BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Tiga puluh


__ADS_3

" Ada apa Fanny? Kenapa kau terkejut begitu? Sampai bola matamu hampir loncat begitu. " Tanya kak Rendy mengernyitkan keningnya.


" Eh, Ammar mengirim pesan kak." Jawab ku terbata-bata


" Kenapa? Marah?" Tanya kak Rendy lagi.


" Udah ah, jangan di bahas lagi kak. Tadi kan Fanny udah bilang, Fanny mau hari ini kita happy-happy. Oke, "


Ku letakkan kembali ponsel ku dalam tas tanpa membalas pesan Ammar, hari ini aku tak ingin berdebat lagi dengannya.


Sengaja aku menyembunyikan masalah ku dengan Ammar pada kak Rendy, jika dia mengetahuinya aku yakin setelah ini hubungan ku dengan Ammar akan benar-benar berakhir. Dan aku belum siap akan hal itu, semarah dan sekecewa apa kali ini aku pada Ammar, aku masih sangat mencintainya.


Kak Rendy mulai menatapku tajam, sedangkan Kevin terus saja memandang wajah ku tanpa henti. Aku merasa seakan mereka ingin mengintrogasi ku karena sebuah kesalahan berat.


" Yuk ah hari ini mau lanjut kemana kak? Udah siang siang aja nih. " Tanya ku lagi sebelum mereka benar-benar akan mengintrogasiku.


Jam menunjukkan pukul 2 siang,


" Gimana kalau kita ke mall aja yuk, kita kupas habis game yang ada disana. Ayo Fanny, masih jago seperti dulu gak ya ngelawan kakak? Hahaha."


Ucap kak Rendy.


" Good Idea. Hmm.. Kakak mulai ngeremehin Fanny ya, yuk cuss. " Jawab ku semangat.


Kevin hanya mengangguk menurut, meski aku tau dari ekspresinya terlihat banyak menyimpan beberapa pertanyaan untukku.


Dalam perjalanan aku terdiam mendengarkan musik yang di putar oleh kak Rendy di dalam mobil, sementara Kevin juga terdiam menikmatinya.


Hening...


Tiba-tiba baru ku sadari dengan lagu yang sudah terdengar daritadi.


Lagu ini di bawakan oleh Terry yang berjudul Kau harusnya memilih aku.


Tiba di part ini, entah kenapa aku merasa seperti sengaja menyinggung ku.


Kau ...


Harusnya memilih aku


Yang lebih mampu menyayangimu


Berada di sampingmu


Kau ...


Harusnya memilih aku


Tinggalkan dia, lupakan dia

__ADS_1


Datanglah kepadaku


Brengsek !!!


Mendengar bait ini membuat hati ku seperti luka yang tersiram air garam. Perih kelewat batas sampai sesak ku rasa.


Oh Tuhan, bagaimana nasib hubungan ku dengan Ammar setelah ini?


Kau masih saja memintaku menyadari kesalahan ku lalu meminta maaf padamu Ammar, aku kecewa pada mu.


Tanpa sadar aku terisak tangis di kursi belakang, seketika Kevin menoleh pada ku. Dan Kak Rendy melirik ku dari arah kaca kecil yang menggantung di atasnya.


" Hahaha.. Lagu ini apa sebegitu bagusnya sampai kau menangis terharu begitu Fan?" Ucap kak Rendy menertawaiku.


Kevin menyela dengan isyarat agar kak Rendy tidak meledekku dulu. Kemudian hening kembali di dalam mobil kami terdiam tanpa suara.


Aku mulai tenggelam dengan isakan tangis ku, aku memang bodoh meski Ammar selalu berulang kali membuatku menangis dengan rasa sakit, tapi aku tetap tidak bisa berhenti mencintainya.


Entah apa yng special darinya, sehingga membuatku tergila-gila.


Bathin ku terus bergumam, hingga tanpa sadar kami sudah tiba di sebuah mall besar tempat ku dan Ammar pernah berkunjung kemari.


Rasa sedih, rasa sakit, rasa kesal, rasa marah dan semua perasaan galau ku tadi hilang begitu saja. Ketika kak Rendy mengajak ku duel dengan salah satu game tersulit di mall ini.


Aku berteriak penuh semangat seolah aku benar berada dalam suatu peperangan. Kevin yang juga ikut bermain bersama kami mulai teriak seru.


Sesekali Kevin yang mengajakku duel, bergantian dengan kak Rendy.


Aku dan kak Rendy kembali duel dalam satu permainan, sementara Kevin hilang entah kemana.


Aku tak peduli.


Sedang asyik dan semangat-semangat ku melawan permainan game kak Rendy, Kevin hadir di tengah keseruan kami dengan sebuah boneka Cony berwarna putih sangat super besar.


Aku terkejut dan senang bukan main melihatnya. Hingga tanpa sadar aku kalah dari permainan game melawan kak Rendy.


" YESSS !!! Fanny kalah, wekkk.. " Ledek kak Rendy.


