
Acara seminar segera di mulai, setelah dua mingguan ini cukup menguras banyak keringat dan lelah untuk segala persiapannya.
Aku hampir terjatuh sakit dari saking lelahnya, pagi sibuk ngajar anak-anak di sekolah, yang butuh kesabaran ekstra. Lalu siang sibuk di kampus hingga petang terkadang malah sampai waktu diluar batas demi kelancaran acara ini nantinya.
Acara ini akan berjalan selama dua hari nantinya, sabtu sampai minggu. Dari pagi hingga malam, kebayang kan lelahnya bagaimana nanti.
" Ayo semua siap-siap sebentar lagi para undangan akan tiba. . . panitia penyambutan tolong lebih fokus ya jangan sampai ada yang sibuk ini itu lagi, ingat. . . kita akan kedatangan tamu dari berbagai universitas yang terbaik dari luar kota, jaga attitude kampus kita. Ok. . . " Ucap salah satu senior ketua panitia dari acara ini.
Ntah kenapa aku semakin gelisah dan resah. . . berbeda dengan semua para mahasiswi yang lainnya, yang begitu antusias menanti kehadiran para mahasiswa yang katanya cogan semua itu. Tapi aku tidak tertarik mendengarnya. . .
Tepat jam 8 pagi. . . kami para panitia penyambut tamu sudah berdiri dengan tegak sambutan hangat dan ramah menanti para tamu undangan datang.
Dalam hati selalu ku selipkan doa, meski rasanya tidak mungkin jika Ammar yang mewakili kampusnya untuk datang ke acara ini. . . Haha iya kan. . . tidak mungkin lah. Andaikan jika benar. . . bagaimana aku harus menatap dan menyapanya??? ini sudah 4 bulan lebih sejak aku memutuskan hubungan kami. . .
Ah sudah lah lebih baik aku tetap fokus saja.
Kini para undangan sudah datang memasuki area kampus kami. Tidak sedikit yang hadir, terlihat para mahasiswa dan mahasiswi berjalan dengan berbagai macam gayanya. Seakan semua memang terlihat sedang ingin menarik perhatian satu sama lain termasuk dari para mahasiswa dan mahasiswi dari kampus kami.
Pandangan ku berkeliling melihat-lihat kali aja benar Ammar ada di antara sekian banyaknya tamu undangan ini. Tapi beruntung, nafasku terhempas dengan lega. . . sosok Ammar tak terlihat oleh ku.
Sedang sibuk ku bagikan bingkisan souvenir yang sudah di siapkan oleh kampus, Dini teman ku yang tengah berdiri di samping menyenggol lenganku dan berbisik. . .
" Fanny. . . uuuuh coba sesekali kau tengadahkan wajahmu itu. . . jangan cuek dan menunduk saja. Mereka benar-benar cogan semuaaaaaa. . . aaaaaah aku bingung memilihnya yang mana yang akan aku goda nantinya "
" Hei fokus. ini bukan ajang pencarian jodoh Dini. . . aku gak tertarik sama sekali " Jawab ku.
Sementara Dini terus saja menggodaku dan meledekku, hingga tanpa sadar aku menjatuhkan salah satu souvenir, segera aku mengambilnya lagi dan memberikan pada salah satu tamu undangan yang sudah berdiri di depan ku.
" Terimakasih. . . !!! "
Degh !!! Suara ini. . . Seketika tangan ku gemetar. Aku tidak berani menatap sosok mahasiswa yang kini masih berdiri di hadapan ku.
" Hei, Fanny. . . kau mendapat ucapan terimakasih tuh. . . dari cogaaaaan. . . uuuufh jawab dong, dia masih berdiri disini " Ucap Dini setengah berbisik.
Aku gelagapan, aku masih sangat mengenal suara ini. . . oh tuhan Tidak !!! Kenapa bisa. . . apa, bagaimana, dan. . . kemana. . . bisakah aku berlari dari sini sekarang juga.
Aku bergumam dalam hati dengan sekujur tubuhku terdiam salah tingkah.
" Eeh sama-sama. . . selamat datang di kampus kami cowok ganteng. . . hehe, silahkan masuk " Akhirnya Dini yang menyambut dan menjawab ucapan terimakasih dari nya.
Kemudian tanpa kata mahasiswa itu melangkah pergi begitu saja tanpa satu katapun.
" Cih. . . songong banget sih cogan itu, Dari kampus mana sih, ih gak banget. Padahal kan dia duluan yang mengucapkan kata terimakasih tadi " Ucap Dini menggerutu.
__ADS_1
Aku masih terdiam kaku mencoba menahan segala sesak di dada yang sedaritadi rasanya sudah ingin meledakkan ubun-ubun ku.
Ammar. . . kau. . . benarkah itu kau. . .
Tapi. . . kenapa kau begitu terkesan sedingin dingin Ammar, apakah kau sudah berubah??? Ammar yang ku kenal selalu ramah dan. . . sedikit palyboy kan. . .
" Fanny, ada apa??? Kenapa kau masih memandang punggungnya saja hah??? Dia sudah hilaaang. . . apa kau mengenalnya??? "
Fanny menegur ku, menyadarkanku dari lamunan.
" Eh. . . ti. . . tidak. . . aku. . . mana mungkin mengenalnya??? " Jawab ku glagapan.
" Kenapa gelagapan begitu hayo. . . tapi lebih baik jangan deh, kau tau Fan. . . dia sangat songong. Mengucapkan terimakasih lebih dulu tapi cuek banget tanpa senyuman lagi, aku sudah menjawab ucapan nya tapi dia malah mengabaikanku tadi tanpa menatap pula, Cakep sih emang. . . tapi sinis. ih "
Jawab Dini dengan penjelasan yang membuatku sedikit tidak percaya jika dia. . . Ammar yang ku kenal. . . .
