
Ammar masih cemberut tanpa menjawab pertanyaan ku, lucu deh wajahnya kalo lagi manyun gitu.
" Ammar, jawab aku. Apa kau cemburu pada Kevin? " Tanya ku sekali lagi.
" Bukan hanya pada Kevin, tapi aku tidak suka kau begitu manja pada Rendy. Terkesan genit tau gak? Apa lagi langsung main peluk di depan umum, kau hanya boleh manja pada ku, pacar mu Fanny.!!!" Jawab Ammar cetus.
" Astaga, Ammar. Kak rendy itu saudara ku, kami ini sepupu, tidak lebih. Konyol sekali kau cemburu padanya Ammar, kami memang sudah setahun lebih tidak bertemu. Jadi wajar jika aku langsung memeluknya kan, kalaupun orang-orang melihat ku genit aku juga bodo amat lah, bukan kah kami memang saudara? "
Aku mulai kesal dengan pemikiran Ammar melihatku tadi.
" Tapi tidak semua orang berpikiran sama seperti mu, apa lagi si Kevin Kevin itu. Dia selalu menatap mu dengan senyuman nakal, aku tidak suka. Pokoknya kau hanya boleh manja dan genit pada ku saja, titik !!! " Nada Ammar kali ini terlihat benar-benar marah.
" Jadi kau memandang sikap ku tadi seperti cewek genit Ammar? "Aku mulai kesal menatapnya.
" Bu,bukan.. Bukan gitu maksud ku sayang, aku cuma.. Cuma.. Akh, pokoknya aku gak mau kau manja, genit dan akrab dengan cowok lain siapapun itu kecuali dengan ku saja, jangan membuatku khawatir seakan kau akan mudah di rebut oleh cowok lain. "
" Tapi ammar. Kali ini kau keter..."
Belum sempat ku lanjutkan ucapan ku, ponsel Ammar berdering. Ku lihat seketika dia menekan sebuah layar di depan nya.
Halo. . . Ammar, apa kau beneran gak bisa jemput? pokoknya aku mau kau menjemputku, kalaupun telat ke kampus kita telat bareng.
Aku sangat mengenal suara ini. Ini pasti suara Abel, Abel kembali menelpon dan memaksa Ammar menjemputnya untuk pergi bersama ke kampus.
**Abel, aku gak janji. Aku masih bersama Fanny di kota B.
Aku gak mau tahu, pokoknya aku tunggu kamu jemput aku di kost**.
Bip bip bip...
Panggilan berakhir.
Ku lihat Ammar menghela nafas panjang kemudian terdiam.
Bathin ku mulai berkata..
Kau melarangku untuk bersikap manja pada sepupu ku sendiri, tapi kau? Lihat bagaimana Abel yang dengan berani mendesakmu untuk menjemputnya sampai rela telat bareng pergi ke kampus, dan kau... Hanya terdiam, segitu aja? Tanpa berbicara apa-apa lagi gitu, jelasin kek atau apa kek. Bicara padaku, aku ini pacarmu Ammar. Ngertiin dong posisi aku, jangan hanya kau saja yang mau di ngertiin. Aaaaaaarght nyebelin.
" Ammar, kau dan Abel.."
__ADS_1
" Harus berapa kali aku menjelaskan pada mu Fanny, kami hanya teman. Gak lebih, Ok." Jawab Ammar menyela seketika ucapan ku.
" Ya ya ya. Okey, teman. Yah.. Aku akan mempercayainya, "Jawab ku dengan terpaksa.
" Nah.. Gitu dong, makasih ya sayang. " Ucap Ammar sembari menyentuh tangan ku.
Aku tersenyum kecut menanggapinya, sejujurnya ingin aku meneriakinya.
Abel Abel dan Abel.. Kau mulai mengusik ku, wahai tante girang.
" Eh sayang, sampai dirumah aku langsung balik ke kota A ya, agar sampai dirumah aku bisa istrahat dulu sebelum ke kampus, gapapa kan? "
Aku terdiam mendengar ucapannya, aku tau kau hanya takut jika Abel menunggumu lama bukan? Kau benar-benar egois Ammar.
Sahut ku dalam hati.
" Ih tadi janjinya jam berapa, kok di majuin sih? Aku kan masih kangen Ammar. " Jawab ku kemudian.
Ammar menghentikan mobilnya seketika di pinggir jalan.
" Fanny, sejujurnya aku juga tidak ingin berpisah dengan mu dan jauh dari mu, tapi ini harus.. Aku gak enak jika hari ini tidak langsung segera pulang. Bagaimana om dan tante akan berpikiran tentang ku nantinya, dan mama papa ku akan memarahiku nanti. " Jelas Ammar.
" Sayang, ayo lah jangan ngambek begitu. Aku mencintaimu." Ucap Ammar kembali.
Lalu kemudian Ammar dengan lembut menarik dagu ku, Ia kecup kening ku. Aku tersenyum menanggapinya, kemudian memeluknya.
" Ammar, aku mohon jangan lagi mengkhianatiku selama kita berjauhan kembali. Aku.. Aku takut kehilangan mu, aku benar-benar takut." Ucapku sembari memeluknya erat.