Aku tak peduli, pandangan ku hanya fokus tertuju pada boneka Cony super besar yang di peluk oleh Kevin.


" Hmm... Mulai deh mulai kalo liat beginian aja, hmm.. " ucap kak rendy meledek ku lagi.


" Aah kak Kevin. Lucu banget, ini buat Fanny kan? " Tanya ku manja dengan percaya diri.


" Ih enak aja, siapa bilang buat Fanny. Ini buat kak Kevin balik ke luar negeri." Jawab nya memalingkan wajah.


" Hahaha kasihan deh. Hahaa nah loh nah loh bakal nangis lagi deh entaran.. " Kak Rendy kembali meledek ku dengan tawa lepas.


Aku terdiam. Mengatupkan kedua bibirku kemudian menatap tajam wajah Kevin dengan wajah manyun.

__ADS_1


" Ampun-ampun, hahaha iya iya. Ini buat tuan puteri Fanny, sengaja kakak pilih boneka ini sesuai dengan karakter Fanny yang selalu ceria, nih jangan sedih-sedih lagi ya bawel." Ucap Kevin sembari menyodorkan boneka yang di peluknya pada ku.


" Houph !!! Uuugh berat banget kak Kevin, yeay.. Makasih banget, kakak baik. " Ucap ku sembari terengah-engah memeluk boneka dari Kevin lalu menciumnya.


" Cuma baik aja nih, gak ada yang lain?" tanya kevin lagi.


" Huh... Jangan ngarep lu Vin, modus aje lu. Hahaha.. " Ucap kak Rendy yang kemudian merangkul leher Kevin lalu mereka kembali saling bergulat-gulatan layaknya anak kecil.


Aku tertawa riang melihat mereka.


Paling tidak, aku bisa melepas sejenak rasa sakitku pada Ammar.


***************♡-♡**************


Tiba sore hari, kami sudah cukup lelah sambil menyeruput minuman dingin di tangan kami masing-masing. Kami berjalan keliling sebentar.


Kemudian memutus kan untuk melanjutkan pergi ke suatu tempat mengikuti ajakan kak Rendy yang ntah kemana.


Selama di perjalanan kak Rendy tidak menjawab tanya ku akan kemana kita pergi setelah ini, dia hanya tersenyum lembut pada ku.


Menyadari jalanan yang kita lewati, sepertinya aku mulai sadar akan kemana tujuan kita.


Tiba di lokasi, kak Rendy bertanya pada ku.


" Apa kau masih ingat tempat ini Fanny? Hayo.. Masih ingat gak? "


Aku mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca menanggapinya.


" Ini adalah tempat kita dulu biasa meluapkan rasa beban, amarah, sakit dan kekesalan kita ketika kau masih SMP dulu. Hahaha, kau selalu mengajakku kesini setiap kali kau sedang marah pada om dan tante, begitu juga sebaliknya dengan ku. Dan terakhir kau mengajakku kemari karena rasa sakit hatimu putus dari orang yang kau cintai di masa SMA saat itu."


Aku mulai meneteskan air mata mengingat semua yang di ucapkan kak Rendy pada ku. Betapa sangat lama aku tidak lagi pernah mengunjungi tempat ini.


Suasana pantai yang cukup sepi, dimana hanya terdengar suara desiran ombak besar menerpa bebatuan karang besar di tengah laut, dengan pasir putih halus terbentang luas menyusuri pinggiran pantai.


Ku hirup udara sore hari ini, dengan aroma pantai yang sedikit bau anyir namun tak sedikitpun membuat kami merasa mual. Seolah mereka menyambut kedatangan kami dengan hangat dan gembira.


Ku melangkah menuju pesisir pantai dan berdiri diatas butiran-butiran pasir halus diatasnya. Aku kembali membayangkan dahulu selalu menjadikan tempat ini persembunyian ku dengan kak Rendy untuk melepas segala ada dan penat kami.


Dan di tempat ini masih terdeteksi sedikit sinyal. Jadi tak perlu takut untuk tidak bisa menerima panggilan andai saja ada yang tersesat disini.


" Indah ya, sangat tenang dan damai tempat ini."


Aku membuka mata ku seketika mendengar suara Kevin yang sudah berdiri di samping ku.


" Eh mana kak Rendy? " Tanya ku gelagapan melihat sekeliling.


" Balik ke mobil lagi tuh, ponselnya ketinggalan. Katanya juga mau ambil beberapa cemilan serta minuman yang di belinya tadi di mall. Wah kayaknya bakal piknik ya kita disini, niat banget dia tuh. Hahahaha." Jawab Kevin tertawa.


Bukan begitu Kevin.. Tapi sepertinya kak Rendy sengaja mengajakku mengunjungi lagi tempat ini, karena hanya disini aju bisa meluapkan segala beban pikiran ku.

__ADS_1


Aku tau, kak Rendy sengaja pura-pura tidak tau bahwa aku sedang dalam mode hati yang tidak karuan.


Sahutku dalam hati.


__ADS_2