BUDAK CINTA

BUDAK CINTA
Sembilan puluh satu


__ADS_3

Sudah dua bulan lamanya, aku dan Ammar hanya berhubungan melalui panggilan telepon dan pesan singkat saja. Yang bahkan, sudah mulai berkurang. . . mungkin karena Ammar begitu sibuk. Tak apa, sesekali aku tetap mengirim pesan singkat padanya. Memberinya waktu dan kesempatan untuk lebih semangat dan serius dalam kegiatannya, aku juga ingin melihatnya sukses nantinya.


Tapi jujur, perasaan takut terkadang masih selalu merayuku untuk berpikir negatif ketika Ammar mengabaikan panggilan telepon ku bahkan membaca pesan ku saja butuh waktu berhari-hari. Aku tak ingin lemah pada rasa takut ku itu. . . aku menepisnya dengan banyak hal kekonyolan yang ku lakukan.


Kegiatan mengajarku dan hobby ku yang mulai suka membaca, tidak jua berhasil membantuku untuk berhenti berpikiran negatif pada Ammar.


Aku mulai kebingungan, apa yang harus ku lakukan untuk meredam semua amarah dan pikiran yang selalu mengusik ku ini??? Aku sangat merindukan Ammar, merindukan suara nya, merindukan tatapan matanya, aroma tubuhnya, dan. . . segala sentuhan nya.


Ku coba menelpon Dini untuk mengajaknya nongkrong di Kafe. Tapi Dini sedang sibuk hingga menolak ku begitu saja, aaaarght. . . ku hempaskan tubuhku diatas kasur. Semakin gila rasanya, jika aku harus terus menerus menahan semua ini sendiri. Rasanya ingin memaki Ammar saja, sesibuk itu kah dia sehingga mengabaikan ku begini? tapi aku takut jika memaksakan diri akan mengganggu nya.


Hah, sudah lah. Lebih baik aku keluar saja, untuk menghibur diriku sendiri.


Ku pesan sebuah taxi dahulu untuk mengantarku pergi, lalu ku bergegas merapikan diri dengan polesan sedikit di wajah ku dan pakaian simpel hari ini kemudian turun ke bawah untuk menunggu taxi tiba.


Tujuan sore ini, ialah sebuah taman. Sepertinya akan cukup menghibur ku, setelah tiba di sebuah taman. Ku lihat banyak sekali sekumpulan orang berlalu lalang disini. Hampir semua berpasangan, sesekali ku lihat ada yang sedang asyik bercumbu mesra dan bersenda gurau dengan pasangannya.


Ah. . . membuatku semakin rindu dengan Ammar. Aku terus berjalan santai melihat sekeliling, kanan dan kiri. . . hingga terdengar suara yang tidak asing di telinga dari arah depan yang menghentikan langkah ku.


" Hey, Fanny. . . kau disini juga??? "


Yah. . . betapa terkejutnya aku, ketika melihat sosok lelaki yang menyapaku adalah Tristan beserta tiga orang lelaki di samping nya melihatku dengan senyuman genit.


" Oh hai, Tristan. Kau. . . ehm, iya aku sedang jalan-jalan sore " Jawab ku dengan kikuk, sesekali tatapan ku melihat ke arah lelaki yang sedang bersama Tristan.


" Sendirian aja??? Tunangan mu??? " Tanya Tristan kemudian.


" Mmh. . . dia masih sibuk dengan kegiatan KKN nya, sedang apa kau disini??? "

__ADS_1


" Oh aku ada sedikit kerjaan tadi dan sekalian jalan-jalan sebentar menghilangkan penat ku " Ucap nya dengan senyuman ramah.


" Eh iya kenalin, ini teman-teman kerja ku " Ucap nya lagi.


" Halo. . . aku. . . Fanny " jawab ku memperkenalkan diri.


" Hai, aku Ega. Halo, aku Tomy, Hai cewek aku Gilang " Sapa mereka memperkenalkan diri bergantian.


Aku tersenyum kemudian sembari sedikit menundukkan wajah tanda menerima perkenalan mereka dengan senang hati.


Lalu ku lihat Tristan seolah memberikan kode pada yang lainnya untuk pergi meninggalkan Tristan sendiri di hadapan ku. Karena setelah itu mereka langsung berpamitan untul pergi lebih dulu.


