
Sudah seminggu berlalu semenjak kepergian ayah meninggalkan ku dan ibu untuk selamanya. Tadinya ku harap semua hanyalah mimpi buruk ku. Tapi. . . mungkin ini sudah jadi bagian dari skenario yang Tuhan tulis untuk ku. Melihat ayah yang terbujur kaku untuk terakhir kalinya menuju peristirahatan terakhirnya, sungguh hati ku bagai di rajam besi panas. Tidak ingin rasanya ku biarkan tubuh beliau tertimbun dalam gundukan tanah.
Aku, sebagai anak tunggal harus tetap tegar dan kuat menjalani kehidupan ku selanjutnya menjaga ibu selalu di sisi ku walau aku terlahir sebagai wanita tak berarti aku akan melemah.
" Bunda, ayo makan dulu. Seminggu ini bunda hanya beberapa kali saja mencicipi makanan yang terbilang sangat sedikit. itu pun harus di paksa. Ayo lah bunda. . . nanti bunda makin sakit ". Ucap ku memohon pada bunda, membujuknya untuk mau ku suapi makan.
" Nak, kenapa Tuhan tidak memanggil bunda untuk menemani ayah mu di sisi-Nya. Bagaimana mungkin ayah mu akan tenang berada disana sendirian tanpa bunda. . . bagaimana. . . bagaimanaaaaaa??? "
Kembali ibu terisak tangis begitu histeris, aku memeluknya dengan linangan air mata. Aku tak kuasa menahan pilu melihat ibu ku saat ini Tuhan. . . Bagaimana setelah ini aku akan melewati ini semua dengan beliau. . . apakah aku mampu???
Di tengah tangisan pilu ku memeluk ibu, Kevin dengan tiba-tiba memasuki kamar tempat ku dan ibu berada. Dengan perlahan dia duduk di hadapan kami, aku tidak berani menatap wajah nya. Aku tau mungkin dia sedikit kecewa karena aku lagi dan lagi menunda proses pernikahan kami.
Ya, tak adil rasanya. Tapi bagaimana mungkin aku akan melakukan pernikahan dengan Kevin sedang hati dan pikiran ku sangat terpukul atas meninggalnya ayah dalam kecelakaan itu, dan ibu ku. . . dia hanya akan berbicara bila aku yang berada di sisinya. Setiap detik ibu selalu menangis tanpa henti, tubuh nya yang semula berisi dan tampak sehat kini bagaikan. . . ah, tak mampu lagi ku ungkap kondisi ibu ku saat ini.
" Fanny, kau sudah makan??? " Tanya nya dengan lembut.
" Aku belum lapar. Aku hanya ingin bunda yang banyak makan dan kembali normal seperti biasanya "
" Fanny, nanti kau sakit. Bagaimana tante akan sehat kembali jika kau saja demikian, makan dulu ya sedikit. aku akan ambilkan ". Ucap nya sembari berdiri hendak keluar kamar lagi.
Ku lirik ibu sudah tertidur kembali di pelukan ku. perlahan aku menidurkannya dan menyusul Kevin dengan cepat ku tarik tangannya untuk berhenti dan menoleh ku seketika.
" Kevin. . . aku masih sangat kenyang " Jawab ku lagi meyakinkannya.
Dia tersenyum menyentuh pipi kanan ku.
" Fanny, mari ikut lah bersama ku tinggal di luar negeri. Kita menikah disana dan memulai kehidupan yang baru, agar kau dan ibu mu tidak lagi merasakan keterpurukan dengan semua kenangan pahit disini. Dan aku yakin setelah ibu mu tidak lagi tinggal disini dia akan kembali sehat dan normal menjalani kehidupannya setelah kita tinggal di suasana yang baru ". Ucap Kevin tiba-tiba pada ku.
Entah kenapa, ucapannya kali ini menimbulkan kekecewaan di hati ku. Apakah dia pikir segampang itu???
" Vin. . . apa kau masih mencintaiku??? "
" Tentu. Aku masih sangat mencintaimu dan akan selalu mencintaimu " ucap nya dengan tegas.
" Maka mengertilah dan pahami posisi ku saat ini, dan. . . maafkan aku jika kita hatus terpaksa membatalkan semua nya karena yang aku pikirkan saat ini hanyalah. . . ibu. Aku ingin beliau tetap kuat menghadapi ini semuanya dengan ku "
__ADS_1
Kevin terdiam dengan wajah penuh kekecewaan. Aku tau dia berniat membantu dan memberikan kehidupan yang baru untuk ku dan ibu, tapi. . . aku sungguh tidak lagi memikirkan bagaimana hubungan ku dan Kevin akan berlanjut setelah ini. Apa lagi, semenjak ayah ku meninggal, mama nya semakin menjauhi ku. Tak pernah sekalipun ada di sisi ku untuk menguatkan ku, hanya om iqbal seorang. Papa Kevin, yang selalu diam-diam menghampiriku sesekali memberikan suport dan nasehat-nasehat mendukung.
