
Se tiba di toko perhiasan, sungguh Ammar begitu royal memilihkan ku sebuah cincin couple dengannya yang bagiku. . . sangat keterlaluan. Tanpa berpikir panjang dia memilih yang dia pikir sangat cocok untuk ku dan dia.
Bahkan. . . Ammar langsung mengajak ku ke sebuah toko khusus pakaian wanita yang sangat mewah. Dia memilah milih gaun yang pantas untuk ku di hari pertunangan nanti.
Usai memilih sebuah gaun dia kembali mengajakku di pertokoan sepatu khusus wanita. Dia memilihkan ku sebuah hight hell menawan senada dengan gaun yang ia belikan tadi.
" A. . . Ammar, ini sudah lebih dari cukup. Aku masih ada hight hell yang baru saja ku pakai sekali. Aku kurang begitu suka memakai hal yang beginian " Ucap ku dengan lirih.
" Sayang, aku ingin kau tampil cantik di depan semua para tamu undangan nantinya. Ayo lah. . . semua ini untuk mu " Jawab nya dengan tersenyum manis pada ku.
Aku hanya menghela nafas panjang menanggapinya.
Hah. . . rasanya sudah sangat letih berkeliling selama tanpa di sadari sudah dua jam lamanya.
Lalu kami bergegas pulang, setelah merasa puas dan lengkap dengan semua perlengkapan untuk hari pertunangan kami.
" Ammar, bagaimana kau bisa cuek begitu saat bertemu Nayla tadi??? kasian tau. . . hihihi " Aku memulai pembicaraan di tengah jalan dengan meledeknya.
" Huhhhft. . . apa itu penting di bahas saat perasaan ku bahagia begini Fanny??? "
" Ih aku kan cuma nanya aja, secara. . . dulu kau sempat menggilainya "
" Hanya ter-go-da sa-ja, mengerti sayang??? " ucap Ammar sedikit kesal.
" Ya ya ya baik lah, saat hari pertunangan kita nanti apakah dia masih berani untuk datang??? menurut mu bagaimana Ammar??? " Tanya ku memaksa.
" Entah lah. Lagian gak penting juga sih " Jawab nya dengan cetus.
" Ih aku kan cuma penasaran. . . saat ku lihat pandangan Nayla tadi sepertinya dia masih sangat menyukaimu "
" Bukan urusan ku lagi sayang " jawab nya singkat.
" Bagaimana jika kita taruhan. Hahaha sepertinya menarik " Tanya ku lagi.
Entah apa yang ku pikirkan ini, aku begitu menantang Ammar soal Nayla. Mungkin karena rasa benci ku kembali mencuat dalam hati dan otak ku.
" Apaan sih yank, malah ngajakin taruhan segala. Kita udah mau tunangan loh. . . ini bukan main-main lagi " Jawab Ammar dengan nada marah.
" Ih maksud aku, saat hari pertunangan kita apakah Nayla berani datang atau tidak. Aku yakin dia bakal datang untuk bisa melihatmu lagi "
" Lalu bagaimana jika tidak??? dan aku jadi pemenangnya??? apa hadiahnya??? "
" Kau terlalu percaya diri Ammar. Aku rasa dia akan hadir, jika aku menang kau harus memberikan hadiah yang sangat sangat beda dari yang lainnya yang akan mampu ku kenang seumur hidup ku jika melihatnya ".
" Oh ya, lalu jika aku menang??? " Tantang Ammar.
" Kau bisa meminta apapun dan lakukan sesuka mu Ammar, hehe "
__ADS_1
" Sungguh??? aku akan menantinya, dan pasti aku akan menang. Janji ya? "
" Jangan Ge eR dulu. . . kita belum tau siapa yang akan jadi pemenangnya nanti " Jawab ku menantang.
**********♡-♡*********
Malam pertunangan. . .
Hari yang dinanti-nantikan tiba. Aku masih berdiam diri di kamar, Aku sangat gugup. Ku pandangi riasan wajah ku di depan cermin, dengan bibir sedikit gemetar.
Bathin ku berbicara. . .
Setelah ini. . . aku. . . akan jadi milik Ammar sepenuhnya, cintaku yang dulu pernah ada untuknya begitu besar, tidak akan pernah lagi sia-sia bukan??? Dan tentunya aku berhak atas diri Ammar, begitu juga sebaliknya. Tapi kenapa aku masih gugup begini? seakan tak percaya bahwa Ammar kini akan menjadi tunangan ku. . .
Tok tok tok.
Suara pintu mengagetkan ku, aduh bagaimana ini. . . siapa yang mengetuk pintu kamar ku???
" Sayang, apa kau sudah siap??? Boleh bunda masuk??? "
" Iya. . . masuk aja bunda, gak di kunci " Ucap ku setengah teriak.
Hah. . . aku semakin gugup.
Aku hanya tersenyum dengan wajah tersipu malu.
" Sayang, ayah dan bunda bahagiaaaa banget akhirnya kamu dan Ammar akan bertunangan juga. Bunda udah lama menantinya, selalu meminta pada tuhan yang maha kuasa. Kalian bisa di pertemukan kembali meski dengan cara berteman dulu kemudian akhirnya. . . " Ibu menghentikan ucapannya, dia menatap wajah ku dengan lekat kemudian mengalir air matanya di pipi.
