpon Kevin untuk menjemput ku lalu kemudian pergi fitting gaun pernikahan.
Aku berjalan melangkah menuju luar kelas dengan hati yang di penuhi kegembiraan. Hingga tiba di pintu gerbang kampus ku lihat sosok lelaki tampan yang kini membuatku berbunga-bunga sudah menunggu ku dengan senyuman manisnya.
" Cepet banget sudah sampai disini??? atau kau sudah menungguku lama disini??? " Tanya ku pada Kevin.
" Hemm. . . sekitaran 10 menit yang lalu, hehe "
" Sungguh??? Uugh kau selalu lebih tidak sabar dari ku "
" Hahaha. . . apa kau meledekku??? "
" Udah ah ayuk cepetan " Jawab ku tergesa-gesa memasuki mobil yang kemudian di susul oleh Kevin dengan tawa geli nya melihat sikap ku ini.
" Vin, kenapa sih harus pake fitting khusus dengan vendor baju pengantin segala??? kita kan bisa pake jasa perlengkapan pengantin biasa aja. . . jangan terlalu mewah "
" Sayang, aku ingin kau sungguh terlihat cantik di depan semuanya. pernikahan ini sekali seumur hidup, jadi aku ingin kau memilih gaun yang sangat pas untuk kau kenakan nantinya "
" Hemm. . . baik lah, terserah kau saja "
" Untuk gedung kita nanti apa sudah siap??? "
" Ehm, entah lah. Ayah dan bunda bilang malam ini mereka akan ngecek lokasinya. Semoga cocok dan sesuai dengan harapan kita sayang, lalu catering nya??? "
" Papa dan mama sudah urus sisanya, kita fokus saja dengan fitting baju pernikahan kita ya " Jawab Kevin dengan begitu antusias.
Rasanya, semua masih seperti mimpi. Kebahagiaan ini aku takut berakhir begitu saja. Ah, ku harap tidak !!!
Tiba di tempat kami akan melakukan fitting baju, aku hendak turun dari mobil bersamaan dengan Kevin. Namun ponsel ku berdering, sebuah nomor baru menelpon ku. Aku sedikit heran dan bertanya-tanya siapa nomor baru itu. . . ?
Aku menolak panggilan itu karena ku takut itu hanya teror dari orang-orang yang tak ingin melihatku bahagia. Bisa saja kan itu nomor baru Ammar untuk menggoyahkan hati ku dan membuat semua kebahagiaan ini hancur???
Ah sudah lah, aku abaikan saja. Namun di saat aku melangkah bersama Kevin menuju ke dalam ruangan, nomor baru itu kembali menelpon. Aku sudah menolak panggilan itu dua kali berturut-turut.
" Siapa sayang??? di angkat aja teleponya. Kali aja penting " Ucap Kevin pada ku.
" Aku malas menerima telepon dari nomor baru, aku takut itu. . . teror gak jelas untuk menghancurkan kebahagiaan kita " Jawab ku dengan menolak panggilan itu.
Namin kembali nomor baru itu menelpon hingga akhirnya Kevin meraih ponsel ku dan menerima panggilan itu. Aku terkejut hendak merebutnya lagi, aku sungguh berpikiran bahwa itu adalah Ammar. Aku takut Kevin akan marah nantinya, meski dia bukan tyipe laki-laki gampang marah.
__ADS_1
" Eh iya betul, anda siapa ya " Ucap Kevin ketika menerima telepon itu.
" Apa??? lalu sekarang bagaimana kondisi beliau??? "
Aku tertegun menatap wajah Kevin yang berubah pucat pasi dalam kepanikan, entah siapa yang menelpon itu dan siapa yang dia tanya tentang kondisi nya.
Kemudian perlahan Kevin menarik nafas panjang memberikan ponsel ku kembali.
" Ada apa??? kenapa kau pucat sampai berkeringat begitu??? jangan membuatku takut " Tanya ku dengan panik. Lagi dan lagi Kevin menarik nafas nya dalam-dalam.
" Sayang, kita tunda fitting baju nya. Mari kita kerumah sakit sekarang ". Jawab nya dengan gemetar.
" Rumah sakit??? siapa yang sakit??? dan siapa yang menelpon ke nomor ku barusan??? "
" Sayang, aku tidak bisa menjelaskan sekarang. Ayo ke rumah sakit dulu ya ". Jawab nya dengan tanpa menunggu aba-aba dari ku lagi, Kevin menarik tangan ku tergesa-gesa menuju mobil dan melajukan mobilnya dengan cepat kemudian.