***************♥♥♥**************
Dan sejak saat itu, Kevin jarang menemuiku. aku tidak tau apa alasannya.
Kau tau. . . semenjak meninggalnya ayah, aku memutuskan untuk berhenti mengajar. Kenapa??? Selain aku tidak bisa fokus dalam mengajar serta mendidik para siswa dan siswi ku di sekolah, aku juga tidak bisa meninggalkan ibu sendirian. Bahkan kuliah ku. . . aku yakin, kegagalan akan melanda ku karena aku tidak bisa lagi mengikuti kegiatan di ujung akhir menuju kelulusan ku sebagai sarjana yang aku impi-impikan.
Hari berganti hari aku semakin merasakan waktu yang ku lalui semakin berat. Semua serasa membathin, belum lagi dengan gosip para tetangga yang berpikir mungkin aku tidak di takdirkan mendapat jodoh. Karena sudah dua kali selalu gagal dalam rencana menikah. Haha. . . terkadang aku menertawai diriku sendiri. Kehidupan yang begitu rumit dan dramatis.
Aku hanya melewati hari-hari ku dengan terus berada di dalam rumah saja. Terkadang kak Rendy beserta istrinya datang menjenguk dan menghibur ku dan ibu, terkadang pun mama papa kak Rendy juga datang menemani kami hingga larut malam.
Perlahan ibu sudah mulai bisa diajak berbicara sesekali meski setiap waktu nya dia lebih mengurung diri dan menangis tanpa henti. Terkadang ibu juga berubah jadi sensitif, pemarah, mudah mengamuk dan teriak dengan isakan tangis. Aku yang terkadang hanya sendiri menemaninya sudah bukan hal yang mengejutkan lagi meski beberapa kali ibu pernah bersikap kasar pada ku.
" Fanny ", aku terbangun dari lamunan ku ketika mendengar seseorang memanggilku.
" Kevin. . . "
" Maafkan aku, baru bisa menjenguk mu hari ini. Aku. . . bisakah kita berbicara sebentar??? "
" Fanny, aku. . . akan kembali ke luar negeri bersama orang tua ku besok ".
Degh !!!
Apakah dia akan kembali untuk menetap selamanya disana??? lalu bagaimana dengan hubungan kami???
" Aa. . .apa ada. . . hal penting yang harus kau lakukan di luar negeri??? " Tanya ku dengan bibir gemetar.
Dia menatap ku dengan mata berkaca-kaca, dan perlahan menundukkan wajahnya dengan menggelengkan kepala nya. Aku yang melihat sikap nya ini membuatku semakin takut.
" Aku mengakhiri masa kontrak ku di indonesia yang hanya tinggal dua bulan lagi, tapi aku memutuskannya lebih dulu. Dan. . . aku, akan memberikan mu waktu untuk berpikir serta menenangkan hati mu sejenak. Maaf jika aku terkesan memaksa mu akan hubungan kita "
" Vin, apa ini berarti kau memutuskan hubungan kita??? " Tanya ku dengan nada tegas. Dan perlahan Kevin menyentuh tangan ku, menggenggamnya dengan erat.
" Fanny. . . aku hanya memberikan mu waktu untuk lebih berpikir tenang, aku tau kau sedang butuh waktu untuk sendiri bersama ibu mu. Kita hanya akan break sejenak, mencoba cari jalan terbaik akan semua ini. Kalaupun Tuhan akan tetap menjadikan cinta kita menyatu dalam sebuah ikatan pernikahan, kau dan aku pasti akan kembali di permudahan dan di pertemukan dengan cepat di waktu yang tepat "
__ADS_1
Mendengar ucapannya ini membuat air mata ku menetes dengan sendirinya, ku hempaskan genggaman tangan nya itu dari ku.
" Aku tau kau hanya tidak ingin membuatku semakin menyalahkan diriku sendiri, aku tau ini hanya cara mu yang lembut untuk memutuskan hubungan ini kan??? Kau bohong, kau ingkar, kau lupa dengan janji mu Vin. kau bilang akan selalu ada disisi ku kau bilang kau memahami hati dan posisi ku saat ini, tapi kenapa??? kenapa kau malah akan pergi meninggalkan ku??? kenapaaa??? "
Tangisan ku pecah hingga membuat Kevin seketika mendekap tubuh ku dengan sangat erat. Dia pun menangis dengan isakan nya tanpa kata yang dia lontarkan lagi dari bibirnya.