" Bunda. . . jangan sedih gitu dong. . . Fanny gak mau liat bunda menangis "
" Ini tangisan bahagia sayang, karena kini sudah setengah dari tugas bunda dan ayah mu sebagai orang tua sudah berhasil kami jalani. Semoga kalian memang berjodoh nantinya "
" Bunda. . . fanny gak mau cepet-cepet nikah. Fanny masih mau kumpul bersama ayah dan bunda, Fanny masih pengen di manja sama bunda pokonya Fanny gak mau pisah sama kalian " Ucap ku dengan air mata yang tertahan.
" cup cup cup. . . jangan ikut nangis dong nanti tidak cantik lagi ini wajah. sayang, dengarkan bunda sebentar. . . Setiap anak yang bergelar wanita, mau gak mau dia akan tetap terpisah dengan orang tuanya saat sudah menikah. Dia harus ikut kemana pun dan dimanapun suaminya tinggal, dia hanya boleh menjadi mikik suami seutuhnya begitu juga dengan Fanny nantinya " Ucapan ibu sembari memelukku dengan lembut membuat dada ku sesak. ada rasa menyesal kenapa aku harus terlahir sebagai seorang wanita.
Aku tidak ingin berpisah dengan mereka, orang tua yang selalu mampu menyayangi dan mengasihiku penuh rasa manja.
" Ya sudah yuk turun, semua sudah menunggumu di bawah. Ammar dan mama nya sudah menantimu beberapa menit yang lalu "
" Eh benarkah mereka sudah tiba disini bunda??? Lalu. . . papa Ammar, apa. . . juga ikut??? " Tanya ku dengan sedikit takut, takut jika feeling ku benar.
" Mmh. . . kata mama Ammar sih, papa nya ke luar negeri hingga seminggu kedepan. Ada urusan mendadak "
Jleb !!!
__ADS_1
Pas sekali jawaban ini sesuai dugaan ku, aku tau dari awal om Haris memang tidak menginginkan ku untuk jadi kekasih Ammar.
Lalu. . . setelah ini bagaimana aku akan menghadapinya nanti???
" Sayang, ayo. . . "
Ibu menuntun ku berjalan menggandeng lengan ku menuruni tiap satu persatu anak tangga.
Ku lihat semua sudah berkumpul dengan wajah bahagia melihat ke arah ku. Tak banyak undangan yang datang, hanya keluarga dekat kami dan beberapa rekan kerja ayah serta teman-teman arisan ibu diluar sana.
Ammar memandang ku dengan ekspresi yang sangat lucu, mulutnya berbentuk O dan tanpa sedikitpun matanya berkedip.
" Oh tuhan, lihat. . . mama memang tidak salah memilih menantu, dia sangat cantik jelita Ammar "
Tante lina menyambutku dengan pelukan dan mencium kedua pipi ku kanan dan kiri bergantian. Aku tersipu malu dengan pujiannya itu. . .
Ammar pun menghampiri ku dan berbisik. . .
" Kau seperti bidadari malam ini sayang "
Aku mencubit pinggangnya. Sontak semua menoleh ke arah kami dan meledeknya, mendengar teriakan Ammar yang merasakan cubitan gemas ku.
Selanjutnya bertukar cincin dimulai. Sungguh aku tidak bisa lagi menjabarkan segala kebahagiaan malam ini. . . meski, kecewa ku tetap menghantui. Saat menyadari Om haris yang ku rasa memamg sengaja tidak menghadiri acara pertunangan ku dengan Ammar.
" Sayang, aku mencintaimu " bisik Ammar dengan menggenggam tangan ku mesra.
" Aku juga, Ammar " dengan senyuman aku menanggapinya. Ammar mengedipkan matanya dan sedikit *** tangan ku.
Acara masih berlangsung, aku dan Ammar menghampiri beberapa tamu undangan kerabat dekat, banyak ucapan selamat dan doa-doa baik dari mereka semua.
Aku mulai lelah berdiri saja berkeliling dengan hight heel yang ku kenakan.
Aku duduk sejenak di sebuah kursi sembari memijat betisku.
" sayang, apa kau lelah??? "
" Sedikit, height heel ini sangat tinggi bagi ku " Ucap ku pada Ammar.
Ammar dengan sigap duduk di hadapan ku dan memijat-mijat betis ku.
Aku sedikit terkejut, namun. . . ah. . . enak sekali rasanya, dan anehnya. . . makin lama ku rasakan sentuhan Ammar yang memijat betis ku membuatku sedikit terangsang sehingga nyaris seluruh bulu-bulus halus betis ku berdiri.
Ammar menyadari hal itu seketika tertawa geli menatapku, aku memalingkan wajah ku dan menarik betis ku dari tangannya.
" Ehhem, sepertinya Nayla tidak hadir ya??? Wah ada yang siap-siap nih aku kerjai " Ucap Ammar dengan tersenyum genit pada ku.
Ah sial, ku pikir Nayla akan berantusias untuk datang ke acara pertunangan ini hanya demi untuk melihat Ammar lagi. Ternyata. . . huh, gila juga gak sih aku mengharapnya. Cari mati dong namanya. . . harusnya bersyukur kan, acara ini jadi lancar tanpa iming-iming bayangannya lagi. Tapi aku jadi kalah dari taruhan yang ku buat sendiri. . . uuugh. . . !!!
__ADS_1