Aku masih sedikit kebingungan, tak seperti biasanya Kevin seperti itu. Selama di perjalanan dia terlihat sangat panik dan terus berkeringat, aku. . . aku sampai tidak berani untuk bertanya lagi pada nya.
Tapi. . . rumah sakit??? kenapa??? siapa??? ada apa???
Dalam hati ku terus saja bertanya-tanya.
Oh God, apa lagi yang akan kau berikan cobaan pada ku. di balik kebahagiaan ini??? tidak bisa kah kau memberiku celah sedikit saja untuk bahagia??? Dosa apa yang telah ku perbuat di masa lalu? hingga aku begitu sulit menerima kebahagiaan dari orang yang ku cintai.
Meski ku tau, Jodoh, rejeki, hidup dan mati seseorang kau yang mengaturnya tapi kali ini. . . ku mohon, biarkan aku dan Kevin berjodoh dalam satu ikatan pernikahan.
Tanpa sadar aku dan Kevin sudah tiba di rumah sakit, Kevin langsung menggenggam tangan ku. Aku semakin kebingungan dengan sikap nya setelah ku rasa genggaman tangannya begitu sangat dingin bagai es batu.
" Vin, ada apa sih??? jangan membuat ku semakin takut "
" Fanny. . . "
Tiba-tiba Kevin memeluk ku dengan isakan tangis. Tubuhku mulai gemetaran mendengar isakan tangis nya, dia memeluk ku begitu erat.
" Jawab aku ". Ucap ku dengan sedikit kesal dan melepas pelukannya. Namun tanpa memberikan jawaban yang pasti dia kembali mengajak ku berjalan melangkah dengan setengah berlari sampai akhirnya tiba di sebuah ruangan yang ku lihat sudah berdiri mama dan papa kak Rendy beserta papa nya Kevin.
Langkah ku terhenti, melihat raut wajah mereka yang berderai dengan air mata terutama mama nya kak Rendy yang langsung seketika berlari menyambutku dengan pelukan dan tangisan tersedu-sedu.
" A. . . ada apa tante??? Siapa yang sakit??? apa istrinya kak Rendy melahirkan??? bagaimana kondisinya??? " Tanya ku.
Haha, lucu bukan? seolah aku lupa bahwa kak Shishi baru saja beberapa bulan kehamilannya bagaimana mungkin akan melahirkan. Pikiran ku hanya tertuju pada kehamilannya melihat semua berkumpul disini.
Mendengar ucapan ku ini beliau semakin menangis dan memeluk ku erat.
" Sayang, ayah mu. . . ayah mu sudah pergi untuk selama nya Nak. Sedang bunda mu di ruang UGD belum juga sadarkan diri " Ucap mama kak Rendy dengan isakan tangis yang semakin menjadi-jadi.
Kau tau, aku berharap pendengaran ku sedikit rusak mendengar hal ini. Ku berharap ini hanya mimpi buruk sejenak saja, atau. . . mungkin ini hanya sebuah kejahilan saja kan. Haha. . . siapa yang berani membuat lelucon seperti ini.
Aku masih terdiam kaku mendengar ucapan mama kak Rendy, kemudian Kevin mengusap lembut kepala ku. Kau menoleh nya dengan bibir gemetar memberanikan buka suara.
__ADS_1
" Vin. . . apa ini??? Jangan bercanda ".
Kevin terus saja menangis menundukkan wajah nya tak berani menatap mata ku sedikit pun. Lalu kemudian Om iqbal, papa Kevin menghampiri ku.
" Nak, sabar ya. Ini sudah menjadi takdir tuhan untuk mu, om berharap kau tidak akan menyalahkan siapapun atau menyesali diri setelah ini. Om juga tidak percaya jika semua ini terjadi dengan mendadak, ayah mu mengalami kecelakaan saat menuju gedung yang akan di sewa untuk pernikahan kalian. Entah bagaimana kejadiannya tapi. . . ayah mu sudah meninggal di tempat dalam kecelakaan itu "
Jleb !!!
Sekujur tubuh ku gemetaran dan terasa sesak di dada ku, pening terasa di kepala. Aku berlari menerobos pintu sebuah ruangan di depan mata ku kini, dan benar. . . Beberapa dokter sudah mengelilingi ayah ku yang terbujur kaku. Beberapa perawat lainnya membenahi kedua tangan ayah ku untuk di letakkan di atas tubuh nya.