" Maafkan aku Fanny, aku tidak bermaksud meninggalkan mu. Tapi aku juga ingin semua kembaki normal, aku tidak ingin egois memaksakan kehendak ku untuk mengajakmu melanjutkan semua yang sudah kita rencanakan dalam pernikahan "
" Pergi lah. . . pergilah Kevin. Pergi lah, apapun alasan nya aku tidak ingin mendengar nya lagi "
" Fanny, biarkan aku memeluk mu sebentar. ku mohon biarkan aku tetap memeluk mu sebentar ". Ucap Kevin dengan semakin mempererat pelukannya pada ku, aku terus meronta berusaha melepaskan pelukannya.
" Vin, aku mohon. . . " ucapku dengan lirih sehingga membuat Kevin perlahan melepas pelukan nya. Aku tau, dari dulu dia akan mudah melemah ketika aku sudah tidak lagi memberikan perlawanan. Dia tau batas puncak amarah ku sudah mencapai level tertinggi.
" Jangan pernah membenciku, aku tetap mencintaimu Fanny. Tak apa jika aku harus kembali menunggu waktu dan kesempatan dimana kita akan kembali di pertemukan dalam kehidupan yang baru nantinya. Aku harap kau akan tetap menjadi Fanny yang aku kenal dan aku cintai, kapan pun kita akan di pertemukan kembali nantinya meski mungkin tidak dengan perasaan yang sama, ku mohon kau akan tetap menyambut senyuman dan genggaman tangan ku ".
" Kau tau Vin, hatiku semakin sakit mendengar hal itu dari mu dan aku yakin jika jauh di lubuk hatimu saat ini. Kau sudah menyerah untuk tetap bertahan dalam hubungan kita selama ini, jangan memaksakan diri untuk tetap berkata bahwa kau akan selalu mencintai dan menunggu ku. Mari kita jalani saja kehidupan kita masing-masing, tanpa harus saling memaksakan diri untuk tetap menanti dan bertahan dalam hati yang sudah tak mungkin lagi bersama "
" Apa kau membenciku Fanny??? "
" Tidak, tidak sama sekali Kevin. Tapi dari awal aku sudah yakin bahwa ini akan terjadi, kau terlalu baik untuk ku Vin. Kau berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari ku, dan terimakasih dengan semua ketulusan cinta mu selama ini, penantian mu untuk ku meski sia-sia tapi aku bahagia pernah menjadi bagian dari kehidupan cinta mu Vin. Berbahagia lah selalu, jangan lagi mengingat tentang ku "
" Aku tidak akan menyesali ini semua Fanny, setelah semua yang pernah kita lewati, aku bahagia bisa menjadi bagian dari kehidupan mu, terimakasih karena sudah bersedia memberiku ruang dalam hati mu. Aku masih akan tetap berharap suatu hari Tuhan mempertemukan kita kembali, ku harap jangan pernah memutuskan komunikasi dengan ku Fanny kau harus tetap memberikan ku kabar kau harus tetap menjadikan aku orang pertama saat kau membutuhkan teman untuk mengadu dan mengeluh ".
Kevin terus saja memohon dan mengulang ucapan nya dengan kata yang sama. Dengan air mata yang membasahi kedua pipinya, Aku hanya tersenyum menanggapinya.
" Pergilah Kevin " Ucap ku kemudian dengan menunduk.
Kemudian dia berlalu pergi semakin lama semakin hilang dari pandangan ku yang diam-diam menatap punggungnya dari belakang. Tak sedikitpun dia menoleh pada ku. Aku tau, mungkin saat ini dia pun merasakan hal yang sama seperti ku. Menangis pilu menahan sesak dan sakit dari akhir kisah cinta kami.
*Pergilah lelaki terbaik ku, sampai kapan pun kau akan tetap menjadi lelaki terbaik dan tulus yang pernah aku kenal. aku bangga pernah menjadi wanita mu, aku tidak akan pernah menyesali kisah cinta kita ini harus berakhir sia-sia.
Berbahagialah dengan kehidupan baru mu nanti. Bawalah pergi cinta mu yang selalu tulus kau berikan pada ku, selamat tinggal. . . Kevin*. . . !!!
T A M A T
__ADS_1