BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
#120


__ADS_3

" Fan, gimana dengan kamu??? apakah kau juga punya tempat pribadi yang cukup di rahasiakan??? "


Aku terkejut mendengar suara Tommy yang kembali mengajakku berbicara.


" Ehm. . . dulu, ada. Itu tempat selalu menjadi pelarian kakak sepupu ku dengan ku ketika kami sedang galau. Hehe. . . tapi. . . tempat itu. . . saat ini. . . aku sudah tak ingin menginjakkan kaki kembali disitu "


" Oh ya??? Why??? " Tanya nya menatap ku heran.


" Terlalu banyak kenangan ditempat itu Tommy, kenangan yang seharusnya tetap indah dan manis. Tapi. . . memaksaku untuk menjadikannya kenangan terpahit sepanjang hidupku "


" tentang Tristan dan Ega kah??? "


" Bukan Tommy, tapi. . . dua orang lelaki yang sempat ku cintai saat itu "


" Hahahaa dasar kau, memang egois dan playgirl " Ucap Tommy meledekku kemudian.


" Hah. . . mungkin tepatnya lagi, aku wanita yang tidak tahu diri. Saat itu, aku sudah memiliki pacar. Tapi aku malah menyukai cowok lain, aku tidak bisa memilih salah satu diantara mereka saat itu. . . tapi. . . ah sudah lah aku tak ingin mengingatnya lagi "


" Lalu kapan Fanny, kau kembal membuka hatimu untuk mencintai seseorang lagi??? jangan menghukum dirimu begitu. . . kau masih berhak mendapatkan yang terbaik yang sungguh mencintai dan menerimamu apa adanya "


" Heh, kau tau Tommy. . . saat itu, Tristan juga mengatakan hal yang sama dengan ku. Tapi apa??? dia juga yang meninggalkan ku setelah berhasil membuatku percaya dan mencintainya sepenuh hati "


" Apa kau masih mencintai Tristan Fanny " Tanya Tommy dengan tatapan serius kali ini.


" Entah lah, aku tidak tau lagi apakah di hatiku masih bisa merasakan cinta kembali atau tidak. Aku hanya sudah sangat lelah dan muak, aku sudah tak lagi memiliki harga diri dan kehormatan yang bisa ku pertahankan dengan kesombongan "


" Fanny. . . ayo lah, aku akan selalu mendukungmu. Siapapun yang akan menjadi jodoh mu kelak, aku turut bahagia " Ucap nya lagi. Membuat ku terharu melihatnya. . .


Udara semakin terasa dingin saja. Padahal ini baru jam 9 malam, tapi. . . sudah terasa sejuk menusuk tulang.


" Apa kau kedinginan Fanny??? " Tanya Tommy yang kemudian melepas jaket yang di kenakannya.


Di lemparnya jaket nya pada ku, membuat ku menatapnya kesal. Lalu dia tertawa lepas. . .


sembari ku kenakan jaket yang di berikan Tommy, ponsel ku berdering di dalam tas mini yang ku gandeng semulai tadi.


Ku lihat sebuah nomor baru yang menelpon. Aku melihatnya sambil berpikir keras. . . siapa lagi yang menelpon ku dengan nomor baru di jam segini???


** Halo. . .


Ku jawab, namun terdiam tanpa suara dari kejauhan sana.


Halo, dengan siapa ini???


Masih terdiam tanpa suara meski telepon masih tersambung.


Meski aku sudah menjawab dan mengulang tanya ku siapa dia, dia tetap terdiam.


Lalu Tommy ikut bersuara bertanya pada ku. . .


" Fanny, siapa??? "


" Dia diam saja, aku tidak tau karena nomornya tak tersimpan di layar ku " Jawab ku kemudian.

__ADS_1


Hallo. . . halo. . .


Siapa sih??? kalo gak jawab aku matiin nih.


jawab ku kali ini dengan setengah membentaknya.


Aku baru saja hendak mematikannya langsung namun terdengar dia memanggil nama ku dengan lirih terdengar dari kejauhan sana.


Fanny, ini. . . ini aku. . . AM MAR !!!


Degh !!!


Hatiku bergetar hingga terasa sampai di bibir ku mendengar kembali suaranya.


Ammar, apa aku tidak salah dengar??? Tapi. . . benarkah dia Ammar, ammar mantan tunangan ku??? Lalu apa dia masih menyimpan nomor ku ini???


" Hey Fan, siapa sih??? " Tanya tommy lagi, kembali mengejutkan ku.


****Maaf jika aku mengganggu mu. Aku akan mematikan nya sekarang.


Ada gerangan apa kau menelpon ku kembali Ammar****???


Aku terpaksa bertanya dan menahannya untuk mematikan panggilab telepon nya.


Ku lihat Tommy seketika menutup bibir nya dengan kedua tangannya karena terkejut saat aku menyebut nama Ammar, nama seseorang yang juga dia ketahui bahwa dia mantan tunangan ku..


Katakan apa kau sedang berkencan dengan pacar mu???


Perlahan aku melirik pada Tommy.


" Hey. . . kau gila Fan " ucap Tommy berbisik pada ku dari kejauhan.


Aku memberikan isyarat untuk tetap diam dahulu.


