BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
#114


__ADS_3

POV AMMAR


Ini sudah lebih dari setahun lamanya, sejak berakhirnya hubungan ku dengan Fanny. Entah bagaimana kabarnya saat ini, jujur terkadang aku masih rindu sikapnya yang selalu ceria dan manja, dan juga. . . sentuhannya ketika bercumbu mesra dengan ku. Tapi, akh. . . sudah lah. Semua sudah berakhir, untuk apa lagi aku merindukannya. . .


Bahkan saat ini aku bisa mendapatkan banyak wanita yang sudah setia selalu mengejarku.


Tapi, selama ini. . . mama selalu terus memintaku untuk kembali dengan Fanny, Mama begitu menginginkan Fanny yang menjadi istriku. Karena mama begitu inginkan anak perempuan, berapa kalipun aku menjelaskan bahwa hubungan kami sudah tidak bisa di perbaiki dan di sambung kembali. Karena mungkin, orang tua Fanny juga sudah membenciku.


Banyak hal yang terjadi dengan hidupku saat ini, entah ini hukuman atau ujian dari tuhan sulit ku bedakan.


Setelah Papa meninggalkan Mama karena orang ketiga, hingga memiliki anak dari wanita brengsek tersebut. Aku harus menanggung semua nya sendirian, harus bekerja keras untuk menghidupi diriku beserta mama ku. Karena sejak itu, papa meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja di perusahaan hingga keuangan kami banyak mengalami penurunan.


Bukan hanya itu saja, adik ku satu-satunya yang selama ini ku sayangi. . . salah pergaulan, hingga dia menjadi liar dan berapa kali di tahan oleh petugas kepolisian. Mama terus menerus menangisi keadaan ini hingga tubuhnya semakin kurus dan terlihat lebih tua, aku tidak tahan. . . ingin rasanya aku berlari saja dari kenyataan pahit ini. Hingga aku lupa bagaimana indahnya bercinta dengan seorang wanita.


Hati-hariku mulai sibuk bekerja, meski gelar sarjana yang ku impikan selama ini berhasil ku raih dengan susah payah tapi. . . semua sia-sia karena aku gagal mendapat predikat mahasiswa terbaik di kampus ku.


Hari ini, sembari duduk santai di teras depan rumah aku terhanyut dalam lamunan yang entah sejak kapan melamun menjadi bagian dari hobby ku.


Kemudian ku lihat sebuah mobil jazz putih mendarat di halaman rumah ku. . . aku mengerutkan kedua alisku dan bertanya dalam hati, mobil siapa itu. . .???


Betapa aku sangat terkejut, ketika yang ku lihat seorang wanita yang dengan dandanan khasnya masih sangat ku kenal.


Dia tersenyum berjalan dengan langkah perlahan ke arah ku.


" Eliez. . .??? "


" Apa kabar Ammar??? "


Sapanya pada ku dengan senyuman. Membuat ku kikuk dan salah tingkah. . . kenapa tiba-tiba dia hadir dirumah ku.


" Ada apa kau tiba-tiba kembali menginjakkan kaki dirumah ku? " jawab ku dengan cetus.


" Ammar. . . ayo lah, apa begitu caramu menyambutku yang sudah lama tidak bertemu??? Plisss. . . jangan selalu membuang muka begitu pada ku Ammar "


" Katakan saja langsung jika ada hal penting "


" Ammar. . . aku kemari hanya ingin tau kabar mu dan tante saja, aku baru mendengar hal buruk yang keluargamu alami setelah aku baru saja sampai di indonesia kemarin " Jelasnya kemudian.


" Heh, kau apa kau akan mengambil kesempatan dalam kehancuran keluargaku kali ini??? iya??? "

__ADS_1


" Percuma aku bicara dengan lelaki keras kepala sepertimu itu. Aku akan langsung menemui tante saja ke dalam " Ucap Eliez yang kemudian melewatiku begitu saja melangkah masuk ke dalam rumah ku tanpa seijin ku dulu.