" Hey, aku sudah berjanji padamu sayang. Percaya lah. Aku hanya mencintaimu, sangat mencintaimu Fanny. Tapi kau juga harus janji, jaga hati dan cintamu untuk ku, jangan mudah akrab dan menerima kenalan cowok lain sembarangan. Harus ijin dulu dariku, hemm? "
Ammar melepas pelukannya, menyentuh pipiku dengan kedua tangannya. Aku mengangguk pelan, dia tersenyum puas.
Kami kembali berciuman, ciumannya kali ini sangat lembut. Ammar terus menciumi seluruh wajah ku dengan mesra, lalu aku mendorongnya pelan.
" Ammar, ini masih siang. Di pinggir jalan, bagaimana jika ada yang melihat kita di dalam mobil berciuman, nanti dikira kita mesum loh." Jawab ku pelan.
" Sayang, tenang aja. Kaca mobil ku ini dari luar tak nampak apapun yang ada di dalamnya. Ayo lah, biarkan aku menikmati ciuman ini, sebelum kita berjauhan lagi. "
Aku mengangguk pelan, sebentar lagi aku akan kembali jauh darinya. Menunggu satu minggu lagi untuk kembali bertemu, rasanya bagai setahun. Aku tidak tahan, ku rangkul leher Ammar dan mengecup bibirnya.
__ADS_1
Ammar membalas dengan penuh gairah. Aku semakin mempererat pelukan ku, puas berciuman lalu aku melepaskan diri perlahan. Ammar tersenyum merapikan rambutku kemudian.
"Aku akan sangat merindukan ini semua darimu Fanny. Sekarang kau sudah makin jago ya berciuman, beda dengan pertama kali aku mencium mu, Hahaha. " Jawab Ammar meledekku dengan tawa. Aku mencubitnya, tersipu malu dibuatnya.
Kemudian Ammar kembali melajukan mobilnya lebih cepat dari sebelumnya, sepertinya dia benar-benar tidak sabar ingin segera sampai di rumah ku kemudian ia segera melanjutkan kembali perjalanannya ke kota A, tempat ia tinggal.
Tiba dirumah, Ammar berpamitan pada ayah dan ibu dengan terburu-buru tanpa duduk kembali atau sekedar santai dulu sejenak melepas lelah setelah lama berkeliling di mall tadi.
" Baik lah nak Ammar, hati-hati di jalan ya. Titip salam untuk papa mama mu. jika lelah di jalan berhentilah sejenak. Jangan memaksa untuk terus melanjutkan perjalanan ya, " Jawab ibu menasehati Ammar.
" iya tante, Terimakasih banyak. Selama disini, Ammar benar-benar merepotkan. "
" Oh tidak apa Ammar, om senang jadi ada yang menemani jogging kalau pagi. Jangan kapok menginap dirumah kami ya, " Ucap ayah ku pada Ammar sembari menepuk-nepuk pelan bahu nya.
" Upz, om dan tante pindah dulu deh, biar kalian bisa ngobrol sebentar sebelum jauhan lagi. Ehhem " . Ucap ibu sambil senyum-senyum menarik tangan ayah kemudian berlalu. Hingga tinggal aku dan Ammar saja di ruang tamu.
Kemudian aku mengantar nya ke teras depan rumah, berjalan menggadeng tangan nya. Rasanya berat, cukup berat untuk kembali berjauhan. Andai jarak kota tempat tinggal kami dekat..
Aku mulai menghela nafas panjang menahan diri untuk tidak sampai menangis. Akan sangat lucu bukan, sedangkan hubungan kami berjalan sudah hampir setahun. Jika terlihat cengeng begini terus, aku takut Ammar akan jenuh dan mulai ilfil.
" Ya sudah, aku balik ke kota A sekarang ya sayang, jaga diri baik-baik, jaga kesehatan, inget.. Jangan lagi mogok makan. Kau sudah semakin kurus, di montokin lagi dung. Hehe.. " Jawab Ammar dengan memelukku.
" Iya. Siap pak guru ku, saat ketemu nanti aku janji sudah lebih montok nantinya tubuh ku ini, hahaha.. "
" Aku mencintaimu sayang. "
" Aku juga mencintaimu Ammar, inget ya. Awas macem-macem dikampus. Aku gak akan memaafkan mu lagi." Jawab ku dengan nada mengancam.
" Iyaaa.. Siap bos ku, asal kau juga jangan lagi manja atau genit dengan cowok siapapun itu. Jangan sembarang kasih nomor telepon pada lelaki manapun, kecuali hanya A-K-U. Ok sayang, Mmuach... " Ucap Ammar sedikit ngomel sembari mengecup kening ku.
Kemudian kami kembali saling berpelukan.
" Ya sudah aku berangkat sekarang ya, " Ucap Ammar sembari melepas pelukan ku, aku menggelengkan kepala ku dengan tetap menggenggam tangannya erat.
Ammar tersenyum memohon padaku, aku mengangguk pelan dan melepas tangannya.
Kemudian Ammar berlalu pergi begitu saja tanpa menoleh lagi kebelakang, atau sekedar melempar senyumannya kembali pada ku yang menatap punggungnya dari belakang.
Ammar.. Hati-hati di jalan, semoga kau.. Tidak lagi mengkhianatiku ketika berjauhan seperti ini, aku mencintaimu Ammar.
__ADS_1