**Kau. . . terlalu cepat melupakan aku Fanny


Hey, bicara apa kau??? ini sudah berapa tahun kita terpisah hah??? bukan kah aku juga berhak move on dari mu dengan cepat setelah apa yang kau lakukan padaku selama kita masih berhubungan Ammar. . . kau jangan lupa diri begitu**.


Emosi ku tiba-tiba meluap begitu saja tanpa ku sadari.


Tommy tercengang melihat ku begini. . .


Aku. . . aku sadar Fanny, aku banyak tlah berbuat salah dan menyakitimu selama itu. Tapi. . . jujur, aku. . . aku masih merindukan mu dan sering memikirkan mu. Mama. . . mama juga masih sering memaksa ku untuk membawa mu kerumah ku.


Degh !!!


Seketika aku tak mampu membalas ucapan Ammar secara langsung, mendengar ucapannya tentan Tante Lina. . . ah, aku juga rindu beliau yang selalu baik pada ku.


**Sampaikan saja salam ku pada beliau Ammar. Aku juga Rindu beliau. . . semoga beliau sehat-sehat selalu. Ya udah ya aku tutup telepon nya, nanti pacar ku cemburu.


Eh tunggu Fanny, bisakah. . . nanti ku telepon lagi??? banyak hal yang ingin aku sampaikan dan aku ceritakan padamu. Mau kan kau. . . menerima telepon ku. Aku ingin kita masih bisa berteman baik setelah ini**. . .


Klik !!!

__ADS_1


Tanpa menjawab pertanyaan Ammar yang terakhir, aku mematikan panggilan teleponnya.


Ku tarik nafas dalam-dalam. . . mengingat kembali semua ucapannya, suara lembutnya, dan. . . seketika air mata ku menetes, mengalir sangat deras.


Tommy menghampiriku, kemudian merangkul tubuh ku ke dalam pelukannya. Tangis ku mulai pecah. . .


" Menangis lah Fanny, sepuas mu malam ini jika kau ingin menangis ".


Aku mulai sesunggukan dalam dekapan tubuh Tommy, aku tidak tau apa yang aku tangisi kali ini, aku tidak tau kenapa hati ini merasakan perih dan sakit yang sangat sangat sakit mendengar suara Ammar yang tiba-tiba saja menelpon ku lagi.


Hati ku masih bergetar mendengar suaranya.


Kenapa. . . kenapa masih saja ada getaran di hati ini mendengar suaranya, ini. . . ini sudah sangat lama bukan???


Tangis ku mulai mereda dengan sendirinya, aku. . . aku tidak ingin terlalu meratapi perasaan ini. Semua hanya akan kembali membuatku terpuruk nanti nya.


" Udah puas nangisnya??? "


" Tauk ah, pasti lu ngetawain gue kan daritadi " Jawab ku cetus dengan masih sesunggukan.


" Apaan sih. . . cengeng lu, harusnya kau tak perlu menangis hanya karena mantan tunangan mu tiba-tiba menelpon. Harusnya tegas, tunjukin kalo kamu udah bisa move on dari dia Fanny. . . "


" bukan kah tadi aku sudah membalasnya. . . ?" tanya ku dengan nada kesal.


" dengan bilang bahwa malam ini kau sedang kencan??? iya??? Hahaha kekanakan tau gak??? Emang yakin dia bakal cemburu??? hah. . .??? "


" Aku gak tau, aku gak tau. . . terserah dia mau cemburu mau kagak, bukan urusan ku lagi " jawab ku melangkah jauh darinya.


" Lalu bagaimana setelah ini jika dia kembali ngehubungin elu? "


Aku terdiam menatap wajah Tommy mendengar pertanyaan nya itu. Kemudian ku palingkan wajah ku dari tatapannya yang serius.


" Aku gak akan menerimanya lagi, lebih baik aku benar-benar menjauh saja. Begitu lebih baik "


" Emang yakin bida terus ngehindar kalo terus-terus maksa ngehubungin elu gimana??? Hayo. . . ? "


" Apaan sih Tom, nyebelin deh "


" Saran aja nih, supaya sahabat aku yang satu ini gak selalu di pandang rendah dan lemah. . . misal nih, misalnya mantan tunangan mu kembali memhubungimu ya terima aja. Ajak dia berteman jika perlu, tapi. . . tidak dengan hatimu. Kau harus menunjukkan sikap dewasa mu pada nya, agar dia menyesal tlah meninggalkan mu Fanny. Bisa gak??? "


Aku masih terdiam tanpa kata mendengarkan saran dari tommy.


" Tapi awas lu kalo sampe kebawa dengan hati lagi, aku gak mau berteman lagi dengan mu "


" Jadi ngancem nih??? " tanya ku langsung.


" Bisa gak??? " Tommy bertanya balik.


Ku tatap matanya yang sangat serius kali ini. . . Dia memang teman yang baik, selalu memberiku kekuatan untuk terus bangkit dan berubah. Kali ini, sepertinya aku harus menerima saran nya itu, dan mencobanya sekeras mungkin.


" Hmm. . . ok ok, aku akan lakukan. Dan gak kebawa hati kali ini " Ucap ku meyakinkan.


" Nah, gitu dong. aku harap kau sungguh-sungguh jadi wanita yang tangguh Fanny. . . "

__ADS_1


Kemudian kami bergegas pulang karena malam kian semakin larut dan suasana sudah tidak mendukung untuk tetap berlama-lama di tempat ini.


__ADS_2