*********************♡-♡********************
Acara dimulai hari pertama sukses. . . semua tampak menikmati acara ingin dengan cukup santai namun tetap fokus.
Dan kini semua para mahasiswa dan mahasiswi undangan sedang berkeliling kampus menikmati jam istrahat dengan hikmat.
Hah. . . sudah bukan suatu hal yang tidak wajar lagi. diantara kami saling menebar pesona saling berkenalan dan memang ada yang sudah saling mengrnal satu sama lain malah ada yang sudah memang sepasang kekasih.
Dan pandangan ku tertuju pada salah satu mahasiswa dari kejauhan saja sudah membuat hatiku kembali berdegub kencang sama seperti dulu ketika aku melihatnya. Ia yang kini tengah berjalan dengan tatapan hangatnya itu, tertuju pada ku.
Oh tidak !!! Jangan kemari. . . ku mohon. . . jangan biarkan Ammar kemari menghampiriku tuhan.
Aku memejamkan mata dengan bibir bergetar. . . seakan rasanya ini jantung akan segera loncat keluar dengan sendirinya.
Pliss Tuhan. . . jangan biarkan Ammar mendekatiku.
Ah bodoh kau Fanny kenapa tidak kabur aja dulu, kampus ini luas kan. . . kamu bisa sembunyi dimana aja. Seakan ide yang mencuat dari otak ku benar-benar ide hebat, aku sudah siap untuk berlari tanpa peduli dengan Dini yang sedaritadi ngoceh aja di sampingku.
Dan. . .
" Fanny, tunggy " Ammar menarik tangan ku dengan gesit menghentikan langkah ku yang sudah melangkah lebih jauh.
Aku gugup dan terkejut ketika Ammar meraih tangan ku. Seketika aku menepisnya dan berbalik menghadapnya di belakangku.
Huft. . . Tenaaaang, tetap tenaaaang ya Fanny, jangan bersikap canggung seolah elu terlihat masih memikirkannya. Bathinku. . .
" Fanny. . . apa kabar mu??? kau. . . lebih kurusan " Sapanya dengan sedikit dingin.
__ADS_1
Ammar. . . nada bicaranya. . . dia. . . sedikit berubah. Tidak lembut lagi seperti dulu yang ku kenal.
" Ba. . . baik, hehe baik kok. Masa sih kurusan, hehe mungkin karena kecapean aja kali " Jawab ku gelagapan sembari menghindari tatapannya, ku coba berpura-pura melihat sekeliling kampus.
" Fan, tidak bisakah kau melihat ke arah ku saja??? Apa kau sudah jijik melihat wajah ku ini Fanny??? "
" Kau. . . apa kabar??? " Tanya ku lagi, masih dengan wajah berpaling. Ku abaikan pertanyaannya barusan. . .
" Fanny. . . Lihat aku??? Apa kau sudah benar-benar muak melihat wajah ku ini??? " Kali ini Ammar dengan nada keras dan lantang.
Membuat ku terkejut menoleh ke wajahnya.
" apa kau gila??? kau lupa sedang dimana ini Ammar??? " Tanya ku dengan kesal. Sedang sekeliling sudah melihat ke arah kami.
" Aku merindukan mu Fanny. . . kau. . . kau keterlaluan menghukumku " Nadanya berubah terdengar sangat pilu.
" Eh. . . yaudah, aku masih ada kesibukan lain. Dan terimakasih sudah mau hadir untuk berbagi dan memberi banyak tambahan pengetahuan di kampus ini. Ya udah ya, aku sibuk " Aku berbalik dan berjalan dengan terburu-buru melangkah untuk menjauhinya.
Aku berjalan terus dengan tergesa-gesa tanpa arah dan tujuan aku harus kemana, yang pasti aku harus menghindarinya dulu.
Dengan sekuat tenaga aku menahan diri agar tidak terbawa suasana, aku berjalan terus berjalan hingga langkahku terhenti karena benar-benar tidak mampu lagi ku melangkah menahan sesak di dada ku.
Hah. . . hah . . . aku terengah-engah menahan sesak di dada ku, berjalan dengan tergesa-gesa tadi membuat ku cukup lelah karena menahan diri untuk tetap biasa saja.
Tersadar aku sudah berdiri di depan pintu ruang perpustakaan. Kebetulan kampus sedang mengadakan acara seminar besar-besaran jadi ruang perpustakaan begitu sepi.
Aku melangkah masuk ke ruangan ini, dan duduk di salah satu kursi di dalamnya.
Masih dengan nafas sedikit terengah-engah aku memejamkan mataku mencoba menenangkan diri.
Oh tuhan. . . kuatkan hati ini, hentikan debaran si jantungku ini. . . untuk apa lagi hah??? bukankah semua sudah berakhir??? Dan ini. . . sudah akan berlangsung 5 bulan aku bersusah payah untuk membangun diri lagi, agar tidak selalu mengingat masa lalu dengan Ammar.
Tapi kenapa. . . kenapa dia muncul kembali di hadapan ku Tuhan??? Aku baru saja hendak menghapus ingatan tentang nya yang selalu menjelma itu.
Tanpa ku sadari air mata ku merembes mengalir membasahi pipi. . . aku masih tetap memejamkan mataku mengingat pertemuan ku dengan Ammar tadi.
Kemudian seseorang menyentuh pipi dan mengusap air mataku yang mengalir dengan deras. . .
Aku terkejut membuka mataku, melihat sosok lelaki yang tengah berdiri di depan ku ini. . .
Oh Astaga tuhan. . . sejak kapan dia mengikutiku hingga kemari. . .???
__ADS_1