Aku mengikutinya dengan langkah cepat dari belakang, ku lihat Eliez sudah menemui mama dan memeluknya.


" Tante. . . maafin Eliez, baru datang menemui tante. Eliez tidak ada di samping tante setelah semua yang tante alami, Eliez baru saja sampai di indonesia kemarin. dan mendengar hal ini rasanya. . . eliez tidak percaya om haris akan setega itu tante " Eliez terus saja berbicara tanpa henti dan meminta maaf pada mama ku serta memeluknya dengan deraian air mata.


" Eliez, tak apa Nak. . . tak apa. . . ini sudah berlalu lama, tante sudah melupakan semuanya. Katakan kau minum apa, biar tante buatkan "


" ehm, tidak perlu tante. . . tapi, apakah tante masih sering buat kue kering almond kesukaan ku??? aku rindu kue buatan tante itu "


" Aaah. . . kau masih saja menyukainya??? baik lah, tante akan membuatnya untuk mu Nak. Bersantai lah dulu ya, atau. . . kau mau membuatnya bersama tante??? "


" Asyik, mau banget tante. . . mau mau. . . " ucap Eliez dengan manja. Yang kemudian pergi ke dapur dengan riang gembira mengikuti langkah mama serta sesekali memeluknya.


Aku yang menyaksikan ini semua, seakan merasa kembali pada masa lalu ku dengan Eliez. Dia wanita pertama yang sangat mama dan papa sukai, tapi. . . setelah bertahun-tahun lamanya kami menjalin hubungan serius, dia pergi begitu saja meninggalkan ku tanpa alasan yang jelas. Saat itu aku sungguh kecewa dan sangat hancur. . .


********************


POV Ammar II


Seiring waktu berjalan, melihat mama yang kembali ceria dan selalu tertawa dengan adanya Eliez di sampingnya yang kini hampir setiap hari menemani mama ku. . .


Aku mulai luluh, entah kenapa hatiku kembali terbuka untuk memaafkannya. Selama sebulan penuh, Eliez terus menghampiriku dengan meminta maaf dan menjelaskan alasannya pergi meninggalkanku saat itu ialah semata demi keinginan kakeknya yang mengharuskannya mendapat gelar kedokteran.


Hah, mungkin ini hadiah dari Tuhan di balik semua ujiannya padaku selama ini bukan??? dan mungkin, sudah saat nya aku memulai kembali dan menata hati dengan kisah serta cerita baru dalam hidup ku.


Meski dengan wanita yang pernah menghancurkan hatiku, dan aku sangat membencinya. Tapi walau bagaimanapun. . . dia. . . dia pernah menjadi cinta pertamaku. Meski nama Fanny masih terukir indah di hati ku, tapi. . . ah, sudah lah. Mungkin Fanny juga sudah bahagia disana.


" Ammar. . . pliss, jangan membuatku terus menungu dengan rasa bersalah padamu " ucap Eliez lagi.


" Baik lah, kita mulai hubungan kita dari awal lagi " jawab ku kemudian dengan singkat.


Seketika, Eliez langsung memeluk tubuh ku. Mengalungkan kedua tangan nya di leherku. . . membuatku terkejut kemudian tersimpul senyuman di bibirku tanpa ku sadari.


" Eliez, kau ini. . . masih saja sama. Selalu memelukku dengan cara seperti ini, masih dengan tiba-tiba begitu saja " Ucap ku sembari memeluk tubuh nya.


Tercium aroma rambut nya yang tetap sama seperti dulu, ketika kami masih menjalin suatu hubungan sepasang kekasih. Ini membuatku semakin terbayang kembali keindahan demi keindahan kebersamaan kami waktu dulu.


Ah. . . hangat nya tubuh ini, masih tetap sama ketika memeluk ku. . . Aku jadi sangat rindu. Ingin terus memeluk nya begini. . .

__ADS_1


" Terimakasih Ammar, aku sangat bahagia. Akhirnya kau mau kembali disisiku lagi, aku mencintaimu. aku mencintaimu. . . " ucap nya berkali-kali.