Aku mulai canggung, karena kini hanya tinggal Tristan saja sendirian berdiri di hadapan ku dengan sikap salah tingkah.


" Ah eh. . . emh. . . bo. . . leh kan aku . . . menemani. . .mu. . . Fanny??? " ucap nya dengan suara gagap. Membuatku tertawa. . .


" Hahaha apaan sih, jadi gagap gitu. Biasa aja dong "


" Haha. . . gapapa, santai aja. Kali ini ku ijinkan, kebetulan memang lagi suntuk dan ku butuh teman. Dini sedang sibuk jadi terpaksa aku sendirian deh " Jelas ku.


Kemudian aku melangkah kembali berjalan melewati Tristan yang masih berdiri di hadapan ku dengan kikuk, aku hendak menuju sebuah kursi kosong di depan ku. Lalu Tristan melangkah pelan mengikuti dari belakang ku. . .


Tanpa sadar kami terduduk bersamaan, kami saling memandang karena ini sungguh mengejutkan. Spontan aku sedikit menjauh dari nya beberapa jengkal tangan saja.


" Ehm, maaf fan " Ucap Tristan.


Aku hanya tersenyum menanggapinnya tanpa kata.

__ADS_1


" Apa kau sudah lama bertunangan Fan??? Eh maaf sebelumnya " Ucap nya dengan ragu.


" mmh. . . cukup lama bagi ku, sekitar 3 tahun lebih lah. Ada apa??? "


" Wow, pasti kalian pasangan yang saling mencintai. Lalu kenapa tidak menikah saja jika sudah selama itu??? " tanya nya kemudian yanh membuatku menoleh ke arahnya seketika.


" Apa kau mulai ingin tau banyak hal tentang ku hah??? " Tanya ku dengan tatapan tajam.


" Eh tidak tidak. . . aku. . . aku hanya, sekedar bertanya saja. Maaf, aku tidak akan bertanya lagi "


" Hahaha astaga tuhan, kau ini. Kenapa kau selalu ketakutan begitu setiap kali aku melempar tanya balik padamu Tristan??? apa aku sungguh menyeramkan??? "


" Ah tidak, bukan begitu Fanny. Aku hanya. . . takut kau akan risih jika aku terlalu banyak bertanya hal tentang mu "


" Apa kau sudah punya pacara Tristan??? " Kali ini aku yang mulai penasaran dengan nya. Kenapa setiap kali aku bertemu dengannya, dia selalu bersama teman-teman lelakinya. Haha, tidak mungkin kan dia itu Gay. . .


" Aku. . . aku masih tidak ingin berpacaran dengan seorang wanita Fan " Jawab nya dengan tegas.


" kenapa begitu??? wah. . . jangan-jangan. . . kau. . . apa kau seorang Gay??? "


" Hey, kau sungguh menghinaku. apa aku terlihat demikian??? aku laki-laki normal tau " Jawab nya dengan nada kesal.


" Hahahaa sory, aku hanya bercanda. Lagian kau bilang tidak ingin berpacaran dengan seorang wanita kan. . . jadi ku pikir kau hanya menyukai seorang lelaki saja " Kali ini aku sungguh tertawa lepas.


" Haha, astaga. Ternyata kau ini humoris juga ya, tunangan mu pasti selalu bahagia bila bersama mu " Mendengar ucapannya itu, membuatku menghentikan tawa ku. Entah ini pujian atau rayuan. . . aku hanya mulai takut dia akan salah paham.


" Apa kau sungguh menilaiku wanita yang judes dan galak??? Itu bukan sikap ku. Hanya saja, aku menjaga sikap untuk menghindari berbagai kesalahpahaman nantinya. Walau tunangan ku jauh, tapi paling tidak aku menjaga diri juga tidak salah kan??? "

__ADS_1


" Wah. . . kau sungguh wanita yang sangat setia dan ternyata kau juga bisa banyak bicara ya, hehe. Pasti berjauhan dengan mu membuat tunangan mu selalu rindu ingin berjumpa dengan mu. btw, makasih sudah mengijinkan ku menemanimu sore ini. dan yang terpenting saat ini, kau tidak lagi cuek dan galak padaku "


Entah kenapa, mendengar ucapan nya itu. . . membuatku kembali berekspresi murung. Sesak di dada, karena nyatanya. . . ammar masih belum mengabariku lagi belakangan ini.


__ADS_2