" Dokter, katakan apakah ayah ku baik-baik saja??? "
" Maaf, tapi korban sudah meninggal di lokasi kecelakaan. Kami tidak bisa lagi melakukan apa-apa "
" Heh, apa kini kau berlagak menjadi Tuhan dokter??? Sehingga kau dengan mudah mengucapkan ayah ku sudah meninggal??? lihat, beliau bersih tanpa luka. apa kalian buta hah??? dokter apa kau itu "
" Mohon sabar dan tenang mbak, kami tidak bisa melakukan apa lagi. korban sudah meninggal karena luka dalam di bagian otak nya. Benturan yang di alami beliau sepertinya cukup keras "
Aku mengabaikna ucapan dokter dan para perawat yang berusaha menenangkan ku. Aku tidak percaya dengan ucapan konyol mereka itu. Siapa mereka??? mereka bukan Tuhan yang mampu memvonis hidup mati seseorang.
Kemudian Kevin memasuki ruangan menghampiri ku dengan derai air mata di pipi nya.
" Fanny. . . "
" Vin, ayah ku baik-baik saja. Jangan menangis, beliau sudah berjanji akan mendampingiku dalam pernikahan kita besok. Coba lihat, ayah hanya sedikit kelelahan jadi tertidur sebentar. Yah, hanya tertidur saja kan??? "
" Ayah. . . ayah. . . bangun, ini Fanny. Jangan mengerjai Fanny, ini kali pertama Fanny berani membangunkan ayah dari tidur lelap ayah. Ayo bangun, Fanny sudah disini ayah. Bangun. . . "
Entah darimana air mata ini tiba-tiba mengalir dengan deras. Perlahan ku kecup kening ayah yang sudah memucat itu. . . seakan matanya terpejam begitu erat. Sekujur tubuhnya dingin. . .
" Mbak. . . mbak, permisi kami harus mengurus jenazah beliau dahulu ya. Tolong minggir sebentar, kami turut berduka cita. sabar ya "
" Brengsek. Kau dokter brengsek, kau dokter gila. . . kau. . . kau bodoh, kenapa kau menjadi dokter jika hanya untuk berdiam diri saja begitu hah??? jangan berani menyentuh ayah ku dengan tangan mu itu. Pergi. . . pergi kalian semua. . . dia ayah ku, hanya aku yang tau bagaimana ayah ku. Dia hanya tertidur apa kalian tau??? pergi dari ruangan ini. Ayah ku tidak suka di ganggu tidur nya ".
" Fanny, Fanny. . . pliss sayang, jangan begini. Beliau sudah pergi untuk selamanya, jangan begini. Jangan membuat beliau tidak tenang dengan kepergiannya Fanny "
Rasanya aku ingin memaki nya juga, mendengar ucapan Kevin tentang ayah ku ini.
" Vin, apa kau juga percaya jika ayah ku sudah pergi untuk selamanya? apa kau juga percaya Vin??? "
Aku mulai berteriak pada Kevin, namun Kevin terdiam menarik tubuh ku dalam pelukannya.
" Fanny, maafkan aku sayang. maafkan aku, tapi kita harus ikhlas membiarkan beliau pergi dengan tenang, jangan begini. . . kasian om jika melihat kau seperti ini beliau tidak akan bisa pergi dengan tenang, apa kau tidak kasihan???
Tangis ku pecah setelah kembali melihat wajah ayah ku yang terbaring memucat dengan sekujur tubuhnya yang kaku. Mata beliau begitu rapat terpejam, dalam hati ku berkata. . .
Sejahat itu kah beliau pada ku saat ini??? Aku baru saja akan membuatnya bahagia atas pernikahan ku dengan Kevin yang sangat dia harapkan.
" Kenapa Vin, kenapa harus sekarang??? kenapa ayah setega itu jahat pada ku, meninggalkan ku begitu saja di hari kebahagiaan ku. Kenapaaa??? kenapaaaaaa??? " Tangis ku meluap dengan teriakan, sesak di dada ku semakin terasa menusuk ku dengan tajam.
__ADS_1
Kevin terdiam dengan terus memeluk tubuh ku dengan erat, dia pun ikut menangis dengan isakan yang tersedu sedu tanpa henti.