" Aku juga. . . Eliez, dan. . . terimakasih sampai detik ini kau masih setia menunggu dan mencintaiku ".


Lalu, keesokan harinya Eliez memintaku mengantarnya shopping banyak hal. Ini memang jadi kebiasaannya sejak dulu, awal kami berpacaran. Aku tidak heran lagi, atau pun lelah menemaninya berbelanja ini itu dengan waktu yang begitu lama. Dan dia pun tidak pernah mau menerima jika aku yang membayarnya. . .


Kami berjalan saling gandeng tangan, dan Eliez dengan sangat bahagia selalu memeluk ku dengan manja. Aku suka dengan sikapnya ini, tidak pernah berubah. Hingga aku mendengar seseorang memanggil ku dari kejauhan. . .


" Pak Ammar, hey pak. . . "


Yah. . . Andi, dia memanggil ku. Dan betapa terkejutmya setelah ku menolehnya dia sedang bersama Abel. setelah sekian lama kami tidak permah bertemu. . .


" Aa an. . . di??? "


" Wah, Ammar makin gagah saja. Sudah lama tidak pernah ada kabar, bagaimana kabarnya pak??? " tanya Andi dengan ramah menjabat tangan ku.


Sementara Abel mematung tanpa kata menatap wajah ku. . . aku jadi salah tingkah.


" Ba. . . baik Andi, kamu gimana? wah. . . awet ya dengan. . . ab. .. bel. . . apa kabar. . . bel??? " Sapa ku dengan terbata-bata.


" Sayang, siapa mereka??? " Tanya Eliez kemudian mengejutkan ku.


" Dia. . . dia Andi, murid ku di sekolah dulu. Dan. . . di sebelahnya pac. . .carnya, Ab. . bel ". Jawab ku dengan kikuk.


" Oh hai, aku eliez. . . pacar Ammar " Ucap Eliez lagi dengan ramah memperkenalkan diri menjabat tangan Andi dan Abel. Tapi. . . Abel mengabaikan nya. Tampak Eliez terlihat kebingungan akan sikap Abel ini, namun Eliez tetap membalasnya dengan senyuman.


" Ammar, ternyata kau benar-benar putus dengan Fanny. Kau tau, beberpa bulan yang lalu aku tanpa sengaja bertemu dengan nya, dan dia sedang bergandeng mesra dengan seorang lelaki yang jauh lebih tampan dari mu. Hahaha dan sekarang??? kau. . . kau malah mendaur ulang sampah yang sudah kau buang itu??? hahahahaa sangat memalukan dirimu itu " Ucap Abel dengan lantang.


Sontak saja ini cukup membuatku terpancing emosi.


" Abel, jaga mulut mu itu "


" Ehm, maaf. siapa yang kau maksud sampah disini hah??? aku??? wah, aku sangat tersanjung dengan ucapan mu itu. padahal kita baru saja bertemu, tapi kau sudah menghinaku. Sungguh kasihan lelaki di samping mu itu, bisa-bisa nya berpacaran dengan wanita kasar sepertimu itu " jawab eliez menambahkan.


" Sayang, sudah. . . ayo kita pergi saja. Jangan ladeni wanita gila sepertinya, Andi. Maafkan bapak ya, kita pergi dulu. jika kau masih mencintainya, rubahlah dia jadi lebih baik. Jika dia menolak, kau tinggalkan saja dia " Sembari ku berlalu meninggalkan Andi dan Abel begitu saja.


Ku lihat Eliez tampak berusaha menahan emosinya, ku kecup tangan nya yang menggenggam erat tangan ku.


Dia tersenyum kemudian. . .

__ADS_1


Namun dalam hati ku berpikir,


Secepat itukah kau mendapatkan penggantiku Fanny. . . setelah sekian lama kita menjalin hubungan yang cukup serius. Tapi kau. . . dengan mudahnya melupakan ku, kau tidak pantas memperlakukan ku begini. Sampai kapan pun aku tidak rela dan tidak ikhlas kau bahagia dengan yang lain Fanny. . .


__ADS_2